Sukses

Sarapan Pagi dengan 'Bilih' Gurih, Ikan Kecil Endemik Danau Singkarak

Liputan6.com, Solok - Ranah Minang selalu menawarkan berbagai macam kulinernya yang khas, menggugah selera, dan tidak dijumpai di daerah lain. Seperti ikan bilih misalnya, ikan kecil ini merupakan endemik Danau Singkarak.

Mungkin nama Danau Singkarak tak asing lagi terdengar di telinga, danau ini membentang di 2 daerah Sumatera Barat, yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Solok.

Di danau itulah hidup ikan kecil bernama bilih, jika Anda kebetulan sedang berada di Sumbar jangan lupa berburu kuliner yang lezat ini.

Berbagai olahan ikan bilih bisa Anda temui di sekitar kawasan Danau Singkarak, tentu dengan ikan yang masih segar.

Penyajian ikan bilih tidak hanya digoreng, tetapi juga dipepes atau dalam bahasa Minangnya disebut palai, kemudian juga ada olahan pangek ikan bilih.

Jika dalam bahasa Indonesia, pangek berarti pengat yakni gulai yang dimasak hingga kuahnya kering. Olahan kaya rempah ini didominasi corak kuning lantaran menggunakan banyak kunyit.

Jika ingin mencicipi pangek ikan bilih, Anda bisa langsung mampir ke rumah makan sekitar Danau Singkarak. Menyantap hidangan khas Danau Singkarak langsung di tepi danau tentu akan lebih nikmat.

Saat ini, ikan bilih juga sudah dipasarkan secara dalam jaringan atau online, ikan bilih yang sudah digoreng biasanya dibanderol dengan harga Rp200 ribu hingga Rp240 ribu per kilogram.

Untuk ikan bilih basah atau yang baru ditangkap dari danau, biasanya dihargai Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.

2 dari 3 halaman

Bisnis Ikan Bilih

Ikan bilih saat ini juga banyak dilirik sebagai salah satu usaha yang cukup menjanjikan. Meski harganya tergolong tidak terlalu murah, tetapi kuliner ini tetap diminati masyarakat dan wisatawan karena rasanya nan gurih serta lezat.

Salah seorang penjual ikan bilih yang memasarkan produknya secara online, Rani Delvia kepada Liputan6.com mengatakan permintaan ikan bilih juga banyak yang dari luar daerah sumbar.

Wanita berusia 28 tahun itu, kini sudah memasarkan ikan bilihnya hingga Jakarta, Kalimantan, dan Jawa Timur. Padahal, Rani awalnya sempat ragu memulai usaha tersebut karena sudah banyak orang yang memulainya terlebih dahulu.

"Saya hobi memasak, kebetulan juga saya warga Solok," katanya.

Meski sudah banyak penjual ikan bilih goreng bertebaran sepanjang pinggiran Danau Singkarak, Rani tidak patah arang. Bermodalkan relasi yang didapat selama kerja dan pengikut media sosial, Rani mulai kedatangan pembeli dari berbagai daerah di Indonesia.

Keunggulan ikan bilih goreng buatan Rani dengan lainnya ada pada kesegaran ikannya. Ia menggoreng ikan bilih setiap harinya sebanyak jumlah pesanan yang masuk melalui media sosial maupun platform lain.

Apalagi, lanjutnya, pada masa pandemi virus corona ini yang mengakibatkan perantau tidak bisa pulang kampung, dia memanfaatkan situasi ini dengan menjual ikan bilih untuk mengobati kerinduan perantau terhadap makanan khas Minang.

Rani memberi nama usahanya Dapua Amakami sekaligus sebagai merek produk yang sedang diurus hak patennya.

"Jualan onlie tidak memerlukan modal besar, pasarnya juga lebih luas," sebutnya.

Meski demikian, bukan tidak ada kendala yang ditemuinya dalam usaha ini, harga ikan bilih basah yang tidak stabil menyulitkannya dalam penjualan.

"3 kilogram bilih basah jadinya hanya satu kilogram bilih goreng," ujar dia.

Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk mengembangkan bisnis yang baru ditekuninya selama tiga bulan ini. Bahkan, ia bercita-cita akan membuat ikan bilih goreng Dapua Amakami dikenal hingga ke luar negeri.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan juga video pilihan berikut ini: