Sukses

Motif di Balik Dugaan Pesta Narkoba 12 Remaja di Pekanbaru

Liputan6.com, Pekanbaru - Polsek Tenayanraya sudah mengetes urine 12 remaja yang kedapatan asik berjoget di salah satu kamar hotel di Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru. Tujuannya sebagai bukti tambahan apakah 7 laki-laki dan 5 perempuan itu terindikasi menggelar pesta narkoba.

Hasilnya, tak semua belasan anak putus sekolah ini positif mengonsumi narkoba jenis sabu ataupun pil ekstasi. Namun demikian, mereka belum diperbolehkan pulang.

Menurut Kapolsek Tenayanraya Komisaris Polisi Hanafi, ada delapan anak negatif. Mereka berumur antara 16 hingga 17 tahun.

Polisi juga sudah berkoordinasi dengan Balai Rehabilitasi Anak Kementerian Sosial untuk membawa anak ini ke Kecamatan Rumbai. Harapannya, anak-anak ini tidak mengulangi perbuatannya lagi.

"Ada yang positif mengonsumsi narkoba, ini diserahkan ke BNN untuk rehabilitasi. Umurnya di atas 18 tahun, sisanya diperbolehkan pulang," ungkap Hanafi, Kamis petang, 12 Desember 2019.

Hanafi menyebut sudah memanggil semua orangtua ke Polsek untuk bertemu dengan anak mereka. Sebagian ada yang datang, sisanya tidak mau datang dengan ragam alasan.

Dalam kejadian ini, polisi tidak ada menemukan barang bukti narkoba jenis sabu dan pil ekstasi, meski sudah menggeledah seluruh isi kamar.

Polisi hanya menemukan beberapa bungkusan diduga pembungkus sabu dan ekstasi yang sudah terpakai. Dari temuan inilah indikasi kamar itu dijadikan pesta narkoba.

"Ada yang mengaku memakai ekstasi dan sabu, itu yang positif tadi," terang Hanafi.

 

2 dari 2 halaman

Tak Hanya Sekali

Menurut Hanafi, remaja ini berasal dari berbagai latar belakang dan daerah berbeda. Ada dari Kabupaten Kampar dan adapula dari berbagai kecamatan di Pekanbaru.

Perkenalan mereka terbilang cukup lama, baik itu melalui media sosial ataupun teman satu daerah. Berkumpul untuk menginap di hotel bersama-sama juga tak sekali.

"Sebelumnya sudah ada juga, nginap di hotel untuk bersenang-senang. Tujuan utamanya itu," ucap Hanafi.

Pekanbaru dipilih sebagai lokasi karena jauh dari jangkauan orangtua. Hotel kelas melati juga menjadi pilihan karena dinilai aman dan tidak sulit masuk.

"Mereka punya kesamaan, suka bersenang-senang dan berkumpul," terang Hanafi.

Penggerebekan remaja ini berawal dari laporan warga yang sepeda motornya hilang. Sejumlah saksi diminta keterangan sehingga ada satu warga yang menyebut satu pelaku bernama Edo sering main di hotel tersebut.

Hotel didatangi petugas dan petugas di sana diminta membuka pintu. Edo tidak ada di sana tapi yang ditemukan adalah remaja yang berkumpul bersama.

Petugas menggeledah isi kamar karena sebelumnya di kamar itu terdengar dentuman musik house.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Kurir Narkoba Angkut Sabu dengan Mobil Mewah ke Pekanbaru
Artikel Selanjutnya
Terseret Kasus Kebakaran Lahan, Kakek Petani Ubi Dituntut Denda Rp3 Miliar