Sukses

Awas DBD, 5 Warga Tasikmalaya Meninggal Dunia Sebulan Terakhir,

Liputan6.com, Tasikmalaya Sebanyak lima orang warga Kota Tasikmalaya, Jawa Barat meninggal dunia, akibat serangan mematikan wabah demam berdarah dengue (DBD) sejak awal tahun ini. Korban terbaru, dua orang meninggal dunia, sedangkan total kasus DBD yang berhasil diungkap mencapai 65 kasus.

Kepala Seksi Pencengahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan, Kota Tasikmalaya, Juhandi mengatakan, penyebaran penyakit yang diakibatkan nyamuk Aedes Aegypti ini, terus menunjukan peningkatan dalam sepekan terakhir.

"Kita terus mensialisasikan kepada masyarakat, agar mereka bisa melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)," ujarnya, Sabtu (9/2/2019).

Menurutnya penyebaran DBB semakin mengkhawatirkan, korban pun terus bertambah. Terbaru Ketua RT 01 Agus Suherlan, (55), warga Kampung Aboh, Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Bungursari, serta Naura (3,5) warga Kampung Cicariu, Kelurahan Cigeureung, Kecamatan Cipedes meninggal dunia.

Sedangkan sejak Januari hingga pekan pertama Februari bulan ini, total kasus DBD mencapai 65 kasus, dengan lima di antaranya meninggal dunia. Dalam penyebarannya, wabah ini mengintai ragam usia, mulai anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua.

Untuk menekan penyebaran DBD saat ini, terutama selama musim hujan berlangsung, lembaganya ujar dia, meminta dukungan warga, agar melakukan kampanye pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Selain itu, lembaganya semakin intens menerjunkan petugas pengasapan atau fogging di beberapa titik atau kawasan yang teridentifikasi memiliki rekam jejak penderita atau korban DBD di kota Tasikmalaya.

"Untuk lima kasus meninggal dunia masing-masing berada di Kecamatan Kawalu, Cihideung, Tamansari dan Bungursari," ujarnya.

2 dari 2 halaman

Belum Termasuk KLB DBD

Meskipun telah merenggut lima korban warga, namun Pemerintah kota Tasik, belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD.

"Karena ada ketentuan (KLB) minimal mencapai 106 kasus," ujar Juhandi menambahkan.

Di tengan upaya penangulangan wabah DBD, lembaganya meminta seluruh Rumah Sakit Umum (RSU) di kota Tasik agar memberikan informasi mengenai adanya pasien DBD. "Karena kurangnya petugas lapangan banyak kasus yang belum tercatat," ujarnya.

Sementara Ketua RW 01, Dede Badrudin mengakui jika Agus Suherlan, yang merupak Ketua RT 01, meninggal dunia akibat DBD. Korban dirawat secara intensif selama tiga hari di Rumah Sakit Jasa Kartini, Kota Tasikmalaya.

Awalnya tetangga korban sempat membawa ke Puskesmas, namun akibat kondisi tubuh korban yang terus melemah dengan panas mengigil, dibarengi muntah-muntah, hingga akhirnya dirujuk ke rumah sakit.

Namun sayang, setelah mendapatkan perawatan intensif, akhirnya nyawa korban tidak tertolong. "Kami meminta agar pemerintah daerah harus secepatnya melakukan fogging (pengasapan) agar tidak lagi korban," pinta dia.

Ia pun meminta agar pelaksanaan fogging tahun ini dilakukan secara gratis, tanpa melibatkan iuran dari masyarakat sekitar. "Tahun 2017 lalu kami bayar, sekarang kami minta harus dilakukan dengan biaya dari pemerintah," ujarnya.

DEBAT CAPRES: Energi, Pangan, Infrastruktur, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Sesi 4

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Waspada DBD, Ribuan Tanaman Seledri Dibagikan ke Petani Kediri
Artikel Selanjutnya
58 Warga Sidoarjo Usia Anak hingga Orang Tua Kena DBD