Sukses

Warga Menggerutu, Trotoar Diperbaiki Malah Jadi Miring

Liputan6.com, Garut - Entah perencanaan dan pengerjaan yang asal-asalan, trotoar di sepanjang Jalan Cimanuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjadi miring. Alhasil, pejalan kaki dan warga sekitar pun menggerutu.

"Ini aneh sekali baru pertama kali ada trotoar miring, membahayakan," ujar Ketua RW 004 Kelurahan Jayawaras, Uun, Rabu (13/12/2017) pagi.

Menurutnya, pembangunan proyek perbaikan trotoar dan gorong-gorong sepanjang Leuwidaun hingga Pedes jauh dari harapan warga, termasuk tidak sesuai gambar perencanaan.

"Ketika ditanya ke petugas alasannya karena diminta pemilik rumah, pas ditanya ke para pemilik rumah, ternyata tidak ada yang minta bahkan keberatan (trotoar miring)," kata dia.

Dalam pantauan Liputan6.com di lapangan, pembangunan lantai trotoar sepanjang hampir 1,5 kilometer itu memang tidak rata, bahkan tingkat kemiringan mencapai 25 derajat dengan posisi nyaris rata dengan jalan raya.

Padahal, sebelumnya, trotoar itu berada di atas jalan raya. Tujuannya menjaga keamanan pejalan kaki saat melintas ke trotoar.

Selain itu, juga melindungi rumah warga yang berada di pinggir jalan. Uun menuturkan, ratusan pemilik rumah yang berada di pinggir jalan itu kini was-was. Kondisi trotoar yang setara dengan jalan raya membuat air rawan masuk rumah.

"Sekarang hujan sedikit, air langsung masuk halaman rumah, sebab tidak ada yang menghalangi," kata dia.

Jaelani, Ketua RW 003, menambahkan, pengerjaan proyek senilai Rp 4,5 miliar itu dinilai tanpa pengawasan yang ketat, sehingga pengerjaannya terkesan seadanya.

"Kami sebagai warga minta semuanya dibongkar dan diperbaiki, atau kami yang bongkar," ujarnya sedikit mengancam.

Saksikan video pilihan berikut:

 

1 dari 2 halaman

Sudah Sesuai Aturan

Selama proyek tersebut berlangsung, ujar dia, satu warga telah meninggal dunia akibat terseret kendaraan saat berjalan dekat tumpukan material milik pengembang proyek trotoar tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Garut Uu Saepudin mengakui adanya penurunan ketinggian trotoar. Menurutnya, konstruksi yang diterapkan telah disesuaikan dengan kajian dan kondisi masyarakat sekitar.

"Saya lihat RK (Ridwan Kamil) di Dago menggunakan desain (trotoar) rendah juga, kenapa di Garut tidak bisa?" ujarnya heran.

Lembaganya menilai, sesuai kebutuhan dan fungsi jalan sepanjang Jalan Cimanuk tempat proyek dilangsungkan, kondisi bahu jalan kerap dipakai pengguna mobil untuk tempat parkir.

"Jadi kontruksinya tidak asal, tapi dibuat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang diinginkan oleh pelaku (masyarakat) trotoar di sana," ujarnya.

Meskipun ada penolakan warga, ia memastikan pengerjaan proyek tetap berjalan sesuai jadwal hingga 20 Desember mendatang.

"Tidak boleh tidak harus beres, tanggal 20 closed (beres), biar nanti perbaikannya setelah ada penilaian," ujarnya.