Sukses

Digitalisasi Literasi, yang Berperang dan yang Kalah

Liputan6.com, Batam - "Kalo sampai dia menengok kemari, itu berarti dia berharap kau mengejarnya," kata Pak Limbong ke Rangga. Di hitungan ketiga, benar akhirnya Cinta menengok. Tapi, entah apa yang ada di otak Rangga, ia tak mengejar Cinta. 

Demikian sekelumit adegan kisah Cinta dan Rangga dalam film 'Ada Apa Dengan Cinta'. Adegan itu terjadi di sebuah toko buku bekas. Betapa buku bekas mampu menjadi bumbu percintaan mereka. Betapa pak Limbong sang penjual buku, bisa menjadi tempat curhat bagi Rangga.

Dari film AADC, mari kita berjalan menyusuri Singapura Kecil atau Little Singapore, yakni Batam. Di sebuah sudut kota, diantara gedung tinggi, terselip sebuah ruangan 3 x4 meter dengan cahaya minim. Setumpuk buku menjadi teman pria penjaga ruangan itu.

Tunggu dulu, ia bukan Pak Limbong seperti dalam AADC. Ia adalah Anton. Pedagang buku bekas berbagai genre.

Anton berasal dari Bandung. Ia menjadi jimat kota, satu-satunya pedagang buku-buku lawas di Batam. Sebelas tahun berjualan, dua tahun terakhir ia terlibat dalam sebuah peperangan. Perang melawan digitalisasi literasi.

"Saya mulai jualan disini sekitara tahun 2008," kata Anton, Jumat (18/1/2019).

Anton mengaku, buku-buku bekas itu ia datangkan dari Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Ia mencoba bertahan ditengah gempuran digitalisasi literasi. Tak hanya itu, bahkan ketika banyak pihak berebut menyediakan bacaan secara gratis.

"Bagi saya, buku adalah jendela pengetahuan. Saya menjual buku, bukan hanya uang yang saya dapat, namun juga keberkahan karena berbagi pengetahuan," katanya.

Ruangan yang sempit dan terkesan kumuh itu, menjadi saksi sejarah bagaimana Anton bergulat dengan hidup. Bersilat otak, dan merancang strategi pertempuran melawan nasib.

"Sekarang koleksi buku bekas saya tak sekaya dulu. Lebih banyak berupa komik, buku-buku ekonomi, dan buku-buku petunjuk praktis. Novel, roman dan buku sastra lain mayoritas didominasi penulis dari luar negeri seperti Agatha Christie, dan sejenisnya," kata Anton.

 

2 dari 2 halaman

Gadis Pub, Sebuah Indikator

Anton mengaku para pelanggannya banyak yang memilih mencari e-book. Buku-buku yang berkaitan dengan dunia pendidikan, buku sekolah, maupun diktat kuliah otomatis menyusut karena sudah tersedia versi e-book.

"Yang datang lebih banyak untuk kepentingan nostalgia saja," katanya tersenyum.

Saat ini markas buku Anton memiliki sekitar 10 ribu eksemplar berbagai genre. Namun semua didominasi jenis komik. Sisanya berupa novel dan karya sastra berat yang cukup serius.

"Rata-rata harganya Rp 10 ribu - Rp 35 ribu," katanya.

Lorong Nagoya-Jodoh tempatnya berjualan, juga semakin sepi pejalan kaki. Lorong yang pernah menjadi pusat aktivitas warga itu, sekarang tak beda dengan sebuah lorong kumuh nan seram.

"Lorong ini sekarang sepi," kata Anton.

Anton bertahan dengan modal keyakinan. Pelan tapi pasti kerajaan buku bekas nan lawasnya digerus peradaban, toh ia masih bertahan dengan keyakinannya bahwa Tuhan akan tetap berbagi rejeki melalui penikmat buku lawas yang berkunjung ke tempatnya.

"Dulu ramai. Banyak cewek-cewek yang bekerja di pub, karaoke tinggal di sekitar sini. Sekarang entahlah. Rupanya itu tanda jaman. Sekarang mencari Rp 200 ribu sepekan sudah sangat susah," katanya.

Tak ada lagi pembeli dari Batam. Mayoritas yang datang berasal dari Tanjung Pinang, Karimun, dan Anambas.

 

Simak video menarik berikut:

Dipercaya Berkekuatan Magis, Penduduk Desa Ini Minum Lumpur

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Kebijakan Bagasi Pesawat Berbayar Bikin Pengusaha Oleh-Oleh Batam Ketar-ketir
Artikel Selanjutnya
Tertahan 3 Hari di Hang Nadim, Pesawat Kargo Ethiopian Airlines Diizinkan Terbang