Sukses

Cerita Beratnya Pasien yang Berpuasa di Ruang Isolasi Covid-19

Liputan6.com, Sleman - Pekan kedua bulan Mei menjadi titik balik bagi para petugas medis di Puskesmas Mlati I Sleman, Yogyakarta. Setelah klaster corona covid Indogrosir meledak, mereka bekerja dengan rasa was-was. Apalagi dalam suasana puasa Ramadan sehingga memiliki alasan turunnya asupan makanan bergizi dan juga turunnya imunitas.

Indarti, Bendahara Puskesmas Mlati I, juga mengaku khawatir dengan hasil test cepat. Apalagi sebelumnya ia sempat jatuh karena kekurangan oksigen akibat terlalu lama mengenakan alat pelindung diri.

“Saat itu sumuk (gerah). Saya kan kalau merasa gerah terus bernafas jadi sesak,” katanya.

Benar, hasil test cepat itu menyebutkan bahwa Indarti reaktif. Hasil itu memaksanya untuk mengkarantina diri. Dinas Kesehatan bergerak, Indarti segera dibawa ke rumah sakit Puri Husada untuk dikarantina. Ia lalu dijemput dua kawannya dari Puskesmas Mlati I di rumahnya.  

“Karantina saya jalani dengan enjoy,” kata Indarti.

Emosi Indarti mulai berubah ketika ia mendapat kabar bahwa ada lima petugas Puskesmas Mlati I yang juga reaktif. Ada dokter, ada juga perawat. Maka ia lalu bertanya ke kepala puskesmas dan penanggung jawab gugus tugas penanganan covid-19 di Puskesmas Mlati I tentang nasibnya.  Ia tetap menjalani puasa Ramadan saat itu.

“Saya merasa berdosa karena Bu Karni yang mengantar saya ke rumah sakit juga hasilnya reaktif,” katanya.

Di ruang isolasi ia banyak merenung. Sebagai petugas di lingkungan Dinas Kesehatan, ia sangat paham protokol kesehatan. Maka ketika kamar isolasi itu dikunci dari luar dan ia tak bisa memandang apa pun di luar kamar, ia menumbuhkan sikap maklum dalam hatinya.

Tentu saja Indarti masih menunggu swab test. Dan ia rajin berkomunikasi dengan siapa pun yang dianggap paham alur mekanisme menjalani swab test.

“Anehnya, mereka yang puasa Ramadan dan hasilnya reaktif dan menjalani rapid test belakangan lha kok malah mendapat giliran duluan. Saya tanya ke kantor, swab test adalah kebijakan rumah sakit. Sementara direktur rumah sakit menjelaskan bahwa swab test menunggu rekomendasi dinas. Ini saya adalah tenaga di garda depan pelayanan lho,” kata Indarti.

 

 

2 dari 4 halaman

Beratnya Puasa

Indarti lalu menceritakan, hal terberat menjalani puasa Ramadan di dalam ruang isolasi rumah sakit adalah mengendalikan emosi. Jenuh itu pasti. Siapa pun boleh memberi saran agar kreatif, tapi dalam sebuah ruangan terkunci dari luar dan fasilitas tak memadai untuk berkreasi jelas membuatnya bete. Mau berkreasi masakan tak ada alat, berkreasi dengan kebun, tak ada lahan. Dua itu yang biasa dilakukan jika bete.

Lagi-lagi emosinya diuji ketika mendengar ada temannya yang boleh menjalani karantina di rumah. Sementara ia sendiri tak kunjung mendapatkan jadwal swab test.

“Maka, tips pertama bagi yang harus karantina di rumah sakit, putuskan akses informasi tentang mekanisme penanganan yang harus diterima. Insya Allah enggak akan jengkel,” katanya.

Kesabarannya berbuah. Ia mendapat teman dalam ruang isolasi itu. Artinya yang diisolasi dalam sebuah ruangan terkunci adalah dua orang. Tak main-main, teman sekamarnya adalah Karni, perawat Puskesmas Mlati I yang menjemputnya dan mengantar ke RS Puri Husada.

“Ternyata Gusti Allah ngajak bercanda. Mungkin ini satu-satunya, yang diantar dan yang mengantar akhirnya diisolasi dalam satu kamar,” katanya.

Indarti kemudian cuek. Ia tak peduli lagi akan mendapat jadwal swab test atau tidak. Ia memutuskan komunikasi dan informasi mengenai prosedur standar. Terakhir ia berkomunikasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo.

Ia bercerita tentang koordinasi penanganan pasien Covid-19. Indarti bercerita dan bercanda dengan Joko Hastaryo.

“Pak Joko baik. Membesarkan hati saya agar terhibur. Dan memang saya kemudian bisa melepas segala penilaian tentang nasib saya yang tak jelas ketika menunggu jadwal swab test. Sementara gelombang swab test sudah terus dilakukan bagi teman-teman,” katanya.

 

3 dari 4 halaman

Puasa Menahan Nafsu, Puisi Menahan Rindu

Jadwal didapat. Indarti menjalani swab test tanpa beban. Ia juga tak lagi berpikir mau pulang kapan. Rasa kangen kepada Banyu Artha, sang anak, dia carikan jalan keluar dengan video call. Beberapa kali memang puasanya sempat bolong.

“Terutama saat saya emosi merasa tak diurus itu. Tapi hikmahnya, ternyata setelah semua gamblang saya bisa menjalani puasa dengan lebih ringan. Saya seperti tersadar bahwa puasa itu yang utama bukan menahan lapar dan haus. Puasa itu menahan nafsu, nah kalau puisi itu baru menahan rindu,” katanya sambil tertawa.

Lalu, bagaimana dengan hubungan atau komunikasi dengan teman-temannya setelah ia mengeluh panjang pendek ke Kepala Dinas Kesehatan?

Indarti hanya tersenyum. Ia menyebut tak ada masalah. Tentu saja sambil berharap teman-temannya memahami kondisi psikologisnya saat berada di ruang isolasi tanpa teman, tanpa kesibukan, tanpa kejelasan nasib. Sementara ia mendapat informasi yang mengusik rasa keadilannya.

“Insya Allah teman-teman tetap baik. Saya juga berkomunikasi dengan Bu Kepala Puskesmas dengan baik. Prinsipnya semua itu kan baik, hanya saja dalam perjalanan koordinasi kadang ada kesulitan. Di dunia kesehatan itu untuk kasus yang sama, prosedur sama, proses dan hasilnya kadang berbeda. Kondisi psikologi pasien, tekanan kerja petugas medis, dinamika dukungan di luar lembaga semua saling mempengaruhi,” kata Indarti.

Lalu pesan utama bagi yang menjalani puasa di dalam ruangan isolasi dan hanya berstatus PDP apa?

“Ya itu tadi, puasa itu menahan nafsu. Nah kalau puisi itu jika menahan rindu,” katanya sambil tertawa lepas tanpa beban.

4 dari 4 halaman

Simak video pilihan berikut