Cegah Kecelakaan Saat Mudik, Pustral UGM Minta Pemerintah Pantau Kondisi Jalan

Menurut survei dari kementerian perhubungan, pergerakan masyarakat selama libur lebaran diprediksi akan mencapai 148,48 juta jiwa atau setara dengan 52 persen jumlah penduduk Indonesia sehingga pemerintah perlu upaya mencegah kecelakaan saat arus mudik.

Diterbitkan 28 Maret 2025, 23:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta Sekretaris Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, Dewanti mengatakan pemerintah memiliki peran penting dalam mencegah kecelakaan saat arus mudik 2025 ini dengan tiga hal yang harus disiapkan yaitu pada saat sebelum kejadian atau upaya preventif menghindari kecelakaan, pada saat kejadian, dan mitigasi setelah terjadi kecelakaan. Sebelum perjalanan tentu saja pemerintah harus menyiapkan sarana dan prasarananya mulai dari menyiapkan jalan hingga transportasi yang akan digunakan. “Pemerintah sudah seharusnya memeriksa kondisi jalannya, perkerasan jalan, kemudian juga rambu atau pun mungkin marka jalan,” katanya.

Pemerintah harus meninjau prasarana lain seperti jembatan dan kelayakan serta kelengkapan surat dari transportasi. Selain itu pembuatan peraturan atau imbauan kepada perusahaan yang memberikan layanan untuk angkutan agar armada yang digunakan dalam kondisi yang baik dan sosialisasi kepada masyarakat terkait pengaturan lalu lintas dan juga titik-titik rest area di jalan tol.

Guna mencegah kecelakaan saat arus mudik tahun ini pemerintah harus mempersiapkan mengenai sistem yang akan digunakan apabila terjadi kecelakaan mulai dari proses identifikasi, evakuasi korban, pengaturan lalu lintas, dan juga komunikasi yang diperlukan oleh pengguna jalan apabila terjadi kecelakaan. Walau saat ini pemerintah mengadakan mudik gratis yang harus diinformasikan dengan baik kepada masyarakat. “Jadi, ini tidak hanya teman-teman di kepolisian tetapi juga teman-teman di perhubungan, ini juga perlu dilibatkan kalau nanti terjadi kecelakaan,” ungkapnya.

Dewanti mengatakan pemerintah harus mempersiapkan dengan baik penanganan setelah terjadi kecelakaan. Hal ini tidak jauh dari proses evakuasi dari korban kecelakaan untuk dapat segera dibawa ke pusat layanan kesehatan secepat mungkin. “Jadi peran ambulans ini jadi sangat penting,” tegasnya.

Lalu, mempersiapkan jalur khusus untuk ambulans atau pun skema pembukaan jalan sehingga korban dapat dibawa ke layanan fasilitas kesehatan. “Jadi, nanti peran rumah sakit ini jadi penting, bagaimana menyiapkan rumah sakit di sepanjang jalur mudi ini perlu diinformasikan sehingga mempermudah proses evakuasi,” ujarnya.

Pengaturan lalu lintas yang digunakan seperti One Way dan Contraflow di jalan tol yang mana sering terjadi kemacetan yang panjang. Dewanti menjelaskan bahwa penerapan rekayasa lalu lintas seperti one way dan contraflow perlu ditinjau ulang karena ini menyebabkan pergerakan dari arah yang berlawanan tidak dapat dilayani oleh tol sehingga mereka berpindah ke jalan non-tol. Perpindahan tersebut menyebabkan pertambahan volume lalu lintas di jalan non-tol sehingga sangat rentan dengan terjadinya kemacetan.

Perlu peninjauan ulang pemberlakuan contraflow yang seringkali menimbulkan persoalan ketika kendaraan akan berhenti atau menepi untuk istirahat. Dewanti menyarankan untuk pemberlakuan contraflow sebaiknya jangan dalam ruas jalan yang panjang. “Jadi sekali lagi kalau saya mengatakan pemberlakuan one way dan contraflow ini ya kalau dibilang efektif secara sistem jaringan jalan mungkin jadi kurang efektif ya. Tetapi kalau hanya melihat untuk kepentingan jalan tol ya masih bisa dikatakan bisa memberikan manfaat atau perbaikan pada saat puncak tertentu,” terangnya.

Mencegah kecelakaan saat arus mudik ini pemudik yang berencana membawa kendaraan pribadi perlu dipastikan kondisi kendaraan dalam kondisi sehat dan lengkap. Selain itu yang tidak kalah penting untuk saat ini penting untuk mencermati perkiraan cuaca. “Nah, ini sangat berbahaya ya, tidak hanya bagi kendaraan ketika berjalan di saat hujan, tetapi juga kemungkinan kalau melewati jalur-jalur yang rawan longsor atau banjir,” terangnya.

Dewanti juga menyarankan bagi calon pemudik yang berencana untuk menggunakan transportasi umum pilihlah layanan angkutan publik yang memiliki track record yang baik. Kemudian penting juga untuk memperhatikan kuota angkutan karena dapat berbahaya apabila overload atau overcapacity.