Sukses

BERITA TERKINI:JELANG PENGUMUMAN KABINET JOKOWI JILID 2

Gotong Royong di Lereng Gunung Semeru Bersihkan Ranupani

Liputan6.com, Malang - Sedimentasi di kawasan Ranupani, di Gunung Semeru semakin tinggi. Permukaan salah satu danau di gunung tertinggi di pulau Jawa ini juga semakin tertutup oleh tanaman paku air kiambang atau Salvinia molesta.

Kedalaman Ranupani semula mencapai 12 meter kini hanya menyentuh 6 meter saja. Sementara, luasnya menyusut dari semula 6,7 hektare (ha) kini hanya tersisa sekitar 4,7 ha. Ekosistem di lereng Gunung Semeru pun semakin terancam dengan situasi itu.

Kepala Subbagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) Sarif Hidayat mengatakan, pengelola taman nasional bersama sejumlah komunitas akan membersihkan Ranupani dari sedimentasi dan kiambang.

"Gotong royong ini bertujuan untuk memulihkan kondisi kawasan Ranupani supaya terbebas dari semua itu," kata Sarif di Malang, Jumat, 27 April 2018.

Gotong royong membersihkan Ranupani ini digelar pada Minggu, 29 April 2018. BB TNBTS juga mengajak masyarakat dan komunitas pencinta lingkungan untuk bersama terlibat bergotong royong. Kegiatan ini diberi nama "Berpacu Menyelamatkan Ranupani di Kaki Semeru".

Gotong royong bersih-bersih Ranupani dilakukan dengan metode manual, menggunakan alat sederhana, mulai dari bambu, garpu sampah, tampar, dan perahu. Cara ini lebih efektif untuk mengangkut Ki Ambang ke tepian danau.

Sarif mengatakan, kegiatan bersih danau ini tak hanya digelar pada 2018 ini, tetapi hampir tiap tahun. Setelah gotong royong ini, pengelola taman nasional akan lebih mengintensifkan upaya memantau Ranupani. Jika ada indikasi kiambang tumbuh lagi, secepatnya dibersihkan.

"Sehingga tak sampai menutup hampir separuh permukaan danau tersebut. Pengawasan ini lebih kita tingkatkan pada tahun ini," ucap Sarif.

2 dari 2 halaman

Penyebab Sedimentasi Ranupani

Ranupani merupakan salah satu ekosistem di Gunung Semeru. Selain danau ini, masih ada Ranu Regulo, Ranu Tompe, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan, dan Ranu Kuning. Seluruh ranu atau danau itu menjadi daya tarik khas yang dimiliki Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Di antara keenam ranu itu, Ranupani paling terancam rusak akibat sedimentasi. Salah satu penyebabnya, lahan pertanian warga di lereng gunung, berada di atas Ranupani. Pola pertanian itu menyebabkan longsoran tanah jatuh ke dalam ranu.

"Ada indikasi sedimentasi ini disebabkan aktivitas buangan dari pola pertanian yang ada di atas ranu itu," kata Sarif Hidayat.

Adapun, kiambang atau Salvinia molesta merupakan tanaman asing yang berasal dari Amerika Selatan. Sampai saat ini, belum bisa dijelaskan bagaimana tanaman ini bisa menutupi permukaan Ranupani.

Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada masa Hindia Belanda menjadi salah satu laboratorium botani. Kuat dugaan tanaman ini dibawa ahli botani Belanda untuk kepentingan penelitian. Saat ini, di kawasan tersebut masih banyak tanaman asing yang berpotensi mendesak keberadaan tanaman endemik Semeru.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Kebakaran di Gunung Semeru Potensi Semakin Meluas karena Angin Kencang
Artikel Selanjutnya
Gunung Semeru Terbakar, Pendaki Diminta Hanya Sampai Ranu Kumbolo