Sukses

Kisah Pasutri di NTT Sabar Merawat 2 Anak Gangguan Jiwa dan 1 Lumpuh Total

Liputan6.com, Kupang - Malang nian nasib Yakobus Anselmus (70) dan Elisabeth Gentia (57), warga Dusun Magerobak, Desa Seu Sina, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Betapa tidak, di tengah kehidupan yang serba kekurangan, dua dari empat anak mereka mengalami gangguan jiwa, bahkan satu anak lainnya mengalami lumpuh total.

Sedangkan anak ketiga mereka, Antonius Nong Oris (22), hanya bekerja sebagai pramuniaga di sebuah toko di Geliting. 

Anak sulung Margareta Loli Kenga (26) dan anak kedua Yuliaus Miskin Sado (24) mengalami gangguan jiwa, sedangkan anak bungsu dari pasangan ini, Wihelmina Wilma Kenga (19) mengalami lumpuh sejak masih berusia 2 tahun.

Saat tim Liputan6.com berkunjung ke rumahnya pada Selasa (12/11/2019), tampak Mama Elisabeth Gentia tengah merawat si bungsu, Wihelmina Wilma Kenga yang hanya terbaring di tempat tidur bambu. 

Kondisi Wihelmina sangat memprihatinkan. Kedua kakinya terlipat dengan kondisi badan yang hanya kulit membalut tulang. Praktisnya, Wihelmina tidak bisa berbuat apa-apa. Makan, minum, buang air dan lainnya dibantu ayah atau ibunya yang makin tua.

Mama Elisabeth menceritakan, Wihelmina mengalami sakit sejak usia 2 tahun. Sejak saat itu, Wihelmina sering mengalami sakit hingga mengalami kejang-kejang. Puncaknya, pada usia 10 tahun, Wihelmina sudah mengalami kelumpuhan hingga saat ini.

Sedangkan si sulung, Margareta Loli Kenga, tampak hanya duduk di kolong rumah, ia masih menderita gangguan jiwa. Mama Elisabeth mengaku, Margaretha sering mengamuk pada waktu-waktu tertentu.

Anak kedua mereka, Yulius Miskin Sado, saat ditemui juga tampak belum pulih dari gangguan jiwa yang dideritanya. Tatapan kosong dari raut wajahnya, hanya melempar senyum atau bahkan hanya diam seribu bahasa tanpa ekspresi.

Elisabeth kemudian mengisahkan, dirinya bersama keluarga pernah tinggal di Panti Asuhan Nativitas milik Mama Belgi selama 5 tahun semenjak dua anaknya mengalami gangguan jiwa dan lumpuh.

"Saat yang gangguan jiwa ini sudah agak membaik, Mama Belgi minta mereka berdua dengan bapaknya pulang sedangkan saya sama yang bungsu, yang lumpuh ini tetap di sana, tapi kalau saya tetap disana, terus mereka pulang di rumah siapa yang urus. Akhirnya saya putuskan untuk kami pulang sama-sama," katanya.

Selama ini juga dokter dari Puskesmas Kewapante tetap datang lihat, tapi begini saja kondisi si bungsu, tidak ada perubahan.

 

2 dari 3 halaman

Keluarga Tak Mampu

Saat disinggung soal bantuan pemerintah, Elisabeth mengaku sudah mendapat perhatian dari pemerintah dengan pemberian bantuan rumah layak huni, namun pembangunannya tersendat karena karena terkendala biaya.

Anselmus yang hanya seorang petani tidak mampu berbuat apa-apa. Selain petani, Anselmus bekerja sebagai pemanjat kelapa milik orang lain yang hanya dibayar Rp5 ribu per pohon. Untuk kebutuhan rumah tangga, keluarga ini hanya berharap dari anak kedua mereka, Antonius Nong Oris yang bekerja sebagai pramuniaga.

Sekadar untuk tambahan, Mama Elisabeth berjuang menjual sarung lipa dengan harga yang tidak tentu. Itupun tidak setiap hari dijual. Sekarang dirinya hanya berhadap, ada orang baik yang berbagi kasih menolong ketiga anaknya yang sakit.

3 dari 3 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Waspadai, Dampak Buruk Penyimpangan Seksual Ekshibisionisme
Artikel Selanjutnya
Ekshibisionisme, Penyimpangan Seksual yang Bisa Terjadi Berulang