Sukses

Kode Predator Seksual Pemangsa 16 Bocah, 'Tak Ajak Saru-Saru'

Liputan6.com, Karanganyar - Polisi Resort (Polres) Karanganyar menangkap seorang pemulung yang diduga sebagai predator seksual anak. Berdasarkan pemeriksaan, diketahui pelaku pedofil itu menyodomi 16 bocah lelaki.

Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak mengatakan, pengungkapan kasus sodomi yang dilakukan pelaku berinisial F bermula dari pengakuan salah satu korban ARR yang merupakan siswa Sekolah Dasar (SD). Dalam pengakuan kepada gurunya, bocah tersebut mengaku dicabuli di toilet oleh pemulung itu pada akhir 2016 lalu.

"‎Adanya pengaduan dan pelaporan dari siswa kepada gurunya, kemudian pihak sekolah menceritakan pengakuan siswa itu kepada orangtuanya. Keluarga langsung melaporkan kepada polisi pada tanggal 15 Maret 2017 dan pada tanggal itu pelaku ditangkap bersama barang bukti dari korban," kata Ade di Mapolres Karanganyar, Jawa Tengah, Senin, 20 Maret 2017.

Ade mengungkapkan berdasarkan pengakuan dari korban ARR, pelaku telah mencabulinya sebanyak tiga kali. Tak hanya itu, dari hasil keterangan yang diperoleh penyidik dalam pemeriksaan, predator seksual anak itu juga mencabuli 15 anak lelaki lainnya.

"Mayoritas korban yang disodomi berusia antara 8-10 tahun. Namun dari jumlah itu, baru dua korban yang melapor dan telah menjalani visum. Untuk itu, polisi masih akan terus melakukan pendekatan dengan keluarga korban lainnya untuk melapor," ucap Ade.

Jika modus yang dilakukan pemulung itu adalah dengan mengajak korban sambil mengatakan 'arep tak ajak saru-saru'. Biasanya, para korban menolak dan melawan. Namun, predator seksual anak itu itu langsung menarik kerah baju para korbannya tersebut sambil mengajaknya untuk berjalan menuju lokasi sodomi.

"Setelah itu, anak-anak yang menjadi korban akan dipaksa untuk melucuti celananya. Kemudian, pelaku F yang pemulung itu akan membelakangi korban dan menjepitkan alat vitalnya di selangkangan korban dan memasukan ke anusnya," kata dia.

Menurut pengakuan F, aksi bejatnya tersebut dilakoni sejak 2003 hingga 2016 lalu. Aksi sodomi terhadap para korban kerap dilakukan di toilet dan gudang. Dia kerap memberi uang kepada korban usai melampiaskan hawa nafsunya itu.

"Setelah melakukan sodomi ‎saya kasih uang Rp 2 ribu. Saya tidak mengancam korban. Anak-anak yang saya sodomi, sebagian besar saya kenal," ucap F, predator seksual anak tersebut.