Sukses

Limbah Minyak Hitam Cemari Perairan Batam Lagi, Siapa Berulah?

Liputan6.com, Batam - Limbah minyak hitam kembali mencemari perairan di Selat Batam yang berbatasan langsung dengan wilayah Singapura. Musim angin utara disebut-sebut penyebab munculnya limbah minyak hitam tersebut. Anehnya, meski tiap tahun selalu terjadi, sampai saat ini belum ada solusi terhadap persoalan lingkungan ini. Hal itulah yang membuat para nelayan perairan Batam resah.

Muhammad Safiq (45), seorang nelayan Pulau Buluh mengaku, dirinya mengetahui laut tercemar minyak hitam pada Rabu dini hari (30/11/2022) sekitar pukul 03.00 WIB.

"Lepas itu air laut habis pasang, terasa air pekat dan bau, tidak biasanya," Kata Safik kepada Liputan6.com, Jumat (2/12/2022).

Safiq curiga limbah minyak hitam berasal dari kapal-kapal asing pengangkut minyak yang sengaja membuang limbah di tengah laut, lalu terbawa musim angin utara, dari arah wilayah Singapura ke perairan Batam.

"Tak biasanya pencemaran ini, kalau limbah minyak hitam akibat dari musim angin utara biasanya tidak sampai ke sini, karena terlindung dengan pulau lain," kata Safiq.

Sementara santer terdengar di kalangan nelayan, limbah minyak hitam itu berasal dari industri galangan kapal yang lokasinya tidak jauh dari Batam. 

Menurut informasi, limbah minyak hitam tersebut sudah tersebar sampai ke pulau-pulau sekitar Batam, mulai dari Pulau Lima, Tanjung kubu, Pulau Buluh, dan Pulau Belakangpadang. 

Limbah tersebut merusak ekosistem laut karena kental dan berbau. Mangrove dan terumbu karang di sekitar pantai pun rusak. Nelayan di sekitar resah karena sekarang susah mendapatkan ikan.

 

 

 

**Liputan6.com bersama BAZNAS bekerja sama membangun solidaritas dengan mengajak masyarakat Indonesia bersedekah untuk korban gempa Cianjur melalui transfer ke rekening:

1. BSI 900.0055.740 atas nama BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional)2. BCA 686.073.7777 atas nama BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional)

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Siapa Berulah?

Sementra itu, Ketua Komisi III DPRD Batam Joko Mulyanto mengatakan, pihaknya sudah mendapat laporan dari masyarakat pesisir Tanjung Uncang, Batam, terkait pencemaran laut yang terjadi.

Setelah mendapatkan laporan, pihaknya langsung turun melakukan pengecekan bersama Bakamla ke perusahaan galangan kapal di mana titik limbah minyak hitam berkumpul.

"Kami bersama Bakamla tidak diperkenankan untuk masuk ke area PT, namun harus menunggu satu jam" kata Joko saat RDPR dengan Masyarakat Pesisir Batam.

Sementra itu Penegak Hukum (Gakum) Kenterian KLH saat ini tengah melakukan penyelikan dan pengumpulan barak bukti atas temuan limbah minyak hitam di perairan Batam.

"Kita tengah melakukan uji prinijer untuk mengungkap atas limbah yang tengah mencemari, dari mana dan siapa pelaku pembuang minyak hitam, " kata Sumardi perwakilan Gakum KLHK saat Rapat di DPRD Batam.

Sumardi berjanji pihaknya akan mengungkap pelaku pembuang limbah hitam yang mencemari perairan Batam itu.

Rahmat dari KSOP juga mengungkapkan sebelumnya KSOP juga pernah menindak KM Cramoil Oil perusahaan dari Singapura memuat 273 ton limbah berbahaya di buang di perairan Batam pada 2021.

"Untuk ini kita sama-sama sedang mengumpulkan bukti- bukti untuk mengungkap dan akan mengungkap siapa pelakunya, karena ini sudah menjadi atensi pemerintah pusat, " kata Rahmat.

Selain itu, pencarian bukti lain juga tengah dilakukan oleh Bakamla penelusuran foto melalui satelit, kapan dan dari mana asal limbah minyak hitam muncul mencemari perairan Batam.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS