Liputan6.com, Jember - Ikan koi selama ini dikenal tidak hanya dengan keindahan dan gerakan luwesnya yang mendatangkan ketenangan. Tapi juga harga yang stabil. Bagi Nursalim, ikan koi tidak sekedar sebagai hobi, tetapi juga bisa mendatangkan cuan. Pria yang berlatar belakang sebagai jurnalis televisi di Jember ini selama beberapa tahun terakhir lebih banyak berkecimpung pada budidaya ikan asal Jepang tersebut.
“Saya memelihara ikan koi ini mulai tahun 2019, lalu ikut Jember Koi Club yang merupakan wadah bagi penggemar ikan koi di sini. Lalu ketika pandemi, banyak permintaan akan ikan hias seperti koi. Dari situ kita mulai belajar budidaya,” tutur Nursalim Selasa (6/5/2025).
Seiring berakhirnya pandemi, permintaan dan harga ikan koi relatif stabil, berbeda dengan komoditas lainnya. Namun di sisi yang lain, memelihara ikan koi dibutuhkan ketelatenan dan ketelitian yang tinggi, karena memelihara ikan koi membutuhkan syarat yang tergolong tidak mudah bagi orang awam.
Advertisement
Para penggemar yang tergabung dalam Jember Koi Club membentuk model kemitraan untuk mengembangkan budidaya ikan koi yang mulai masif sejak pandemi awal melanda. “Kita membentuk kelompok pembudidaya yang terdiri dari penghobi dan petani. Kita butuh petani, sebagai mitra karena budidaya (pada tahap pembesaran) butuh kolam tanah yang luas dan pengairan yang bagus,” papar Nursalim.
Para penghobi terlebih dulu memijahkan (mengawinkan) ikan koi di kolam khusus. Tidak sembarang indukan yang bisa dikawinkan. “Harus antara jantan atau betina yang bagus. Kriterianya mulai dari bentuk badan, pola dan faktor lainnya,” ujarnya.
Setelah telur menetas dan anakan berusia 1 bulan, barulah anakan ikan koi tersebut dipelihara di kolam pembesaran yang ada di sawah. Namun, tidak sembarang sawah. Karena lahan persawahan tersebut harus mendapat perlakuan khusus, mulai dari pembersihan dari predator serta menghilangkan racun dari tanah. “Kalau telur sudah keluar, maka jantan dan betina harus di pisah. Agar tidak keracunan amoniak. Juga agar anakannya tidak dimakan indukannya,” tutur Nursalim.
Dari sejak pemijahan hingga pembesaran, menjadi salah satu fase paling menantang bagi seorang pembudidaya ikan koi seperti Nursalim. Sebab, dari 1.000 benih ikan koi ditebar, hanya sekitar setengahnya saja yang bisa bertahan hidup hingga dewasa.
Dijual ke Luar Kota
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5211790/original/021211900_1746596699-IMG_20250507_093229.jpg)
Dari jumlah tersebut, hanya 0,5 hingga 1 persen saja, yang masuk kategori ikan koi grade A atau unggulan. Ikan koi yang terbaik ini, biasanya diperjualbelikan secara terbatas hanya di kalangan kolektor atau pembudidaya ikan koi, yang memang mengerti kriteria ikan koi yang berkualitas bagus. Ikan koi unggulan ini yang nantinya akan dijadikan sebagai indukan untuk budidaya atau mengikuti kontes. “Ikan koi yang diikutkan untuk kontes itu, yang ukuran kecil saja, harganya mulai dari Rp 1- 2 juta. Kalau sudah menang, harganya bisa meningkat,” tutur alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Jember (FE Unej) ini.
Adapun sebagian besar ikan koi hasil budidaya, akan di jual di Kediri, Blitar atau Bali. Ketiga daerah tersebut selama ini dikenal sebagai sentra bisnis ikan koi. “Tentu saja harga yang digunakan adalah harga grosir pedagang, lebih murah. Tapi tidak apa-apa, itu kita sudah untung. Dari ketiga daerah tersebut, nantinya ikan koi akan beredar ke banyak daerah,” papar Nursalim.
Sebagai seorang penghobi sekaligus pembudidaya, Nursalim tidak bisa menghitung berapa keuntungan dari bisnisnya ini. Karena kepuasan menjadi hal yang utama. “Tetapi ya tetap untung. Sebagai gambaran saja, ikan koi yang masuk kualitas indukan, bisa dihargai Rp 5 juta per ekor. Ikan koi yang kualitas terbaik itu biasanya tidak kita lepas di pasaran. Kita pelihara sendiri, kalau ada sesama penghobi yang berminat, baru kita jual. Tentu saja dengan harga yang lebih mahal daripada di pedagang,” pungkas Nursalim.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4946187/original/070147600_1726576117-673_x_373_rev__5_.jpg)
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5211789/original/057071300_1746596698-IMG_20250507_095913.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1541481/original/029951000_1489915850-2022-World-Cup-006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8583299/original/047451600_1782545178-AP26178061252747.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8526854/original/004442800_1782457565-Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8384804/original/025311600_1782263854-kroasia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8581680/original/086573300_1782542126-AP26178050808259.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322380/original/064889600_1782191323-063_2282870058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513111/original/058658300_1782436597-063_2283345627.jpg)