Sukses

Perbedaan Gangguan Pneumonia Biasa dan Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Melalui kerjasama program 'Dokter Kita', Siloam Hospitals Silampari menggelar edukasi kesehatan bertajuk 'Ciri dan Gejala Covid-19 pada Pernapasan'.

Dokter spesialis paru paru dari Siloam Hospitals Silampari, dr. Indra Barata, Sp.P., melalui kanal Instagram Live mengatakan, virus corona selain secara umum merusak sistem pernapasan pada organ manusia, juga dapat menginfeksi organ paru paru dari tingkat akut hingga penyebab kematian.

"Pada beberapa kasus yang kami tangani, penanganan kasus dari virus corona ini menyebabkan 'Pneumonide' atau infeksi pada organ paru paru," terang dr Indra Barata Sp.P., Sabtu (09/01/2021) di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Dia menjelaskan tiga gejala umum terpapar corona yaitu timbulnya demam tinggi hingga di atas suhu 38 derajat Celcius dari suhu normal badan, batuk kering dan sesak nafas. Selain itu gejala khusus lainnya, yaitu timbul diare, sakit kepala, hilangnya kemampuan mencium aroma bau (anosmia), iritasi mata hingga timbul ruam di kulit.

"Mengikuti gejala terpaparnya tubuh oleh virus corona ini dalam rentan waktu 10 hari, sebagian pasien akan mengalami penurunan oksigen tanpa adanya gejala apapun. Kondisi ini disebut 'Happy Hypoxia'," ungkap Indra Barata.

Adapun dalam pendeteksian awal, kehadiran virus dapat dideteksi melalui rekam Rontgen dan CT Scan Thorax serta pemeriksaan di laboratorium.

Di sesi terakhir edukasi, satu hal menarik yang disampaikan adalah mengenali perbedaan gejala dari penyakit radang paru (Pneumonide) dan Covid-19.

Menurut Indra, meski memiliki gejala yang mirip yaitu timbulnya peradangan pada paru namun, pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 sedikit berbeda dengan pneumonia yang biasa terjadi.

Pneumonia biasa atau disebut juga dengan paru-paru basah, yaitu kondisi peradangan pada kantung-kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru. Infeksi tersebut dapat menyebabkan kantung udara pada saluran pernapasan di paru-paru mengalami radang dan dipenuhi oleh cairan.

Namun, penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya jika sistem imun pengidapnya baik. Sedangkan pada COVID-19, gangguan ini umumnya menyerang saluran napas bagian atas yang akhirnya dapat menyebar hingga ke paru-paru.

Mengakhiri sesi edukasi dan tanya jawab bersama puluhan peserta yang berasal dari keluarga pasien dan kolega, dr. Indra Barata, Sp.P., turut menghimbau agar masyarakat secara umum dan khususnya di kota Lubuklinggau agar tetap melaksanakan protokol kesehatan secara berkelanjutan.

"Minimal menggunakan masker selama empat jam saat di luar ruangan sambil menjaga jarak, mencuci tangan dengan air sabun dan air yang mengalir selama 20 detik sebelum dan sesudah beraktifitas serta menjaga kondisi tubuh agar selaku prima dengan berolahraga dan mengkonsumsi makanan yang sehat," kata Indra.