Kain Tenun Sengkang, Tenun Sutra Penuh Makna

Masyarakat di Kabupaten Wajo mayoritas berprofesi sebagai petani ulat sutra dan pengranjin tenun sutra. Bahkan, salah satu desa di sana juga dijuluki sebagai kampung penenun, yakni di Desa Pakanna.

Diterbitkan 07 Mei 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makassar - Jika berkunjung ke Sulawesi Selatan, sempatkan mampir ke sentra penghasil kain sutra terbesar di wilayah ini. Lokasinya berada di Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Masyarakat di Kabupaten Wajo mayoritas berprofesi sebagai petani ulat sutra dan pengranjin tenun sutra. Bahkan, salah satu desa di sana juga dijuluki sebagai kampung penenun, yakni di Desa Pakanna.

Produktivitas kain sutra di wilayah ini kemudian memicu perkembangan produksi kain tenun Sengkang. Kerajinan kain tenun di Sengkang telah berhasil memperkaya keragaman budaya Indonesia.

Mengutip dari laman Kemenkeu RI, bagi suku Bugis, sutra atau dalam bahasa lokal disebut sabbe kerap disulap menjadi pakaian adat. Hasil kerajinan tenun ini pun berkembang menjadi kebanggaan suku Bugis.

Tak hanya sebagai penutup tubuh, kain tenun dari Sengkang juga sarat nilai tradisi dan budaya. Selain digunakan dalam upacara adat, kain ini juga kerap digunakan sebagai hadiah sekaligus simbol yang dianggap suci. 

 

Makna Tertentu

Kain tenun khas Sengkang identik dengan motif berupa warisan nusantara dari Sulawesi Selatan, seperti sirsak coppobola, ballo makalu, ballo renni, cabosi, hingga lagosi. Selain itu, ada pula motif khas nusantara lainnya. Setiap motif kain tenun ini memiliki makna berbeda. Selain perkara motif, makna kain tenun ini juga berbeda untuk setiap susunan warnanya.

Setiap warna memiliki makna tertentu, seperti merah yang berarti berani karena benar, putih berarti kesucian, hijau berarti subur dan makmur, serta kuning berarti indah dan mulia.

Konon, penggunaan warna juga dikaitkan dengan kejiwaan seseorang, misalnya hitam yang kerap dihubungkan dengan suasana kedukaan, merah dengan perasaan gembira, serta putih yang dihubungkan dengan kesucian.

Menariknya lagi, masyarakat setempat menyulap kain sutra menjadi kain tenun dengan menggunakan peralatan tenun tradisional, yaitu alat tenun gedongan. Namun seiring perkembangan teknologi, masyarakat Sengkang juga mulai menggunakan mesin pemintal benang otomatis tanpa meninggalkan penggunaan peralatan tenun tradisional.

Penulis: Resla