Kampung Jokowi Kekurangan Dapur MBG, Ternyata Ini Penyebabnya

Dari total kebutuhan 40 unit dapur Makan Bergizi Gratis, baru 6 unit yang berhasil dioperasikan.

Diperbarui 04 Agustus 2025, 14:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Solo - Wali Kota Solo Respati Ardi menyebut jumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Solo masih kurang untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari total kebutuhan 40 unit dapur SPPG, baru 6 unit yang berhasil dioperasikan. Artinya, kota kelahiran Presiden ke-7 RI Jokowi dan Wapres RI Gibran Rakabuming Raka itu masih kekurangan 34 unit dapur gizi demi menyukseskan program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Kita yang hari ini menurut data yang kita dapatkan baru 6 unit (SPPG), totalnya seharusnya bisa 40 dapur yang merata di Kota Solo," kata Wali Kota Solo Respati Ardi, usai meresmikan SPPG Laweyan yang dikelola oleh Yayasan Bangun Gizi Nusantara yang dimotori Wong Solo Group di Jalan Dr Wahidin, Penumping, Laweyan, Solo, Senin (4/8/2025).

Respati juga mengatakan, dari jumlah tersebut diharapkan hingga akhir tahun nanti julah dapur untuk MBG di Kota Solo bisa mencapai 20 dapur. Untuk mewujudkan target tersebut, sejumlah pihak dan pengusaha katering diharapkan dapat membantu untuk menambah jumlah dapur SPPG di Solo untuk mewujudkan percepatan program MBG di sekolah-sekolah Solo, lansia hingga ibu hamil di Solo.

"Kita targetkan di akhir tahun, bismillah dengan bantuan dengan seluruh stakeholder, usaha jasa katering dan lainnya bisa target untuk 20 dapur SPPG," harapnya.

Dalam peresmian SPPG Laweyan, Wali Kota Solo sangat mengapresiasi dapur MBG milik Wong Solo Group itu. Selain memiliki kapasitas pengolahan yang cukup besar, dapur tersebut juga dilengkapi dengan peralatan masak hingga pengemasan yang cukup bagus. 

"Intinya tadi kapasitasnya, kapasitas besar dengan SOP yang sangat bagus. Mulai dari dryer dan alat-alatnya yang sudah sangat luar biasa bagus. Ini tentunya menjadi salah satu contoh SPPG yang baik, yang untuk satu dapur bisa lebih dari 3 ribu calon penerima. Lha kalau begini lebih efektif dan eifisien. Semoga ini bisa diduplikasi di tempat-tempat lain yang belum menerima," ucapnya.

 

Kendala Pendirian Dapur MBG di Solo

Sementara itu, Puspo Wardoyo sebagai pendiri Wong Solo Group yang mengelola SPPG Laweyan mengatakan bahwa saat ini baru mengoperasikan dua dapur untuk MBG di Kota Solo. Meski demikian, ia berencana akan menambah jumlah dapur untuk SPPG demi menyukseskan program MBG pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Ini saya di Solo itu dua dapur. Insyaallah kita mau bikin mungkin 8 dapur di Solo," kata Puspo yang juga pemilik Yayasan Bangun Gizi Nusantara.

Sebagai pengusaha kuliner, ia mengaku untuk mendirikan dapur SPPG di Solo terkendala dengan ketersediaan tanah yang luas, padahal Puspo memiliki keinginan untuk membuka SPPG merata di masing-masing kecamatan yang ada di Kota Solo.

"Ya terus (membangun) tapi kan yang susah tanah. Solo kan tanah yang jadi masalah, mahal-mahal kan sehingga banyak yang gak berani investasi ya. Ini kita kan berjuang, berjuang untuk negara kan," katanya.

Puspo sedikit membocorkan untuk membangun dua dapur di SPPG Laweyan menghabiskan modal sebesar Rp5 miliar hingga Rp6 miliar. Menurut dia, pembangunan dapur SPPG tersebut juga menjadi proyek percontohan untuk sejumah daru SPPG yang akan beroperasi di Solo.

"Ya insyaallah (ini jadi pilot project), kita tunjukkan ini bahwa ini yang terbaik, yang jadi contoh yang betul-betul bergizi, yang sehat, higienis," tegasnya.