Ringget, Cara Muda-mudi Lampung Menyampaikan Pesan dan Nasihat

Dalam upacara adat pernikahan, ringget disampaikan oleh mempelai perempuan maupun laki-laki kepada orang tua dan keluarga yang akan ditinggalkan.

Diterbitkan 30 Juni 2025, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Lampung - Ringget merupakan salah satu jenis sastra lisan Lampung berbentuk puisi. Sastra lisan ini digunakan dalam berbagai acara sebagai cara lain untuk memberikan nasihat.

Menariknya, nasihat atau pesan ini disampaikan oleh pemuda dan pemudi setempat kepada anak-anak yang lebih muda, orang tua, maupun pemimpin. Dalam upacara adat pernikahan, ringget disampaikan oleh mempelai perempuan maupun laki-laki kepada orang tua dan keluarga yang akan ditinggalkan.

Ringget umumnya hadir sebagai pengantar acara adat maupun lagu senandung saat menidurkan anak-anak. Kesenian ini juga kerap hadir sebagai pelengkap dalam berbagai acara, seperti pelepasan pengantin wanita atau ngebekas, cangget atau tarian adat, hingga acara muda-mudi.

Dalam ringget, terdapat ciri khas sajak a-b-a-b dan a-b-c-d. Rumus ini merupakan salah satu ciri khas sastra lisan khas masyarakat Lampung yang setiap barisnya memiliki makna, tanpa sampiran. 

Ciri khas ringget lainnya adalah semua baris mengandung isi, setiap bait terdiri dari empat hingga enam baris, dan memiliki irama. Pola sajak akhir setiap bait tidak harus sama. Jumlah baris pada setiap bait pun tidak selalu sama.

 

Beragam Isi

Sedikit atau banyaknya bait bergantung pada sesuatu yang dikemukakan. Setiap baris ringget mengandung isi yang bermacam-macam, mulai dari cerita, kenangan masa lalu, pesan, hingga nasihat bersifat didaktis.
Konon, ringget sudah ada sejak 1870. Sekitar 1960-an ringget masih digunakan oleh para bujang dalam menyampaikan maksudnya kepada sang gadis.

Pada 1970-an, ringget juga masih digunakan dalam berbagai acara adat. Namun, saat ini ringget sudah semakin jarang ditemukan.

Namun, pelestarian ringget terus dilakukan masyarakat Lampung. Mereka kerap menggelar pertunjukkan ringget yang dikolaborasikan dengan iringan musik tradisional kulintang. Kolaborasi ini memberikan nuansa baru, sehingga menarik untuk disaksikan. Pada 2019, ringget telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia.

Penulis: Resla