Sukses

Belum Ada Mobil Listrik Bertenaga Surya, Ini Penjelasannya

Liputan6.com, Jakarta -

Pelan tapi pasti, beragam mobil listrik mulai diproduksi secara massal. Berbagai pilihan mobil listrik bisa dinikmati, mulai dari hybrid, PHEV, hingga tenaga yang bersumber dari baterai listrik tunggal.

Sejalan dengan itu, pasti beberapa orang pernah berfikir mengapa kendaraan dengan tenaga alternatif tersebut tidak memanfaatkan cahaya matahari sebagai pemasok utamanya? Anda bukan orang pertama yang memikirkan tentang hal tersebut, beberapa pabrikan pernah mencobanya dan mengapa kendaraan dengan tenaga matahari belum tersedia hingga saat ini. 

Pertanyaan tersebut akan terjawab melalui channel youtube Engineering Explained yang dibawakan oleh Jason Fenske. Youtuber lulusan ilmu teknik mesin dari North Carolina University tersebut menjawab dengan hitung-hitungan yang cukup “njilemet” untuk dipahami. Tetapi mari kita sedikit telaah apa yang terdapat dalam video berdurasi 14 menit 43 detik tersebut.

Dari video tersebut, ia menjelaskan matahari mampu menyuntikan 173 triliun kilowatt daya dari semburan cahayanya setiap hari. Sementara, untuk ukuran mobil kecil hanya mampu memanfaatkan 12 kilowatt dari total suplai tersebut. Menurutnya, dengan asupan tersebut kendaraan kecil hanya mampu melaju hingga 100 km/jam selama matahari masih ada sepanjang hari. Dan dengan kondisi matahari yang cukup terang dapat mengisi daya baterai 75 kW dalam waktu enam jam.

Sayangnya hal tersebut bisa terjadi jika cahaya matahari tersebut menyuplai tanpa halangan seperti yang terjadi di bumi. Fenske menjelaskan bahwa bumi memiliki beberapa halangan seperti kumpulan awan, gedung bertingkat dan bentuk bumi yang bulat. Sehingga hal tersebut mengurangi suplai yang dibutuhkan sebuah kendaraan untuk berjalan dengan kecepatan 100 km/jam sepanjang hari dan mengisi baterai hingga full dalam enam jam. 

 
2 dari 3 halaman

Belum Maksimal

Hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat menangkap cahaya matahari secara maksimal apalagi suplai yang disuntikan matahari ke bumi sangat terbatas. Alih-alih kendaraan menggunakan panel tenaga surya di atasnya, Fenske memastikan kendaraan tersebut hanya mendapatkan 0,373 kilowatt untuk baterai 12 kWh. Asupan tersebut jika dikonversikan, menurut Fenske, hanya mampu menghasilkan tenaga 30 km/jam dan pengisian dayanya membutuhkan lebih dari delapan hari. Berarti hitung-hitungan tersebut malah akan memberi masalah baru bukan sebagai alternatif lagi.

Meski demikian beberapa pabrikan tetap mencoba untuk menghadirkan kendaraan dengan tenaga matahari. Dikutip dari Jalopnik, terdapat pabrikan Aptera yang sudah mengembangkan mobil bertenaga surya selama lebih dari 50 tahun dan akan dirilis pada tahun ini. Menurut Aptera Motors, dengan motor bertenaga surya hanya dapat membawa anda menjelajah hingga 40 mil atau sekitar 65 km, dengan catatan dengan asupan matahari yang cerah. Selain itu ada juga Lightyear One yang memproduksi sebuah sedan mewah dengan panel surya di seluruh kapnya dan mampu menjelajah hingga 800 km dalam satu kali charge penuh.

Meski demikian produksinya saat ini pun masih terbilang sangat terbatas dan sangat eksklusif. Sementara itu, Ford dan Georgia Tech tengah mengembangkan C-Max Solar Energi Concept yang merupakan mobil dengan baterai listrik yang dapat dicharge oleh tenaga matahari. Namun saat ini kita berada di tengah perkembangan mobil listrik dengan teknologi yang lebih rumit yakni baterai lithium yang menggerakan motor listrik.  Semoga dengan penjelasan tersebut dapat menjawab semua pertanyaan Anda mengenai kendaraan bertenaga surya yang belum eksis hingga saat ini.

Sumber: Carvaganza.com

3 dari 3 halaman

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya