Hari Kopi Sedunia: Petani di Kintamani Dilatih Jaga Keberlangsungan Kopi Arabika

Puluhan petani di Kintamani, Bangli, Bali, mendapat pembinaan berupa pelatihan untuk menjaga keberlangsungan pertanian kopi arabika secara berkelanjutan.

Diterbitkan 02 Oktober 2025, 23:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Berada di ketinggian 900 hingga 1.000-an Mdpl, tumbuh subur ratusan pohon yang menghasilkan puluhan ton biji kopi arabika terbaik yang ada di dunia.

Adalah Kopi Kintamani Bali, yang dikenal memiliki cita rasa arabika istimewa: segar, frutty, dan unik. Rahasianya, pohon kopi ditanam secara tumpangsari berdampingan dengan pohon jeruk, yang sekaligus berfungsi sebagai pelindung alami.

Dalam rangka memperingati Hari Kopi Sedunia pada 2 Oktober 2025, ratusan petani di Kintamani, Bangli, Bali, mendapat pembinaan berupa pelatihan untuk menjaga keberlangsungan pertanian kopi arabika secara berkelanjutan.

Untuk menghasilkan sustainability ini, para pakar pertanian dari Universitas Udayana Bali melakukan pembinaan dari hulu hingga hilir, mulai dari para petani, produk hingga ke tangan penikmat kopi. Selama ini, para petani arabika di Kintamani telah berhasil menghasilkan biji kopi unggulan yang dikenal luas.

Menurut I Made Sarjana, selaku Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana, hasil kopi arabika di Kintamani memiliki rasa yang khas, lebih segar, frutty, karena memang menanamnya dengan cara tumpengsari dengan pohon jeruk.

"Tapi tantangannya, bagaimana kita menjaga keberlangsungan atau sustainability dari sebuah pertanian berlanjut. Kalau petaninya tidak diberdayakan, maka akan cepat jadinya bahan baku akan habis,"ujar Sarjana, Kamis (2/9/2025).

 

Jawab Isu Lingkungan

Maka dari itu, banyak hal yang perlu dilakukan, termasuk menjawab isu lingkungan. Saat ini isu yang terjadi di tengah kehidupan pertanian kopi di Kintamani adalah petani memilih segala sesuatu didapatkan dengan instan.

Seperti membasmi rumput liar dengan bulma, padahal pada tahun 2024, hasil pertanian kopi di Bali pernah ditolak produk ekspornya ke Jepang, lantaran kadar residu kimia yang disebabkan pestisida yang melebihi ambang batas negara tersebut.

"Lalu, bagaimana menghalau penyakit pada tanaman kopi. Kami tengah menggencarkan untuk hanya menggunakan bio pestisida atau pestisida nabati, itu bisa mengendalikan hama penyakit," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Karana Global I Kadek Edi menyoroti, kebiasaan petani kopi yang memilih untuk memanen kopi lebih cepat atau pada saat biji kopi masih muda berwarna hijau. "Itu tidak butuh Waktu lama, hanya 3 hingga 4 bulan. Jadi mereka banyak yang masih memilih untuk memanen lebih awal, padahal kopi yang dihasilkan belum matang, tidak keluar aroma kopi khas Indonesianya,"ujar Edi.

Padahal bila cherry kopi tersebut berwarna merah, akan menghasilkan kualitas biji kopi yang lebih premium dengan harga yang lebih tinggi.

"Kualitasnya premium, sudah dikenal dunia sebagai biji arabika yang juara," kata Edi.

 

Program 'Sip for Sustainability'

Kendala-kendala dan pola pikir para petani inilah yang tengah diupayakan diubah sejak beberapa tahun terakhir. Terutama lewat program Sip for Sustainability, yang menyasar petani kopi arabika di Kintamani, Bali, yang merupakan pemasok biji kopi untuk seri unggulan Beans of the Champion.

"Ini menjadi wujud nyata komitmen Kopi Kenangan untuk memperkuat rantai pasok kopi Indonesia dari hulu ke hilir dan mendukung masa depan industri kopi yang lebih berkelanjutan. Sebagai bentuk dukungan finansial, sebagian dari hasil penjualan Beans of the Champion Series dialokasikan untuk program Sip for Sustainability," ujar Inneke Lestari, Senior Vice President Legal and Corporate Affairs Kenangan Brands.

Kopi Kenangan menyadari, besarnya potensi di Kintamani membuat pihaknya fokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi, agar kopi Bali semakin kompetitif di pasar global. Termasuk tengah menyiapkan sertifikasi internasional Range Forest Alliace, agar para petani kopi di Kintamani bisa mengeskpor arabika kesayangannya, ke pasar Eropa.

"Kami memang tidak merasakan dampak secara langsung. Namun Langkah kami ini juga untuk memastikan bila pasokan kami aman dan berkelanjutan," tutur Inneke.

 

Bantuan Alat Produksi

Kopi Kenangan juga memberikan bantuan alat produksi kepada petani binaan Karana Global. Bantuan tersebut berupa mesin sutton, yakni untuk memilah biji kopi berdasarkan berat dan mesin potong rumput.

"Ada lebih dari 30 hektar petani binaan kami yang bisa menikmati bantuan ini. Dukungan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi panen dan memastikan kualitas biji kopi mencapai standar internasional," katanya.

Lalu, ada pelatihan untuk 100 petani dan regenerasi petani muda untuk penggunaan teknologi ramah lingkungan, seperti pemanfaatan mesin potong rumput sebagai solusi pengganti pestisida kimia.

"Sehingga ada regenerasi petani muda, juga ada incubator bisnis, sehingga para petani muda ini akan didampingi secara perkembangan bisnis selama tiga bulan," katanya.