Sukses

2 Harta Karun di Kaki Gunung Ciremai

Liputan6.com, Cirebon - Segala keindahan tersimpan di bawah kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat. Salah satu sudutnya yang tak kalah mempesona, yakni dataran tinggi Batu Luhur di Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jabar.

Di balik keindahan alamnya tersimpan harta karun berharga yang belum tergali maksimal. Harta karun yang dimaksud, yakni madu dan daun cuwing.

Madu di kawasan objek wisata ini dihasilkan dari lebah yang biasa disebut tawon odeng (Apis dorsata) oleh warga setempat. Sementara daun cuwing merupakan tanaman yang bisa diolah menjadi minuman es cuwing. Tak cuma nikmat, tapi juga kaya manfaat.

Produksi kedua produk lokal ini tengah digalakkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

"Saya bersama kelompok masyarakat merasa bangga dilibatkan dalam menjaga kelestarian alam sekaligus memanfaatkannya untuk meningkatkan kesejahteraan kami. Dua hasil yang dapat kami petik dan rasakan secara bersamaan," kata Ketua kelompok Masyarakat Peduli Hutan, Dodo di Cirebon, Jabar, Minggu Juni 2016.

Salah satu sudut di bawah kaki Gunung Ciremai yang tak kalah mempesona, yakni dataran tinggi Batu Luhur di Desa Padabeunghar. (Panji Prayitno/Liputan6.com)

Ia mengatakan, bila dahulu Batu Luhur hanya bisa menjual pemandangan alamnya saja, kini banyak yang dapat mereka tawarkan kepada masyarakat maupun pengunjung. Selain dari hasil alam berupa madu tawon odeng dan cuwing, masih ada sederet kekayaan flora dan fauna lain yang menggiurkan bagi para pecinta travelling.

Dian mengatakan, dalam pengembangannya, pengelola juga memfasilitasi pengunjung melihat aktivitas burung kepudang di alam liar.

"Ada juga satwa lainnya dan juga geo wisata menikmati Gunung Ciremai dengan bebatuannya yang unik," lanjut Dodo.

Sementara itu Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) Padmi Wiyoso mengatakan, jajarannya juga tengah gencar mengajak masyarakat untuk peduli pada alam dan lingkungan hutan di kawasan Gunung Ciremai. Ini merupakan salah satu upaya menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (Asosiasi Negara-negara di Asia Tenggara).

"Jangan sampai masyarakat kawasann TNGC hanya jadi pekerja dan investor jangan dibiarkan masuk, biarkan masyarakat yang mengelola," ucap Padmi.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS