Sukses

Horor Retakan Tanah 500 Meter Hantui Dusun Aliyan Banjarnegara

Liputan6.com, Banjarnegara - Banjarnegara diidentifikasi sebagai wilayah paling rawan bencana tanah longsor di Provinsi Jawa Tengah. 70 persen lebih wilayah ini merupakan zona merah, yang berarti berisiko menengah tinggi.

Dari 266 desa dan 12 kelurahan di Kabupaten Banjarnegara, 199 di antaranya rawan longsor. Pasalnya, sebagian besar wilayah Banjarnegara adalah pegunungan yang tentu saja berkontur miring.

Penghujung 2019, intensitas hujan meningkat drastis. Imbasnya, puluhan keluarga di empat desa di Banjarnegara terancam longsor usai munculnya retakan dan terjadinya gerakan tanah seiring meningkatnya intensitas hujan pada Desember 2019 ini.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Arif Rachman mengatakan, keempat desa tersebut yakni, Desa Mlaya Kecamatan Punggelan, Bantar Kecamatan Wanayasa, Suwidak Kecamatan Wanayasa, dan Sampang Kecamatan Karangkobar.

Di Desa Suwidak, retakan tanah bahkan telah merusak gedung SD Negeri 01. Dua ruang kelas dilaporkan rusak. Mahkota retakan muncul sepanjang 500 meter dan mengancam Dusun Aliyan.

Adapun di Mlaya, retakan muncul dan mengancam Dusun Sikenong. Dalam waktu dekat Badan Geologi akan segera turun dan mensurvei potensi bencana.

“Saya kan sudah calling ke Badan Geologi untuk mememastikan potensi (longsor-red) seperti apa. Yang jelas mengintensifkan sistem keamanan lingkungan begitu ya. Terus yang kedua, kebetulan di sana sudah terbentuk Destana,” ucapnya, Rabu (11/12/2019).

Simak video pilihan berikut ini:

 

2 dari 3 halaman

Pengaktifan Posko Bencana Hidrometeorologi

Arif mengklaim, BPBD telah turun ke desa dan mensosialisasikan mitigasi bencana. Salah satunya dengan menutup retakan longsor. Selain itu, warga juga diminta untuk menggiatkan keamanan lingkungan 24 jam.

Terkait meningkatnya intensitas hujan, Arif menyarankan agar warga di wilayah zona merah longsor untuk meningkatkan kewaspadaan. Lebih baik, warga mengungsi ke tempat aman saat terjadi hujan lebat.

BPBD juga mengaktifkan posko siaga bencana hidrometeorologi mendekati puncak musim penghujan 2019-2020 ini. Posko bencana ini bernama posko siaga bencana banjir, longsor dan angin kencang.

“Nah kita 24 jam ada yang bertugas, lebih intensif,” ujarnya.

Posko induk bencana hidrometeorologi adalah kantor BPBD Banjarnegara. Selanjutnya, ada pula Posko-Posko di tiap unit pelaksana teknis. Selain itu, ada pula 54 Posko di 54 desa yang sudah dinyatakan sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana).

Pengaktifan posko siaga bencana itu tertuang dalam SK Bupati Banjarnegara yang menyebut bahwa siaga bencana hidrometeorologi akan berlangsung antara 27 November hingga akhir Februari mendatang, atau sekitar tiga bulan lebih.

“Dan peralatan kita juga sudah cek untuk kesiapan dan segala sesuatunya. Kita memberdayakan Destana yang ada di wilayah sekitar,” dia menerangkan.

Dia berharap keberadaan posko akan memantik masyarakat di sekitar kawasan bencana lebih mewaspadai risiko bencana yang mungkin terjadi pada puncak musim penghujan. BMKG mempekirakan puncak musim penghujan di Banjarnegara akan berlangsung antara Desember hingga Februari 2020 mendatang.

 

3 dari 3 halaman

Penanaman Ribuan Bibit Pohon

Selain mitigasi dan penanggulangan bencana longsor, BPBD juga membagikan 8.000 bibit pohon untuk menekan konversi lahan yang marak di Kabupaten Banjarnegara. Bibit tanaman ini ini merupakan bentuk penanganan jangka panjang bencana tanah longsor.

Arif bilang, konversi lahan marak terjadi di Banjarnegara. Konversi perkebunan menjadi lahan pertanian komoditas musiman yang tak mempertimbangkan kondisi tanah memicu meningkatnya bencana tanah longsor.

“Sangat banyak (konversi lahan) Mas. Ya, daerahnya sudah miring, tetapi ya itu tadi, penggunaan lahannya itu terkadang ini dan jenis tanamannya tidak sesuai lah,” dia mengungkapkan.

Bibit tanaman itu bakal ditanam di lahan miring yang berpotensi longsor di 54 desa rawan longsor yang sudah ditetapkan sebagai desa tangguh bencana atau Destana. Bibit yang ditanam adalah buah-buahan, seperti durian, mangga, duku, dan pete.

“Ini kan musim hujan. Kurang lebih ada 8.000 bibit yang diberikan, bekerja sama dengan BBWS Serayu-Opak, Yogyakarta,” katanya.

Bibit buah-buahan berkayu keras dibagikan agar masyarakat mulai mengubah pola pertanian lebih ramah lingkungan. Di satu sisi, buah-buahan tetap akan menghasilkan. Di sisi lain, keberadaan kayu keras akan membuat tanah lebih stabil.

Penanaman bibit tanaman kayu keras ini dalam jangka panjang diyakini akan membantu daya cengkeram tanah. Manfaatnya, bencana longsor bisa ditekan dengan cara ramah lingkungan.

“Seperti di Banjarmangu itu semuanya salak. Kami tidak melarang penanaman komoditas tertentu. Tapi ya warga harus mempertimbangkan kondisi lahannya,” dia menjelaskan.

Loading
Artikel Selanjutnya
Peringatan Dini BMKG Kendari soal Cuaca, Warga Diminta Waspada Bencana
Artikel Selanjutnya
Hantu-Hantu Longsor di Cilacap Barat