Sukses

Heboh Api Menyembur dari Retakan Tanah Longsor di Banjarnegara

Liputan6.com, Banjarnegara - Sebuah video amatir retakan tanah longsor mengeluarkan api beredar viral di berbagai lini massa. Belakangan diketahui, fenomena itu terjadi di Mojotengah, Banjarmangu, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Dalam tayangan video berdurasi kurang lebih dua menit itu, dua warga mendapati api berkobar dari dalam retakan tanah longsor di jalan setapak. Mereka pun tampak khawatir.

Dalam bahasa lokal, mereka menyebut fenomena keluarnya api dari dalam tanah baru pertama kali terjadi di desa tersebut. Mereka menganggap ini adalah pertanda buruk.

Bahkan, mereka pun khawatir dan menghubungkan semburan api dari retakan tanah sebagai pertanda kiamat. "Basanu arep kiamat," ucap mereka dalam bahasa Banyumasan. Kurang lebih artinya adalah "Jangan-jangan pertanda kiamat".

Di sisi lain, mereka juga penasaran. Dua orang berusaha memadamkan api yang muncul ini.

Anehnya, saat diinjak agar retakan tanah jadi mampat, api ini justru bertambah besar. Bekas tanah yang diinjak itu bahkan turut terbakar.

Terkait fenomena munculnya api dari retakan tanah longsor ini, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surip mengatakan api dari retakan itu bisa dipastikan lantaran ada kandungan gas.

Hanya saja, PVMBG belum bisa menyimpulkan jenis gasnya. Ia menduga api yang keluar dari dalam tanah itu dipantik oleh aktivitas manusia.

Untuk itu, PVMBG pada Selasa dan Rabu ini mulai meneliti fenomena munculnya api dari retakan tanah akibat longsor ini. Hasil observasi di lapangan dan hasil wawancara dengan warga belum diketahui pasti pemantik api di retakan tanah ini. Sebab warga mendapati retakan itu sudah menyala.

"Bisa putung rokok, maupun sengaja dipantik. Tapi warga menyatakan mereka menemukan sudah dalam keadaan menyala," Surip mengungkapkan, Selasa malam, 12 Desember 2018.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Potensi Gas Beracun?

Surip menerangkan, saat tim memeriksa retakan di Dusun Mojotengah ini, kondisi retakan stabil dan berhenti mengeluarkan gas. Akan tetapi, PVMBG tetap akan melanjutkan pemeriksaan untuk mengetahui jenis gas yang keluar dari kawasan ini.

Hasil penelitian sementara, PVMBG tak mendeteksi potensi gas beracun dari retakan ini. Dia menduga gas yang keluar itu merupakan gas alam.

Namun, belum dapat dipastikan apakah gas itu berasal dari bahan bakar fosil yang berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan dan mikroorganisme, tersimpan dalam di bawah tanah selama jutaan tahun atau gas metana yang terproses di dalam tanah dalam jangka waktu lebih pendek.

"Ya, yang keluar gas cuma satu titik. Kemudian kita gali sedalam 30 sentimeter. Tidak ditemukan gas berbahaya. Mungkin gas alam ya," jelasnya.

Karenanya, pada Rabu, tim PVMBG pusat kembali memeriksa retakan ini dan akan membawa sampel ke laboratorium agar diketahui kandungan jenis gasnya.

Surip mengakui, fenomena retakan yang mengeluarkan api ini juga sempat membuat warga Mojotengah resah. Mereka khawatir ada aktivitas vulkanik atau gas beracun yang membahayakan warga.

Kawasan ditemukannya retakan yang mengeluarkan gas ini merupakan wilayah tanah labil. Nyaris semua kawasan di daerah ini retak-retak akibat longsor.

"Tim yang dari pusat akan turun ke lapangan. Kemudian sampel akan dibawa ke laboratorium," dia menerangkan.

Loading
Artikel Selanjutnya
Tanah Tiba-Tiba Retak 300 Meter, Warga Banjarnegara Waswas