Sukses

15 Sekolah Aman Bencana di Timor Tengah Selatan

Liputan6.com, Kupang Plan Internasional Indonesia dan Plan Korea serta KOICA melalui dukungan dana dari Mirae Asset Daewoo melaksanakan program sekolah aman bencana di 15 Sekolah Dasar (SD)  di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Nusa Tenggara Timur (NTT).

Country Director Plan Internasional, Myrna Evora, mengatakan, Plan dan Pemerintah Kabupaten TTS bersama sejak 2015 dan telah melaksanakan program sekolah aman bencana di 15 Sekolah Dasar rawan bencana di 15 desa di Kabupaten TTS. 

Program sekolah aman ini lanjut Myrna, merupakan kerjasama Plan International Indonesia dengan dukungan dana dari Plan Korea Nasional Office, Mirae Asset Daewoo dan Korea Internasional Coorporation Agensi (KOICA) dan pemerintah daerah TTS.

Plan dan pemerintah Kabupaten TTS terus berupaya untuk memberikan akses pada lingkungan belajar yang aman untuk anak-anak melalui perkuatan bangunan dan fasilitas sekolah yang aman, peningkatan pengetahuan kesiapsiagaan bencana di sekolah serta penguatan jaringan kerjasama program relawan Korea Selatan. 

"Salah satu keberhasilan program ini adalah pembuatan media kampanye ramah anak tentang sekolah aman melalui permainan digital," ujar Myrna dalam acara penutupan Project Sekolah Aman di SDI Nenohaheun saat acara penutupan program sekolah aman bencana, belum lama ini.

Dia mengatakan,permainan digital tentang sekolah aman telah diunduh lebih dari 79.00p melalui Android dan dipromosikan dalam berbagai event penting di nasional dan internasional.

Promosi di tingkat dunia seperti, peringatan bulan PRB, konferensi sekolah aman tingkat ASEAN, konferensi global untuk PRB di Sendai Jepang, konferensi tingkat tinggi para manteri Asia di India dan platform global untuk PRB di Mexico. 

Menurut Myrna, NTT adalah daerah yang rawan bencana. Khusus wilayah TTS, di tahun 2011 tercatat adanya darurat bencana sebanyak 20 kali dengan korban 40 persen adalah anak-anak.

"Program sekolah aman pedesaan tujuannya untuk meningkatan akses ke lingkungan belajar yang aman bagi anak-anak dan masyarakat yang berada di daerah rawan bencana di TTS," kata Myrna. 

 

 

1 dari 2 halaman

6 Poin Kesepakatan

Kepala Sekolah SDI Nenohaheun Albinus Alle mengaku, kehadiran Plan International Indonesia melalui program sekolah aman sangat terbantu dan memotivasi guru-guru dan siswa. Sekolah yang dipimpinnya mengalami perubahan berkat program dari Plan International. 

"Kita berharap program sekolah aman ini berkelanjutan dan bisa tersebar di seluruh NTT,"ucapnya. 

Dalam acara itu dilakukan penandatanganan komitmen bersama antara Plan International Indonesia dengan Dinas Pendidikan Kabupaten TTS, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten TTS. 

Ada enam poin komitmen yang menjadi kesepakatan pemerintah Kabupaten TTS untuk menjamin keberlanjutan program sekolah aman bencana.

Enam poin itu diantaranya, sosialisasi program ini ke seluruh sekolah di wilayah Kabupaten TTS, terutama yang berada di lokasi rawan bencana, dengan melibatkan dan memobilisasi guru-guru dan komite sekolah dari 15 sekolah yang telah menjadi dampingan Plan International Indonesia. 

15 sekolah di Kabupaten TTS yang telah menjadi dampingan Plan International yakni, SDI Nenonaheun, SD Sini Desa Sini, SDK Yaswari Oenangkai, SDN Nifukiu, SDI Bileon, SDI, SDK Belle, SDN Tessiayofanu, SDI Billa, SDN Pisan, SDN Oeusapi, SDN Oeleu Utara, SDK Yaswari Kako, SDK Yaswari Fatuhilik dan SDN Oeleon.

Hadir dalam acara itu, Assistant Country Director KOICO Indonesia, Ms Young In Lee, Director Plan Korea, Mr Jehong Park yang didampingi oleh Country Director Plan International Indonesia, Myrna Evora dan Lead Program Manager Plan International Indonesia Wahyu Kuncoro.

Artikel Selanjutnya
Gempa Guncang Aceh dan Papua
Artikel Selanjutnya
Mensos Pastikan Gunung Merapi Aman Dikunjungi Wisatawan