Sukses

Penyebab Seorang Penumpang Kapal Terbakar di Kalsel Kehilangan Nyawa

Liputan6.com, Banjarmasin - Satu penumpang kapal terbakar, KM Satya Kencana IX, di sekitar perairan Tanjung Selatan pada Sabtu pagi tadi, meninggal dunia. Menurut Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Banjarmasin, korban mengembuskan napas terakhir lantaran kelelahan.

Kepala SAR Banjarmasin Mujiono mengatakan, menurut informasi korban kapal terbakar itu juga sudah berusia lanjut dan sakit jantung. Ia menjelaskan pula bahwa saat ini 112 dari 225 penumpang KM Satya Kencana IX telah berhasil dievakuasi oleh tim dari kapal Niki Sae.

Dari 112 orang tersebut, satu di antaranya meninggal dunia. Sedangkan 111 lainnya selamat dan kini dalam proses pemulihan baik fisik maupun mental.

"Berdasarkan informasi yang kami dapat dari stasiun pantai yang terhubung dengan kapal Niki Sae, saat terjadi kebakaran, banyak penumpang yang meloncat ke air, mereka sedang kita cari," ucapnya di Banjarmasin, Sabtu (4/8/2018), diwartakan Antara.

Ia menambahkan, kapal-kapal sudah dikerahkan menuju lokasi kecelakaan kapal guna membantu evakuasi penumpang. Hanya saja, perjalanan dari Pelabuhan Basirih menuju tempat kejadian memakan waktu hingga lima jam, sehingga pertolongan tidak bisa dilakukan lebih cepat.

"Kami baru mendengar terjadinya kapal terbakar sekitar pukul 09.00 Wita, perjalanan dari Pelabuhan Basirih hingga ke lokasi, tidak kurang dari lima jam, sehingga perlu waktu panjang," ujarnya.

Salah satu jalan untuk membantu korban adalah berkoordinasi dengan seluruh kapal yang berada tidak jauh dari kejadian kebakaran. Saat ini, KM Niki Sae yang membawa sebagian korban kecelakaan kapal sedang dalam perjalanan menuju Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin

KM Satya Kencana IX terbakar di sekitar 54 mil barat daya perairan Tanjung Selatan dalam pelayaran dari Pelabuhan Surabaya menuju Banjarmasin, pada Sabtu pagi tadi sekitar pukul 05.35 Wita.

Kapal terbakar tersebut tersebut kini telah berhasil lego jangkar. Alhasil, evakuasi para penumpang lebih mudah dilakukan.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

2 dari 2 halaman

Tim Evakuasi dan Relawan Siaga di Banjarmasin

Sebelumnya, para anggota tim evakuasi dan relawan dari berbagai organisasi siaga di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Mereka menantikan kedatangan penumpang KM Satya Kencana IX yang terbakar di perairan Tanjung Selatan, pada Sabtu pagi tadi.

Tim dari Badan SAR Nasional, PMI, Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kalimantan Selatan, Dinas Kesehatan, serta Kantor Pencarian dan Pertolongan Banjarmasin berkumpul di Terminal Penumpang Bandarmasih Pelabuhan Trisakti. Beberapa ambulans juga disiagakan untuk mengangkut korban kecelakaan kapal yang membutuhkan perawatan medis.

Menurut Kementerian Perhubungan, seluruh penumpang sudah berhasil dievakuasi dari KM Satya Kencana yang terbakar. Evakuasi penumpang kapal itu antara lain dilakukan dengan dukungan beberapa kapal.

"Saat ini KM Nikki Sea membawa penumpang korban kapal terbakar sebanyak 114 orang, tidak lama lagi akan sandar di pelabuhan," kata anggota Basarnas Andi Zainuddin di Banjarmasin, dilansir Antara.

"Kami akan mengatur jalur evakuasi agar semua berjalan lancar dan tidak ada kendala nantinya," katanya.

Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Banjarmasin menyatakan satu orang meninggal dunia akibat terbakarnya KM Satya Kencana IX di perairan sekitar 54 kilometer barat daya Tanjung Selatan di Kalimantan Selatan, pada Sabtu pagi.

"Sampai saat ini info yang kami terima dari lapangan seluruh penumpang 225 orang sudah dievakuasi. Sebanyak 224 orang dalam keadaan selamat, satu orang meninggal dunia," kata Kepala Sub Seksi Sumber Daya Kantor SAR Banjarmasin Endrow Sasmita.

Endrow menjelaskan bahwa KM Satya Kencana IX menurut manifes membawa 178 penumpang dan 47 anak buah kapal. Seluruh penumpang kapal itu sudah dievakuasi dengan bantuan beberapa kapal, termasuk KM Niki Sae yang membawa 141 orang dan KM Kumala yang membawa 84 orang.

Loading
Artikel Selanjutnya
Operasi Penyelamatan 225 Penumpang Kapal Terbakar di Kalimantan Selatan
Artikel Selanjutnya
Asa Nenek Mustika Sang Guru Ngaji, Jalani Hidup di Rumah Reyot