Sukses

Cerita 1 Keluarga Selamat dari Terjangan Banjir Bandang Solok Selatan

Liputan6.com, Solok Selatan - Minggu, 24 November 2019, ba'da Magrib, Ultra (56) dan keluarga beraktivitas seperti malam-malam biasanya, berkumpul lengkap usai salat. Suasana benar-benar damai dan tak ada tanda-tanda banjir bandang.

Namun keadaan berubah tatkala mereka mendengar gemuruh meningkahi hujan deras yang kian lama semakin mendekat. Ultra sadar bahwa gemuruh itu bukan dari langit, melainkan bunyi dari perbukitan tidak jauh dari rumahnya.

Ia pun yakin, itu adalah gemuruh bencana. Tak ada waktu bagi mereka menyelamatkan barang-barang berharga. Nyawa mesti diselamatkan.

Ia dan empat anggota keluarganya langsung berlarian dari rumah menuju gedung PAUD yang berjarak kira-kira 100 meter dari rumahnya. Berada di perbukitan, PAUD tersebut berada lebih tinggi dari rumah mereka.

Benar saja, terjangan banjir bandang tiba disertai bunyi yang menggelegar. Material yang dibawa banjir tidak main-main. Kayu dan bebatuan besar menghantam puluhan rumah di daerah itu.

Ultra dan puluhan keluarga lain tidak hanya berdiam diri di PAUD, sesegera mungkin mereka terus berlarian menuju daerah yang lebih tinggi. Keluarga ini tak lagi mempedulikan rumah yang dihantam banjir bandang.

Ultra tak bisa menggambarkan bagaimana ketakutan mereka. Kondisi yang gelap menambah sulitnya penyelamatan yang ia lakukan bersama keluarga. Selamat dari kejadian menyeramkan itu menurutnya adalah nikmat Tuhan yang tidak henti ia syukuri hingga kini.

"Panik dan ketakutan pasti kami rasakan malam itu, namun untuk menyelamatkan diri dan keluarga kami terus berlari ke tempat yang aman," kata pria paruh baya itu, menceritakan detik-detik terjangan banjir bandang.

Simak video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Korban Banjir Bandang Trauma

Tidak ada yang tersisa dari banjir bandang itu. Rumahnya rusak berat, harta bendanya terkubur oleh lumpur dan material banjir. Namun ia tetap bersyukur sebab tidak kehilangan anak dan istrinya.

"Malam itu terasa begitu panjang bagi kami, setelah banjir bandang menghantam rumah, kami bertahan di rumah warga lainnya yang aman," dia menuturkan.

Senin (25/11/2019), bantuan untuk evakuasi mulai datang. Posko pengungsi pun dibuka.

Namun proses evakuasi terhambat lantaran akses jalan tertutup material banjir. Daerah itu hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki di atas material banjir.

Hari selanjutnya mesti dilalui keluarga Ultra dan korban banjir lainnya di posko pengungsian. Siang hari, ia pulang ke rumahnya yang rusak berat dan masih dipenuhi material banjir. Ia pulang mencari harta bendanya seumpama masih bisa ditemukan.

"Saya juga mencari ijazah anak dan dokumen penting yang terkubur lumpur di dalam rumah," katanya bercerita kepada Liputan6.com tepat di dekat rumahnya yang rusak berat.

Hingga saat ini, Ultra mengaku masih trauma dengan kejadian tersebut. Jangankan hujan deras. Mendung yang menggelantung di langit saja membuatnya mulai cemas dan takut kejadian serupa bakal terulang.

Pada Sabtu (30/11/2019) bantuan terus berdatangan ke posko pengungsian di Balai Adat Pakan Rabaa Timur. Kendati demikian, kondisi pengungsi juga tidak sepenuhnya baik, banyak di antara mereka yang terserang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan maag.

Pemerintah Kabupaten Solok Selatan menetapkan status tanggap darurat bencana banjir hingga 5 Desember 2019, dan jika kurang maka akan ditambah lagi 14 hari.

Loading
Artikel Selanjutnya
Banjir Bandang Kembali Melanda Solok Selatan, 6 Rumah Hanyut 1 Jembatan Roboh
Artikel Selanjutnya
Cara Penyelamatan Lahan Kritis ala Gubernur Jabar Ridwan Kamil