Dari Timur Filipina ke Laut Selatan Jawa, Siklon 98W Picu Gelombang Tinggi

Bibit Siklon Tropis 98W meningkatkan angin timuran dan gelombang tinggi di laut selatan DIY. Perahu nelayan dan wisatawan diimbau tak beraktivitas di laut demi keselamatan.

OlehHendro
Diperbarui 25 Juli 2025, 20:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gunungkidul Cuaca cerah di atas pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) beberapa hari terakhir memiliki sebuah potensi bahaya tengah mengintai. Di timur Filipina, sebuah bibit Siklon Tropis bernomor 98W kini sedang berkembang di Samudera Pasifik dan mulai memberikan pengaruh terhadap pola cuaca di Indonesia, khususnya di wilayah selatan Pulau Jawa.

Bibit siklon tersebut memperkuat dominasi angin timuran yang saat ini bertiup kencang melintasi perairan Jawa, termasuk wilayah pesisir DIY. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memperingatkan bahwa peningkatan kecepatan angin ini akan berdampak langsung pada tinggi gelombang laut yang meningkat drastis dalam beberapa hari ke depan.

“Kondisi ini tidak bisa dianggap enteng. Kami mencatat gelombang tinggi akan mulai terjadi pada Kamis, 24 Juli 2025 pukul 07.00 WIB dan berlangsung hingga Minggu, 27 Juli 2025 pukul 07.00 WIB,” ujar Slamet Riyadi, prakirawan BMKG Yogyakarta.

Gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter diperkirakan akan menerjang perairan selatan Kulonprogo, Bantul, Gunungkidul, hingga Samudra Hindia bagian selatan DIY. Kondisi ini sangat berbahaya bagi aktivitas pelayaran, khususnya perahu-perahu kecil milik nelayan tradisional yang sehari-hari menggantungkan hidup dari laut.

Slamet menekankan bahwa jika gelombang laut sudah mencapai ketinggian di atas 2,5 meter, maka sangat disarankan bagi nelayan untuk tidak memaksakan diri melaut. Risiko yang dihadapi terlalu besar, apalagi dengan angin kencang yang dapat membuat perahu kehilangan kendali dan terombang-ambing di laut lepas.

Menurutnya, perahu kecil sudah tidak ideal beroperasi jika angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang melebihi 1,25 meter. Untuk kapal tongkang dan kapal ferry, risikonya juga tinggi ketika gelombang dan angin melampaui ambang batas keselamatan.

Tak hanya nelayan, peringatan juga diberikan kepada para wisatawan yang hendak menikmati akhir pekan di pantai selatan DIY. Slamet mengingatkan bahwa ombak besar bisa datang secara tiba-tiba, bahkan ketika kondisi pantai tampak tenang dari kejauhan.

Dalam situasi seperti itu, wisatawan bisa saja terseret arus saat bermain air terlalu dekat dengan bibir pantai. Keselamatan wisatawan menjadi perhatian serius, terutama di tengah lonjakan kunjungan saat akhir pekan dan masa libur sekolah.

BMKG Yogyakarta menegaskan akan terus memantau pergerakan bibit siklon tropis 98W dan memperbarui informasi jika terjadi perubahan signifikan. Masyarakat diminta untuk hanya mengikuti informasi dari sumber resmi seperti situs BMKG, aplikasi Info BMKG, atau akun media sosial resminya.

 “Kami harap seluruh elemen masyarakat, terutama yang berada di wilayah pesisir, benar-benar menyadari bahwa ini situasi serius. Jangan menyepelekan peringatan dini. Lebih baik tidak melaut atau tidak bermain air daripada menyesal kemudian,” tutup Slamet.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh Tim SAR Satlinmas Korwil II Baron yang selama ini bertugas menjaga keselamatan pengunjung di kawasan pantai selatan Gunungkidul. Wilayah ini dikenal memiliki puluhan pantai indah dengan daya tarik batu karang dan pasir putih, namun di balik keindahannya tersimpan potensi bahaya tersembunyi.

Rip Current, Bahaya Tersembunyi di Balik Keindahan Pantai

Menurut Surisdiyanto, Sekretaris SAR Satlinmas Wilayah II Baron, banyak pantai di Gunungkidul memiliki karakteristik dasar laut yang curam dan mudah membentuk rip current atau arus balik. Arus ini merupakan salah satu ancaman paling berbahaya bagi pengunjung, karena bisa menarik orang dari tepi pantai ke tengah laut dalam waktu sangat singkat.

“Rip current sering tidak terlihat dari permukaan, namun memiliki kekuatan luar biasa yang sulit dilawan bahkan oleh perenang berpengalaman,” ungkap Suris.

Selain ombak besar yang bisa menyapu daratan hingga ke area parkir atau tempat pedagang, kekuatan arus balik ini juga menjadi salah satu fokus kewaspadaan tim penyelamat. Banyak pengunjung yang belum memahami keberadaan dan bahaya arus ini, sehingga masih sering bermain air di zona rawan.

Menurut Surisdiyanto, pantai-pantai seperti Baron, Kukup, Krakal, hingga Wediombo dan Pok Tunggal memiliki banyak titik yang berpotensi memunculkan arus balik saat gelombang tinggi melanda. Mengantisipasi lonjakan wisatawan pada akhir pekan,

Tim SAR bersama aparat kepolisian dan dinas terkait telah meningkatkan kesiapsiagaan. Pos pantau disiagakan lebih awal, pengawasan di lapangan ditingkatkan, dan patroli rutin dilakukan untuk memastikan keselamatan pengunjung.

“Petugas SAR, TNI - Polri hingga relawan lokal telah diinstruksikan untuk memperketat penjagaan, terutama di titik-titik favorit wisatawan agar membaca dan mengikuti arahan dari petugas dan tanda tanda bahaya yang sudah terpasang,” jelasnya.

Masyarakat dan wisatawan yang akan berlibur ke pantai selatan Gunungkidul diminta untuk tidak bermain air di laut, terutama jika ada tanda peringatan atau informasi cuaca buruk. Selain itu, pengunjung diimbau untuk mematuhi seluruh arahan petugas SAR dan pengelola pantai.

Banyak kasus kecelakaan terjadi karena pengunjung mengabaikan rambu larangan atau tetap nekat bermain di area berbahaya demi konten foto atau video. Orang tua juga diharapkan lebih memperhatikan anak-anak saat berada di area pantai. Jangan biarkan mereka bermain terlalu dekat air, apalagi tanpa pengawasan.

“pengunjung sebaiknya tidak mencoba swafoto atau berdiri di atas batu karang saat ombak tinggi. Banyak kejadian tragis bermula dari keinginan mendapatkan foto ekstrem tanpa memperhitungkan risiko.” Suris memungkasi.