Sukses

Masjid dan Gereja Bersanding Mesra di Malang

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Kota Malang, Jawa Timur, menjamin toleransi antar-umat beragama. Bahkan kota ini pernah mendapat penghargaan dari Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) tingkat Jawa Timur sebagai daerah paling toleran.

"Malang ini sangat toleran, bahkan FKUB Jawa Timur memberi penghargaan ke kami pada tahun 2015 lalu karena kerukunan antar-umat beragamanya tertinggi nomor satu se Jawa Timur," kata Wakil Wali Kota Malang, Sutiaji di Malang, Jatim, Kamis 11 Agustus 2016.

Indikatornya, selama ini tak pernah ada konflik antar-umat beragama di Kota Malang. Kalau pun ada sedikit persoalan, selalu bisa diselesaikan dengan baik tanpa menimbulkan gejolak. Karena itulah, Sutiaji menilai selama ini kerukunan antar-umat beragama di kotanya sangat baik.

Toleransi antarumat beragama di Kota Malang ini tergambar jelas dengan keberadaan Masjid Agung Jami dan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) di sebelah barat Alun-alun Merdeka Kota Malang. Kedua tempat ibadah yang hanya dipisahkan oleh sebuah gedung umum.

Saat perayaan hari besar tertantu, kedua pengurus tempat ibadah saling mengabarkan dan meminta izin. Saat shalat idul fitri maupun idul kurban, banyak jamaah Masjid Agung Jami yang tak kebagian tempat di dalam masjid, memilih shalat di pelataran gereja. Pengurus gereja juga sering kali mengabarkan ke pengurus masjid jika aka nada peribadatan besar.

Sutiaji mengatakan saat ini hanya ada Perwali Nomor 50 Tahun 2014 Tentang Tata Cara Pelayanan Perizinan Dan Non Perizinan Pada Badan Pelayanan Perizinan Terpadu. Dalam salah satu poinnya, regulasi ini mengatur tentang izin pendirian tempat ibadah. Aturan ini sesuai dengan peraturan bersama Menteri Agama dan Mendagri No 9 dan No 8 tahun 2006 tentang Pendirian Tempat Ibadah.

“Perwali itu sudah cukup untuk menjamin ibadah umat beragama. Selain itu kami juga sering menggelar kegiatan yang sifatnya kerukunan bersama,” tegas Sutiaji.