Sukses

Gara-Gara Brexit, Harga Jual Jaguar Land Rover Meroket?

Liputan6.com, Jakarta - Dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit berdampak cukup besar bagi industri otomotif. Salah satunya, dengan ditutupnya pabrik Jaguar Land Rover (JLR) di Negeri Britania, pada April 2019. Lalu, dengan penutupan tempat perakitan tersebut, apa dampaknya bagi penjualan di Indonesia?

Dijelaskan Jentri Izhar, Brand Director JLR Indonesia, untuk di pasar Indonesia sendiri memang belum ada pengaruhnya. Namun, jika diprediksi, penutupan pabrik JLR ini bakal mempengaruhi harga jual kendaraannya di pasar otomotif nasional.

"Pengaruhnya nanti lebih ke produksi, karena supply chain-nya nanti bagaimana tergantung dari sana," jelas Izhar saat berbincang dengan wartawan beberapa waktu lalu.

Sementara itu, untuk waktu pengirimannya juga tidak akan berpengaruh, karena tidak ada hubungannya dengan penutupan pabrik. "Pengiriman itu cukup fleksibel, jadi paling pengaruhnya di harga (lebih mahal)," tegasnya.

Berbicara soal strategi JLR dengan penutupan pabrik ini, memang belum dibicarakan lebih lanjut. Pasalnya, memang hingga saat ini belum ada pengaruhnya, dan harapannya jika ada dampaknya untuk di Indonesia sendiri, tidak terlalu besar dan mempengaruhi bisnisnya di Tanah Air.

"Mungkin teman-teman sudah dengar pengumuman JLR akhir-akhir ini. Kami pun sedang menghadapi isu sendiri di dalam Jaguar Land Rover, jadi isu Brexit ini menjadi tantangan kami berikutnya," pungkas Izhar.

2 dari 2 halaman

Selain Evoque, JLR Bakal Luncurkan Land Rover Discovery

PT Wahana Auto Ekamarga (WAE) sebagai agen pemegang merek (APM) Jaguar, Land Rover, dan Bentley tahun ini bakal menghadirkan banyak model baru. Selain Range Rover Evoque yang sudah disebutkan sebelumnya, pabrikan premium asal Inggris ini juga bakal membawa Land Rover Discovery 2,0 liter.

"Kami ingin membawa Land Rover 2,0 liter, karena kami selama ini baru bawa yang 3,0 liter," ujar Brand Director Jaguar Land Rover, Jentri Izhar, saat berbincang dengan wartawan, di Tea Addict, Selasa (12/2/2019).

Lanjut Jentri, dengan membawa mesin 2,0 liter tren penurunan mesin memaksa produsen yang terkenal dengan mesin besar ini untuk turut memangkas kapasitasnya. Hal tersebut juga berhubungan dengan ramah lingkungan, serta regulasi pajak yang meringankan dari segi emisi.

"Tujuan pengenalan Discovery 2,0 liter dengan teknologi yang baru, sudah jauh lebih mumpuni, punya output dan torsi yang besar, dan memang cukup untuk medan offroad," tegasnya.

Loading
Artikel Selanjutnya
PM Inggris Tak Mau Terus Tunda Brexit, Bersikukuh pada Tenggat 31 Oktober 2019
Artikel Selanjutnya
Cegah Brexit Tanpa Perjanjian, Ratu Elizabeth II Setujui RUU No-Deal