Sukses

Rahasia Petani Purbalingga Pertahankan Surplus Beras

Liputan6.com, Purbalingga - Dibanding Kabupaten Tetangga, Banyumas, sawah di Purbalingga jelas kalah luas. Sebagian wilayah Purbalingga memang berbukit-bukit lantaran diapit oleh lereng Gunung Slamet dan Pegunungan Dieng.

Total luas sawah di Purbalingga hanya 21 ribu hektare lebih. Bandingkan dengan Banyumas yang mencapai 33 ribuan hektare, atau Cilacap yang memiliki luasan sawah tiga kali lipatnya.

Toh, Purbalingga mampu berswasembada beras. Bahkan, tiga tahun terakhir, Purbalingga surplus beras.

Tahun 2018 adalah capaian terbaik produksi beras. Tahun lalu, Purbalingga berhasil membukukan surplus beras sebanyak 69.798 ton.

Capaian surplus beras 2018 lalu lebih baik dari tahun 2017 dan 2016. Pada tahun 2017 surplus hanya sebesar 53 ribu ton dan 2016 sebesar 51 ribu ton.

"Jadi, ada peningkatan yang lumayan segnifikan," kata Kepala Dinas Pertanian Purbalingga, Lily Purwati, beberapa waktu lalu.

Lily meneranglan, dari luasan panen 42.346 hektare, produktifitas rata-rata mencapai 66,44 kuintal gabah kering panen (GKP) per hektare. GKP itu menjadi gabah kering giling (GKG) sebanyak 281.368 ton.

Dengan rendemen beras sebesar 63 persen, beras yang dihasilkan adalah 177.825 ton. Boleh dibilang, Purbalingga bisa surplus beras lantaran tak perpengaruh serangan wereng dan gangguan cuaca ekstrem yang kerap melanda Jawa Tengah bagian selatan tahun lalu.

2 dari 2 halaman

Teknik Tanam dan Pemilihan Varietas Padi

"Penyusutan sebesar 10,49 persen. Jadi, produksi netto beras 159.171 ton. Sedangkan, kebutuhan beras untuk masyarakat Purbalingga selama satu tahun sebanyak 89.373 ton, surplus 69,798 ton," dia menerangkan.

Rupanya, ada rahasia kenapa produksi gabah dan beras petani di Purbalingga terus menanjak naik. Rahasianya adalah teknik tanam dan pemilihan varietas padi yang tahan wereng dan hama lainnya.

Sebab itu, pada 2019 ini, Dinas Pertanian Purbalingga mendorong petani untuk menanam varietas unggul untuk mempertahankan surplus beras pada 2018. Salah satu yang direkomendasikan adalah verietas Inpari.

Lily mengatakan salah satu faktor yang menyebabkan Purbalingga bisa surplus beras adalah penerapan teknik tanam yang baik dan pemilihan varietas padi. Selain berproduksi bagus, varietas yang ditanam juga tahan serangan wereng.

"Tahun kemarin serangan wereng cukup banyak. Namun, petani kita juga sudah mulai pintar dengan menanam varitas inpari yang tahan wereng, tahun 2019 pun sama," dia mengungkapkan.

Tahun 2019 ini, luas tanam padi pada masa tanam pertama (MT 1) periode Oktober 2018 sampai Maret 2019 telah mencapai 19.975 hektare. Jumlah ini mencapai 43,67 persen dari target luas tanam dari Kementerian Pertanian pada periode Oktober 2018 sampai September 2019 yaitu 45.733 hektare.

Ia uga mengimbau agar petani mempercepat musim tanam. Pasalnya, pada Juni mendatang Purbalingga sudah memasuki musim kemarau. Harapannya, saat kemarau tiba, tanaman padi sudah cukup resisten tercekam cuaca kering.

"Juni diprediksi masuk kemarau, nanti setelah panen juga dilakukan gerakan gropyokan.untuk mengatisipasi serangan hama tikus," jelasnya.

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi mengatakan petani perlu menerapkan teknis intensifikasi pertanian. Sebab, luasan lahan pertanian, khususnya di pulau Jawa selalu terjadi tiap tahun. Karenanya, perluasan lahan pertanian mustahil dilakukan di Jawa.

"Dengan bantuan alsintan dan bantuan rehabilitasi irigasi ini diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi pertanian di Kabupaten Purbalingga," ucap bupati.

Saksikan video pilihan berikut:

Loading