Liputan6.com, Bandung - Indonesia sebagai negara beriklim tropis memiliki dua musim utama yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim hujan biasanya terjadi antara bulan Oktober hingga April sementara musim kemarau berlangsung sekitar bulan Mei hingga September.
Pola musim ini dipengaruhi oleh pergerakan angin muson yang datang dari benua Asia dan Australia. Muson timur membawa udara kering dari Australia sementara muson barat membawa udara lembap dari Samudera Hindia yang menyebabkan hujan.
Adapun musim kemarau memiliki peran penting dalam aktivitas masyarakat terutama di sektor pertanian dan perikanan. Petani biasanya memanfaatkan musim kemarau untuk menanam tanaman tertentu yang tidak membutuhkan banyak air seperti kedelai dan jagung.
Advertisement
Namun, musim ini juga dapat menimbulkan kekhawatiran akan kekeringan, kebakaran hutan, dan kekurangan air bersih di beberapa wilayah. Meski musim kemarau bisa menjadi tantangan musim ini juga membawa sejumlah manfaat.
Tentunya setiap tahun masyarakat sering memperhatikan siklus tersebut untuk bisa mempersiapkan diri. Termasuk pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang sering membagikan kabar terkait cuaca dan musim.
Pada tahun ini, musim kemarau mulai menunjukan tanda-tanda kehadirannya di beberapa wilayah Indonesia sejak April 2025. Namun, berbeda dari tahun sebelumnya musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih singkat.
BMKG juga menjelaskan kondisi iklim global yang relatif stabil diperkirakan membuat musim kemarau 2025 tidak akan terlalu ekstrem. Namun, pihaknya tetap menjelaskan bahwa langkah antisipatif lintas sektor tetap dibutuhkan.
Kapan Awal Musim Kemarau 2025?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4024462/original/033713400_1652765791-pexels-brett-sayles-912364_1_.jpg)
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menuturkan awal dari musim kemarau di Indonesia berlangsung secara bertahap mulai April 2025 yaitu sebanyak 115 Zona Musim (ZOM) dan diperkirakan terus bertambah pada Mei dan Juni.
“Awal musim kemarau di Indonesia diprediksi tidak terjadi secara serempak. Pada bulan April 2025, sebanyak 115 Zona Musim (ZOM) akan memasuki musim kemarau. Jumlah ini akan meningkat pada Mei dan Juni, seiring meluasnya wilayah yang terdampak, termasuk sebagian besar wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua,” ucapnya.
Selain itu, pihaknya menjelaskan saat ini fenomena global seperti El Nino dan Indian Ocean Dipole berada dalam kondisi netral sehingga tidak ada gangguan iklim besar dari Samudra Pasifik maupun Hindia hingga pertengahan tahun.
Namun, suhu muka laut yang lebih hangat dari normal di sekitar wilayah Indonesia bisa berpotensi mempengaruhi pola cuaca lokal hingga September. Sementara itu, puncak musim kemarau tahun ini diperkirakan terjadi pada Juni hingga Agustus.
Kemudian terdapat beberapa wilayah yang diprediksi mengalami kekeringan paling intens antara lain Jawa bagian tengah dan timur, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.
“Durasi kemarau diprediksi lebih pendek dari biasanya di sebagian besar wilayah, meskipun terdapat 26% wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih panjang, terutama di sebagian Sumatera dan Kalimantan,” katanya.
Advertisement
Mitigasi Kekeringan di Musim Kemarau
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2846063/original/091256400_1562345616-SAWAH_KEMARAU-Ridlo.jpg)
BMKG turut menyampaikan upaya mitigasi dalam menghadapi kekeringan di musim kemarau terutama di sejumlah sektor strategis. Pada sektor pertanian, para petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam berdasarkan prediksi awal musim kemarau di daerahnya.
Kemudian untuk wilayah yang mengalami kemarau lebih basah dianjurkan untuk memanfaatkan peluang memperluas tanam. Namun, tetap harus waspada terhadap potensi serangan hama.
Kemudian pada sektor kebencanaan BMKG meminta adanya peningkatan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) khususnya di daerah-daerah rawan di Indonesia.
Sementara itu, pihak pengelola sumber daya air dan energi juga diminta melakukan pengelolaan air secara bijak dan mengingatkan masyarakat dalam upaya menjaga kesehatan diri akibat cuaca panas dan kelembapan tinggi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317507/original/011159500_1786016808-cek_fakta_gibran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310889/original/017316800_1785380146-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-30T095434.257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312077/original/024885800_1785478974-indomaret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316854/original/006178900_1785992062-Screenshot_2026-08-06_113022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2867869/original/082535100_1564476985-1.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5268990/original/093128300_1751328481-waves-5720916_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312310/original/058474100_1785486764-941043.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4488734/original/021677000_1688359055-hujan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4547611/original/033778900_1692702750-20230822-Modifikasi-Cuaca-Jabodetabek-Tallo-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4458178/original/050647500_1686209005-earthquake-g477b52052_640.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3039961/original/009438800_1580724289-20200203-BMKG-merilis-peringatan-waspada-potensi-hujan-lebat-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304313/original/085904500_1784712225-1000946783.jpg)