Sukses

Cerita Sukarno dan Gairah Seni yang Berkobar

Liputan6.com, Yogyakarta - Selama ini orang mengenal Sukarno, sang proklamator sekaligus Presiden Pertama RI sebagai seorang politikus. Deskripsi dalam literatur sejarah kerap menonjolkan aktivitasnya di bidang kenegaraan. Di balik sosok orator ulung itu, nyatanya tersimpan gairah seni yang meluap-luap.

Bukti kecintaannya terhadap seni ditunjukkan melalui koleksi lukisan dan kedekatannya dengan para seniman lukis. Tercatat, sekitar 50 perupa di zamannya menjadi teman akrab sekaligus rekan menciptakan karya seni yang sampai sekarang masih bisa dinikmati.

Bukti-bukti kegemaran Sukarno terhadap lukisan dan dunia seni rupa terlihat dari 135 foto yang dipamerkan di Jogja Gallery. Pameran bertajuk "Sukarno, Pemuda, dan Seni" itu digelar Kinara Vidya serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 27-30 September 2017.

"Foto-foto yang diperoleh dari koleksi pribadi kerabat dan keluarga Soekarno, seniman, serta Sekretariat Negara itu menceritakan cara bapak pendiri bangsa itu memaknai koleksi lukisannya," ujar Mikke Susanto, kurator pameran, di sela-sela pembukaan pameran, Rabu, 27 September 2017.

Ada empat klasifikasi cerita dalam pameran foto itu. Pertama, "Soekarno, Diri, dan Keluarga" yang menggambarkan kepribadian unik Sukarno yang suka lukisan dan menggambar. Kesehariannya tidak bisa dilepaskan dari lukisan.

Beberapa foto yang menggambarkan kedekatan Sukarno dengan lukisan, antara lain, foto Sukarno dan Ratna Sari Dewi berlatar lukisan Basuki Abdullah pada 1960-an, foto Sukarno di meja kerja berlatar buku dan lukisan, dan foto Sukarno bersama Megawati di depan lukisan Ries Mulder.

"Bahkan Sukarno pernah mengatakan jika tak jadi presiden, cita-citanya adalah menjadi pelukis," kata Mikke.

Sebagian foto di bagian pertama ini juga bercerita aktivitas Sukarno ketika berkunjung ke luar negeri. Nyaris tidak ada media massa yang memberitakan kegiatan Sukarno berkunjung ke museum dan galeri seni di setiap negara.

Bukti autentik justru terekam lewat foto Sukarno bersama Kepala National Gallery USA, David Findley pada 1956 dan kunjungan Sukarno ke museum seni rupa di luar negeri pada 1950.Klasifikasi kedua berjudul "Soekarno dan Perupa" yang memamerkan foto-foto kedekatan Sukarno dengan perupa. Nama-nama besar seperti Dullah, Affandi, Basuki Abdullah, dan Edhi Sunarso termasuk di dalamnya. Bahkan, dalam ruang pameran ada satu pojok khusus yang memajang foto-foto Sukarno dengan Edhi Soenarso.

Kedekatan Sukarno dengan mahasiswa ASRI Yogyakarta itu menghasilkan tiga monumen besar di Jakarta, Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Patung Dirgantara Pancoran, dan Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Benteng.

Mikke menuturkan, ribuan lukisan koleksi Sukarno tersimpan di enam istana negara yang ada di Indonesia. Cara Sukarno memperoleh lukisan itu pun beragam, mulai dari membeli sampai diberi.

"Ada pula yang berutang atau kredit," kata Mikke.

 

 

2 dari 2 halaman

Sukarno dan Affandi

Ia bercerita suatu ketika Affandi butuh uang untuk membawa istrinya berobat dan menagih pembayaran lukisan ke Sukarno. Sayangnya, Sukarno tidak memiliki sejumlah uang yang diminta Affandi. Ia menawari Affandi dokter istana untuk mengobati istrinya, membawakan makanan, serta memberi pelukis itu sebuah pulpen milik Soekarno yang bertuliskan "Presiden Pertama RI".

"Dua tawaran Sukarno diterima Affandi, tetapi pulpen ditolak. Menurut saya, alasannya masuk akal karena jika pulpen itu dijual ke orang lain, ada kemungkinan Affandi dikira mencuri pulpen itu," tuturnya.

Klasifikasi ketiga bertema "Soekarno dan Karya Seni" yang menggambarkan karya seni rupa adalah salah satu anak-anak ideologisnya. Bahkan saking cintanya dengan seni lukis, Sukarno pernah menampar pembantunya karena menjual sebuah lukisan saat di Pegangsaan Timur.

Terakhir, foto-foto yang menggambarkan kedekatan Sukarno dan tamu istana. Ia menjadi pemandu ketika tamu negara datang dan bercerita detail tentang karya seni yang dimilikinya. Foto Duta Besar Yugoslavia di Istana Merdeka pada 1960 dan PM Rusia Nokia Kurchev meninjau lukisan di Istana Tampaksiring Bali 1957 menjadi salah satu bukti dokumentasi.

Sejarawan Universitas Sanata Dharma (USD) Baskara T Wardaya menjelaskan melalui pameran ini terlihat Sukarno bukan hanya seorang orator ulung, politikus, dan proklamator, tetapi dia juga sosok manusia yang cinta kepada manusia melalui karya seni.

"Sukarno membangun Indonesia tidak hanya struktur luar yang kasat mata, tetapi juga membangun manusia Indonesia, melalui seni yang memungkinkan dia untuk masuk ke sana," ujar Baskara.

Ia menilai, bagi Sukarno, seni sangat berharga dan dia tersinggung ketika pembantunya melecehkan dan muncul insiden tamparan. "Ini satu insiden, luapan emosi sesaat," ucapnya.

Ia mengungkapkan ada tiga hal yang bisa dipetik dan dijadikan pembelajaran dari pameran ini, yakni dalam relasi sosial tidak hanya mementingkan relasi politik atau transaksional, tetapi juga aspek kemanusiaan termasuk seni di dalamnya.

Pameran seperti ini menghubungkan manusia masa kini dengan masa lalu sehingga terdorong untuk belajar sejarah, dan pameran yang melibatkan anak muda ini menjadi cara bagus untuk menanamkan cinta bangsa kepada generasi masa kini.