Sukses

Kisah Guru Honorer di Mamuju, Pantang Mogok Mengajar Meski Honor Belum Dibayar

Liputan6.com, Mamuju - Sumiati (30) merupakan satu dari sekian banyak guru honorer di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Ia mengajar murid di kelas dua SDN Padang Baka, Kelurahan Rimuku. Sejak Juni hingga November ini, dia dan ribuan guru honorer lainnnya belum menerima insentif dari pemerintah kabupaten.

Meski peluhnya selama enam bulan belum terbayarkan, tak sekali pun menyurutkan niatnya untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada muridnya. Ia tetap semangat melangkahkan kakinya untuk berjumpa dengan muridnya yang menunggunya dengan wajah polos mereka.

Sudah enam tahun Sumiati berprofesi sebagai guru honorer, pekerjaannya semakin berat pada masa pendemi Covid-19 ini. Ia tak lagi berjumpa secara tatap muka dengan muridnya di ruang kelas, melainkan harus menjumpai mereka di kediaman masing-masing dengan sistem 'Guling' atau guru keliling.

Sistem belajar daring tak dapat dia lakukan untuk murid-muridnya, karena umumnya murid yang dia ajar berasal dari keluarga sederhana yang orangtua bermata pencaharian sebagai petani. Selain tak memiliki gawai untuk belajar daring, jaringan internet juga tak mencakup sebagian besar rumah siswanya.

"Kegiatan guru keliling ini, setiap hari Senin dan Selasa saya lakasanakan. Karena proses belajar harus kami lakukan," kata Sumiati kepada Liputan6.com saat ditemui di kediamannya tepat pada Hari Guru Nasional, Rabu (25/11/2020).

Setiap hari, ketika melaksanakan kegiatan guru keliling, Sumiati selalu memapah papan tulisnya, membelah hamparan kebun, mendaki bukit dan bergelut dengan panasnya siang untuk sampai ke kediaman muridnya. Hal itu ikhlas dilakukan, karena dia sadar kondisi orangtua muridnya tak bisa memberi waktu mendampingi anak untuk belajar di rumah.

"Karena mereka bekerja seharian malamnya digunakan untuk istirahat," tuturnya mengambarkan kondisi keluarga muridnya.

 

2 dari 3 halaman

Tanpa Gaji di Masa Pandemi

Sejak Juni, Sumiati tidak terima insentif. Per bulan, dia digaji Rp500 ribu dan diterima setiap tiga bulan. Namun, karena insentifnya tak juga dibayarkan, memaksa dia memutar otak untuk bertahan hidup bersama keluarganya. Ibu dua anak ini memilih berjualan kue tradisional, seperti 'bikang' (kue berasa legit dengan siraman lelehan gula aren).

"Alhamdulillah, waktu bulan puasa kami bisa bertahan dan tetap dapat memenuhi kebutuhan sampai lebaran," ungkapnya.

Selain hasil menjual kue tradisional, hasil kebun garapan suaminya yang tak seberapa, bisa membantu untuk mengepulkan asap di dapurnya. Bantuan sembako dari berbagai pihak juga menjadi bagian dari penyambung hidup selama masa pandemi Covid-19 menerjang.

Meski tak tahun kapan gaji kecilnya itu bisa dia terima, Sumiati bersama 6.250 Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) di lingkup Pemkab Mamuju tetap menaruh asa agar gaji mereka bisa dibayarkan.

Setitik cahaya terang di awan mendung, pembayaran insentif GTT dan PPT mulai terlihat. Dana Bagi Hasil (DBH) dari Pemprov Sulbar sebesar Rp8,1 miliar dikabarkan telah masuk ke kas daerah pada 18 November 2020 kemarin. Rencananya, akan menjadi sumber pembiayaan bagi insentif para tenaga kontrak.

"Dari 8,1 miliar itu, hanya sebagian untuk GTT dan PTT. Sebagian lagi, akan digunakan untuk belanja di sektor kesehatan karena dalam DBH ada komponen pajak rokok," kata Kepala BPKAD Pemkab Mamuju Budianto.

Menurut Budianto, terlambatnya pembayaran insentif GTT dan PTT di lingkup Pemkab Mamuju karena adanya refokusing anggaran untuk penanganan Covid-19, serta tidak tercapainya target Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kabar baik mengenai pembayaran gaji memang sayup-sayup terdengar, Sumiati menyerahkan kepada pemerintah terkait pembayaran peluhnya. Baginya, tetap memberikan pelajaran kepada puluhan anak muridnya adalah amanah sebagai seorang guru.

"Kalau rezeki tidak akan ke mana, asalkan anak-anak bisa belajar. Saya selalu bersyukur masih bisa beri pelajaran kepada anak-anak," ucapnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan juga video menarik berikut ini: