Sukses

Ketika Personel Polda Bali Terjebak Dalam Konflik Bersenjata di Afrika Tengah

Delapan personel Polda Bali akhirnya kembali ke Indonesia setelah menjalankan misi perdamaian dan keamanan PBB di Afrika Tengah selama 15 bulan.

Liputan6.com, Denpasar Delapan personel Polda Bali  yang tergabung dalam Satgas Garuda Bhayangkara II FPU 11 UNAMID (United Nation and African Union Mission in Darfur) dan FPU I Minusca akhirnya kembali ke Indonesia. Mereka sukses menjalankan misi perdamaian dan keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di Afrika Tengah selama 15 bulan.

Kedelapan personel tersebut adalah Ipda Wayan Gede Parnata, Briptu M Arifandy, Iptu I Made Suweca, Iptu Cok Gede Raka, Aiptu Gede Oka Widiatmika, Bripka Komang Sudiasa, Brigpol Agus Andi Putra dan Briptu Wayan Fajar Satrya.

Begiru tiba di Bali, mereka langsung menghadap Kapolda Bali, Irjen Pol Petrus Reinhard Golose. Kapolda mengapresiasi dan menyatakan kebanggaannya kepada delapan personel jajarannya karena sudah berhasil melaksanakan tugas dengan baik tanpa melakukan pelanggaran.

Menurut Kapolda, pengiriman prajurit Bhayangkara ke negara Afrika sebagai peluang untuk menunjukkan eksistensi dan prestasi di ranah internasional yaitu menjaga perdamaian dunia.

“Terima kasih sudah melaksanakan tugas dengan baik di Afrika Tengah, dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi medan yang ada. Tugas ini sangat berat karena membawa nama baik negara, institusi Polri khususnya Polda Bali,” kata Kapolda.

Jenderal bintang dua di pundak ini berharap pengalaman yang didapatkan ketika bergabung di Satgas Garuda Bhayangkara agar diceritakan kepada personel Polri lainnya, sehingga mereka termotivasi bergabung dalam misi perdamaian dunia.

Sementara itu, mewakili rekannya, Iptu I Made Suweca mengatakan, Satgas Garuda Bhayangkara FPU I Minusca berjumlah 140 personel. Berangkat ke Afrika Tengah pada tanggal 27 Juni 2019 dipimpin oleh Kombes Pol FX Arendra Wahyudi selaku Kasatgas dan AKBP M Ikhwan Lazuardi selaku Wakasatgas.

Satgas Garuda Bhayangkara FPU I Minusca adalah pasukan pertama yang menjalankan perdamaian di Republik Afrika Tengah. Sebagai pasukan pertama, tentu sangat berat dijalani karena semua berawal dari nol.

Iptu I Made Suweca mengaku kaget karena belum ada tempat beristirahat begitu tiba di lokasi. Yang ada di hadapannya adalah hamparan tanah kosong. Selain melaksanakan tugas dari PBB, ia juga harus membangun Garuda Camp. “Sekitar 3 bulan kita tinggal di tenda sambil menunggu camp kita berdiri dan Garuda Camp mendapat predikat terbaik yang ada di Minusca,” ucapnya.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Jaga Keamanan dan Protokol Kesehatan Saat Pandemi di Wilayah Konflik

Selain Indonesia, juga ada pasukan dari negara lainnya. Untuk pasukan Satgas Garuda Bhayangkara FPU 1 Minusca bergabung dengan Rwanda Batalyon, Marroco Batalyon, Nepal Army, Pakistan Army, Bangladesh Army, Burundi, Egypt Batalyon, Gabon Batalyon, EUTM (Uni Eropa). Tidak hanya itu, Satgas Garuda juga bergabung FPU Rwanda, Senegal, Kamerun, Mauritania, Kongo dan Egypt.

Pengalaman yang paling sulit dilupakan saat bertugas di Afrika Tengah adalah ketika dirinya bersama rombongan terjebak di tengah-tengah konflik antar kelompok bersenjata.

“Kita pernah terjebak di tengah-tengah konflik antar kelompok bersenjata di daerah Yakite di PK5 Bangui saat melaksanakan patroli, sehingga kita keluar dari zona konflik tersebut,” ucap Iptu I Made Suweca.

Melaksanakan tugas saat pandemi Covid-19, Iptu I Made Suweca menyampaikan jika seluruh anggota Satgas Garuda Bhayangkara wajib menggunakan masker dan membawa hand sanitizer, sehingga pelaksanaan tugas tetap berjalan seperti biasa.

“Untuk pandemi Covid-19, kita diwajibkan untuk selalu menggunakan masker dan membawa hand sanitizer. Pasukan United Nation (UN) selalu diarahkan dan diwajibkan untuk menggunakan masker” tegasnya.

Kesadaran warga untuk menjaga kesehatan saat pandemi masih sangat kurang, hanya ada beberapa warga dan aparat setempat yang menggunakan masker. Anjuran menggunakan masker dari pemerintah tetap ada tetapi masyarakat di sana kurang peduli. “Jangankan untuk membeli masker, untuk makan saja mereka sulit dan listrik juga hanya ada di beberapa tempat saja,” ujar Iptu I Made Suweca.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.