Sukses

Tempat Nasi Gratis Curi Perhatian Warga Bandung

Liputan6.com, Bandung Etalase berukuran sekitar 50 cm x 100 cm yang berdiri di pinggir Jalan Cibodas Raya, Antapani, Kota Bandung, menyita perhatian. Lemari kaca transparan itu tampak beberapa bungkusan mirip nasi bungkus dan minuman.

Bagian pintu etalasenya tertutup, tetapi tidak terkunci. Sehingga siapa saja bisa dengan mudah mengambil isinya. Rupanya isi etalase memang berisi nasi bungkus dan minuman. Oleh pemiliknya sengaja diletakkan dan digratiskan untuk semua orang.

Itu ditegaskan dalam tulisan yang terdapat di bagian bawah etalase, "Tempat Nasi Gratis" yang ditempel di depan etalase. Siapa saja boleh mengambil nasi dan minuman tanpa dipungut biaya.

Ari (40), salah seorang marbot masjid di lingkungan tersebut mengatakan, keberadaan lemari kaca memang sengaja untuk "mengundang" siapa saja yang ingin mengambil nasi bungkus secara gratis.

"Ini sudah hari keempat. Biasanya kalau tidak hujan, saya tempatkan di pinggir jalan," ucap Ari yang sehari-hari bertugas mengontrol lemari tersebut, Jumat (9/11/2018).

Ari menyebut, pengelola etalase adalah Nia Masniari. Seorang rekan Nia, Rochsan Rudyantho Alibasyah, yang menginisiasi gerakan berbagi nasi gratis tersebut.

"Nasi bungkus di sini tidak berbayar. Setiap hari disediakan 20 bungkus," kata dia.

Ari menambahkan, dirinya tidak setiap jam mengontrol isi etalase. Namun, jika nasi tidak habis, dirinya akan membagikan kepada warga sekitar.

"Kalau yang datang bisa siapa saja. Orang yang kebetulan melintas juga banyak. Bukanya sampai sore saja," tutur dia.

2 dari 2 halaman

Berawal dari Media Sosial

Rochsan, inisiator Tempat Nasi Gratis di Bandung mengungkapkan, awalnya ia mengunggah foto mengenai gerakan berbagi nasi gratis di media sosial Facebook. Mendadak sontak hal itu mengundang respons rekan-rekannya.

"Teman-teman saya kemudian mengajak bagaimana kalau bikin gerakan serupa," ujar Kang Apuy, sapaan akrabnya, saat ditemui Liputan6.com.

Lalu, ia pun mencari informasi tempat pembuatan lemari, katering rumahan yang memproduksi makanan, hingga pemilihan lokasi etalase.

"Awalnya lemari didapatkan Rp 1,7 juta. Setelah lemari jadi, teman saya yang ada sekitar 10 orang itu ada yang mulai menyiapkan isinya," katanya.

Untuk nasi dan lauk pauk, Kang Apuy memesan di katering rumahan yang menyediakan menu Rp 12.000 per porsi. Sedangkan pemilihan lokasi penyebaran tempat nasi gratis didasarkan pada domisili rekannya, guna memastikan distribusi nasi berjalan lancar.

"Walau katering rumahan yang kecil syaratnya harus bersih dan enak," jelasnya.

Dari hasil urunan sebanyak dua lemari ditempatkan di Jalan Burangrang, Kota Bandung, dan Jalan Wangsaniaga, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan pun dimulai sejak 25 Oktober 2018.

Lama-lama, Tempat Nasi Gratis semakin banyak diketahui orang. Salah satunya Nia Masniari yang bersedia menyediakan tempat agar etalase nasi bungkus di kawasan Cibodas.

"Jadi sekarang sudah ada tiga titik. Saya tidak akan menyangka gerakannya jadi meluas seperti sekarang ini. Bahkan ada warga yang ikut menyumbng nasi dan lauk pauknya secara langsung," ucap pria berusia 59 tahun itu.

Tempat Makan Gratis, buka dari pukul 10 pagi hingga 4 sore. Buka setiap Senin-Sabtu, tapi untuk beberapa lokasi ada yang buka hingga Minggu.

"Saya merasa bukan orang pertama yang melakukan gerakan ini. Semua murni karena kemanusiaan saja. Kita juga tidak membagikan nasi, tetapi membagikan kebahagiaan melalui sebuah nasi," ucapnya.

Artikel Selanjutnya
3 Destinasi Wisata yang Bikin Bandung Unggul dari Sakhalin City Rusia
Artikel Selanjutnya
Hore, Bandung Menang Adu Wisata dengan Kota Sakhalin Rusia di Reality Show Korea