Sukses

Heboh Sapi Berkepala Dua di Grobogan, Dampak Gerhana Bulan?

Liputan6.com, Grobogan - Warga Desa Ngaringan, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dibuat heboh dengan kelahiran sapi berbentuk aneh. Disebut aneh lantaran sapi memiliki dua kepala, dua mulut, dan empat mata. Dasas-desus warga pun muncul, menghubungkan kelahiran sapi dengan fenomena gerhana bulan yang terjadi beberapa waktu lalu. Bahkan ada yang mengaitkannya dengan hal-hal yang berbau mistis.

"Semua berfungsi. Mata berkedip normal, mulut juga bisa digunakan untuk makan. Mulutnya normal karena saya bantu tarik pakai kain jadi kedua mulutnya berfungsi," kata Suyono, pemilik sapi.

Suyono menuturkan, sapi berkepala dua itu lahir bersamaan dengan momen gerhana bulan, yaitu sekitar pukul 03.30 dini hari. Dari awal perut sapi betinanya terlihat besar, berbeda dari sapi normal yang akan melahirkan.

"Saya pikir akan lahir kembar. Tidak tahunya malah lahir dengan kondisi aneh," katanya.

Kabar lahirnya sapi berkepala dua itu langsung tersebar di media sosial. Warga yang penasaran pun berdatangan ke rumah Suyono.  

Kabar lahirnya sapi tidak normal dengan cepat tersebar ke daerah maupun melalui media sosial. Karenanya, warga terus berdatangan untuk melihat sapi aneh milik Suyono.

Riyanto, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Grobogan mengatakan, anakan sapi itu lahir dari indukan sapi yang berjenis simental peranakan ongole (SimPo) dengan kode strawberry 61566 Q 75.

"Kita sudah ke lokasi untuk melakukan pengamatan dan membantu perawatan yang diperlukan," katanya.

Riyanto menambahkan, anak sapi lahir dengan kepala dua memang sangat jarang terjadi. Namun ia mengimbau warga untuk tidak mengaitkan sapi berbentuk aneh ini dengan hal-hal mistis.

Secara ilmiah, kata Riyanto, kelahiran sapi aneh tersebut terjadi kemungkinan karena kebuntingan kembar yang tidak bisa tumbuh sempurna. Dalam perkembangan masa kebuntingan, pembelahan janin tidak bisa sempurna dan hanya bagian kepala saja yang berkembang sendiri-sendiri. Namun, untuk bagian badannya hanya satu saja yang berkembang. 

"Kondisi ini semacam kembar siam pada manusia dan tak perlu dikait-kaitkan dengan mistis atau apapun," katanya.

 

 

2 dari 2 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini:

Loading