Mahasiswa Unpad Rancang Alat Deteksi Jatuh Kejang Pasien Epilepsi dan Lansia

Keunggulan signifikan dari sistem ini, katanya, terletak pada kemampuannya membedakan secara presisi antara pola gerakan jatuh dan aktivitas normal sehari-hari.

Diterbitkan 30 Juni 2025, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Rizky Ramadhan Sayyid Zenyda, mahasiswa Unpad, merancang alat inovatif untuk keselamatan pasien epilepsi dan lansia. Alat yang disebut Safeguard itu mampu mendeteksi gerak tubuh yang menandakan kejang atau jatuh.

Safeguard atau Seizures and Falls Emergency Guard Waistbag ini beroperasi dengan memanfaatkan sensor akselerometer pada smartphone dengan integrasi aplikasi dan disimpan dalam tas pinggang yang dimodifikasi.

Setelah proses pairing menggunakan nomor telepon, ponsel dalam tas pinggang akan terhubung dengan ponsel keluarga atau pengasuh.

Dengan teknologi ini, notifikasi akan segera diterima dalam waktu 10 detik oleh pihak yang membutuhkan, tanpa memerlukan koneksi bluetooth, memungkinkan jarak yang lebih jauh seperti layanan aplikasi pesan (WhatsApp).

“Saya berharap inovasi yang kami kembangkan bisa terus didorong menuju hilirisasi,” kata Rizky lewat siaran pers, Selasa, 24 Juni 2025.

 

Bedakan Pola Gerakan Jatuh dan Aktivitas Normal

Keunggulan signifikan dari sistem ini, katanya, terletak pada kemampuannya membedakan secara presisi antara pola gerakan jatuh dan aktivitas normal sehari-hari, seperti berjalan, berlari, maupun gerakan ibadah seperti rukuk dan sujud.

Dengan pendekatan algoritmik yang cermat, aplikasi tersebut diklaim tidak hanya responsif dalam mengenali insiden jatuh, tetapi juga meminimalkan kesalahan deteksi, sehingga menghasilkan akurasi tinggi dan kecepatan respons yang krusial dalam situasi darurat.

“Inovasi menggunakan metode klasifikasi berbasis pohon keputusan yang mampu mengelompokkan data gerakan tubuh secara sistematis ke dalam empat kategori utama: jatuh ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri,” jelasnya.

Ketersediaan alat ini dinilai penting mengingat pasien epilepsi berisiko 57 persen lebih tinggi untuk mengalami jatuh akibat kejang dan kematian. Meskipun prevalensinya tinggi, saat ini diaku belum ada alat deteksi jatuh yang efektif dan cepat untuk pasien epilepsi.

“Safeguard adir untuk memberikan solusi dengan mendeteksi kejang dan jatuh, serta memberikan peringatan segera kepada keluarga atau pengasuh pasien,” dikutip dari siaran pers.

 

Raih Penghargaan

Safeguard merupakan hasil kolaborasi antara Fakultas Kedokteran Unpad, Rumah Sakit Hasan Sadikin, dan FTTM ITB, dengan bimbingan dr. Nushrotul Lailiyya, pakar neurologi dan fisiologis saraf.

Inovasi Safeguard sempat dianugerahi penghargaan dengan meraih medali emas di ajang Indonesia Inventors Day (IID), bagian dari World Invention Technology Expo (WINTEX) 2023 lalu.

Bersaing dengan 33 negara, dengan total peserta tak kurang dari 1.000 orang dari 417 tim, Rizky Ramadhan berhasil menyabet medali emas dalam kategori farmasi, kesehatan, obat-obatan, dan terapi.

Saat ini, Safeguard sedang dalam tahap proses hilirisasi untuk diproduksi secara massal. Inovasi ini diklaim memiliki potensi untuk bekerja sama dengan produsen alat kesehatan, untuk memperluas jangkauannya dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat luas.

“Diharapkan dapat hadir sebagai solusi yang efisien dan terjangkau bagi pasien epilepsi, meningkatkan kualitas hidup mereka, dan memberikan rasa aman bagi keluarga dan pengasuh,” katanya.