Sukses

Mengungkap Riwayat Tsunami Pesisir Selatan Jawa 11.500 Tahun Terakhir

Liputan6.com, Purwokerto - Beberapa waktu lalu, seorang pakar tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan ada potensi gempa megathrust magnitudo 8,8 yang dapat memicu tsunami setinggi 20 meter.

Pernyataan ini menuai beragam respon. Sebagian masyarakat resah dan panik. Terutama yang tinggal di pesisir selatan Pulau Jawa.

Bagi masyarakat pesisir selatan Jawa, tsunami bak hantu yang sedang tidur. Hantu itu bisa saja bangun kapan saja usai dipicu gempa besar.

Tsunami Pangandaran 2006 misalnya, merenggut ratusan jiwa mulai pesisir Jawa Barat, utamanya di Pangandaran dan Cilacap. Puluhan lainnya dinyatakan hilang. Gempa dan tsunami menancapkan trauma teramat dalam bagi warga pesisir.

Prakiraan potensi gempa itu sontak membangunkan ketakutan yang sekian lama terkubur. Masih hangat dalam ingatan, histeria massa ketika gempa magnitudo 6,9 menggoncang Cilacap pada Desember 2017. Puluhan ribu orang mengungsi, secara bersamaan ke tempat lebih tinggi.

Terlebih, prakiraan itu menyebut tsunami setinggi pohon kelapa yang mampu menjangkau daratan hingga empat kilometer. Padahal, di Cilacap dan Kebumen saja, terdapat nyaris seratus desa dan kelurahan rawan terdampak tsunami.

Menanggapi prakiraan gempa megathrust magnitudo 8,8 dan potensi tsunami 20 meter itu, ahli geologi struktur dan kegempaan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Asmoro Widagdo mengatakan bahwa ancaman tsunami memang benar-benar nyata, terutama di pesisir selatan Pulau Jawa.

Sisi selatan berhubungan langsung dengan zona penunjaman lempeng Samudera Hindia-Australia ke bawah Lempeng Benua Eurasia. Bahkan, tsunami dengan ketinggian gelombang kecil telah terjadi berkali-kali.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Riwayat Tsunami Masa Lampau

"Namun apakah tsunami besar pernah terjadi dan akan terjadi di selatan Jawa? Hal ini perlu riset yang lebih mendalam dan komprehensif melibatkan berbagai disiplin ilmu," ucapnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Selasa malam, 23 Juli 2019.

Menurut dia, kemungkinan terjadinya tsunami besar dapat dijawab dengan riwayat tsunami di Pulau Jawa pada masa lampau. Fenomena alam dipelajari dengan prinsip pada hukum geologi di mana kejadian geologi masa kini dapat digunakan sebagai kunci menjelaskan fenomena geologi masa lampau.

Demikian pula, hasil rekam jejak fenomena geologi tsunami masa lampau dapat dijadikan kunci untuk menjawab kemungkinan terjadinya bencana serupa pada masa datang.

Dia bilang, daerah Jawa Tengah selatan antara Cilacap hingga Kebumen merupakan daerah yang ideal untuk penelitian tsunami masa lampau. Di daerah ini dijumpai belasan garis pantai purba dan belasan deretan rawa purba di belakang pantai tersebut.

"Sehingga rekaman jejak tsunami akan kita jumpai di endapan pantai dan rawa purba ini," ucap anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) ini.

Dia mengklaim, pihak Geologi Unsoed telah meneliti dengan pemboran dangkal untuk mengambil contoh batuan dari endapan rawa purba di daerah timur Cilacap. Hasilnya memang ditemukan adanya fragmen batuan gamping dari laut yang lebih dalam pada daerah rawa purba tersebut.

3 dari 3 halaman

Membaca Tsunami dari Rawa dan Pantai Purba

Ini menunjukkan telah terjadi tsunami yang membawa fragmen batu gamping ini. Namun ukuran fragmen yang ditemukan berukuran kerikil.

"Sehingga kami duga bukan tsunami besar yang membawa fragmen batu gamping tersebut ke daerah rawa di belakang pantai," dia mengungkapkan.

Jalur-jalur endapan pantai dan rawa purba yang dijumpai di Cilacap timur hingga Kebumen masih dapat dilihat dengan jelas, setidaknya hingga endapan rawa yang berumur 11.500 tahun. Tim peneliti belum menemukan jejak endapan tsunami besar.

Kesimpulan sementara ini, tsunami yang pernah terjadi di selatan Jawa, khususnya Jawa Tengah, hanya berkuran kecil hingga sedang saja. Sebab, tsunami besar akan merusak deretan pantai purba yang ada. Namun, belasan jejak pantai purba di daerah Cilacap masih terpreservasi dengan bagus.

"Sepertinya belum ada arus yang sangat kuat yang menghapuskannya hingga 11.500 tahun yang lalu. Namun demikian, penelitian terhadap endapan pantai purba yang lebih tua perlu dilakukan," dia menjelaskan.

Dalam kajian bencana lainnya, yakni di patahan aktif, biasanya digunakan istilah aktif bila pernah bergerak dalam kurun waktu 10 ribu tahun terakhir. Patahan ini biasanya sangat dipertimbangkan dalam pembangunan infrastruktur sipil. Fenomena tsunami yang juga terkait dengan aktifnya suatu patahan dapat mengacu pada angka ini.

Menurut dia, gempa kecil-sedang perlu diwaspadai, tetapi tak perlu perlu ditakuti secara berlebihan. Mestinya potensi gempa itu disikapi secara positif dengan membangun kesiapan warga agar mengenal dan siap menghadapi fenomena kebencanaan geologi.

"Dengan kata lain, patahan besar di selatan Jawa tidak perlu dikhawatirkan namun perlu kita kenali lebih lanjut. Patahan kecil akan menghasilkan gempa yang lebih kecil akan sering terjadi di selatan Jawa," ujar Asmoro.

Loading
Artikel Selanjutnya
Ekspedisi Destana BNPB, Siapkan Masyarakat Hadapi Tsunami
Artikel Selanjutnya
Riset Potensi Tsunami di Mars Beri Sinyal Tentang Kehidupan Planet Merah