Sukses

Menengok Pembuatan Sepatu Kesehatan nan Modis dari Limbah Salak

Liputan6.com, Yogyakarta - Siapa sangka kulit salak bisa disulap menjadi sepatu modis yang bermanfaat bagi kesehatan. Selama ini orang hanya mengonsumsi buahnya dan membuang kulitnya.

Di tangan para mahasiswa UNY, Nifta Noor Halimah, Nurul Wulan Sari, Evania Dian Widyastuti, Alfi Meilan Khasanah, dan Hasna Ulfah Edwina, kulit dan biji salak, yang selama ini dianggap limbah, diubah menjadi sepatu model kekinian sekaligus berguna untuk terapi refleksi kaki.

"Limbah salak yang terdiri dari kulit salak dan biji salak dapat diproduksi menjadi sepatu akupuntur yang bernilai jual," ujar Nurul mahasiswi prodi Teknologi Pendidikan UNY, Rabu, 10 Juli 2019.

Sepatu yang dimodifikasi secara unik dengan tekstur khas permukaan kulit salak ini menggunakan bahan kulit salak pondoh dan gading. Kulit salak pondoh berwarna cokelat tua, sedangkan salak gading kuning kecokelatan.

Langkah pertama pembuatan adalah memisahkan kulit dan biji salak. Kulit salak yang berkualitas baik digunakan untuk bahan utama pembuatan bodi sepatu, sedangkan kualitas yang kurang baik hanya digunakan untuk hiasan.

Kulit salak yang dipilih adalah yang layu karena kulit salak yang basah menghasilkan kulit yang getas, mudah pecah, dan sulit menempel karena kandungan air yang masih cukup banyak. Untuk biji salak dipilih yang berkualitas.

Biji salak diproses dengan direndam memakai alkohol selama 20 menit, lalu tiriskan. Setelah itu, biji salak dikeringkan dengan menggunakan oven bersuhu 50 derajat Celsius selama dua hari. Kemudian biji salak dicat dengan pernis supaya berkilat.

Pemrosesan kulit salak diawali dengan mencuci menggunakan air bersih lalu direndam menggunakan formalin 0,3 persen selama satu hari. Setelah itu, kulit salak ditiriskan dan dikeringkan menggunakan oven bersuhu 50 derajat Celsius selama 30 menit.

 

2 dari 2 halaman

Cara Membentuk Kulit Salak

Ada dua cara untuk membentuk kulit salak. Pertama, kulit salak ditekan menggunakan mesin press tanpa pemanas. Mesin ini hanya berfungsi untuk meratakan kulit salak supaya mudah dibentuk. Kemudian, kulit salak dilapisi dengan cat karet berulang kali agar kuat dan dibentuk sesuai motif yang dikehendaki.

Potongan selanjutnya dilekatkan pada benda yang akan dibuat dengan terlebih dahulu diberi lem. Agar hasilnya kuat, pemberian lem dilakukan pada bagian benda yang akan menjadi sepatu dan pada bagian kulit salaknya.

Cara kedua, kulit salak ditempelkan ke lembaran kertas dan ditekan menggunakan mesin press pemanas. Lalu kulit salak juga dilapisi cat karet berulang kali dan dibentuk sesuai motif yang diinginkan.

Perbedaan lain dengan cara pertama, jika potongan disambung atau dihubungkan dengan potongan lainnya, maka akan menimbulkan celah yang harus ditutupi dengan material lain, misal, aneka jenis tali atau bahan penutup lainnya misalnya benang nilon.

"Hasil yang diperoleh tentu berbeda dengan hasil pada cara pertama, justru pada model ini terdapat perpaduan bermacam materi yang memerlukan ketrampilan tertentu dalam cara memilih, mengombinasikan dan menyelesaikan dengan teknik yang bervariasi," ucap Nurul.

Sementara, tahap pembuatan sepatu dimulai dari membuat cetakan ukuran kaki dan cetakan bodi sepatu. Kulit salak yang sudah diproses itu menjadi bagian dari bodi sepatu. Lalu, sol dan bodi sepatu disatukan dan diberi tambahan alas kaki dari biji salak untuk pijat refleksi.

Loading