Setjen DPR Gelar Festival Literasi Parlemen 2026

Festival Literasi Parlemen 2026 untuk memperkuat budaya literasi dan merawat nilai demokrasi di tengah masyarakat.

Diterbitkan 24 Juni 2026, 21:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Sekretariat Jenderal (Setjen) DPR RI menggelar Festival Literasi Parlemen 2026 di Perpustakaan DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2026). Mengusung tema “Literasi Budaya untuk Demokrasi”, ajang ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat budaya literasi sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan bagi masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal DPR RI, Suprihartini, menegaskan bahwa kualitas demokrasi suatu bangsa sangat bergantung pada kapasitas literasi warganya. Masyarakat yang cerdas dan kritis dinilai akan lebih siap untuk ikut berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam ruang publik.

“Demokrasi yang sejati tumbuh dari kualitas warga negaranya. Demokrasi membutuhkan masyarakat yang berdaya, yang mampu berpikir kritis, memilah informasi yang utuh, menghargai perbedaan pandangan, serta berpartisipasi dengan penuh tanggung jawab,” ujar Suprihartini saat membuka acara.

Suprihartini menjabarkan bahwa esensi literasi di era modern saat ini sudah berkembang jauh, bukan lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi dituntut menjadi kecakapan dalam mengolah dan mengevaluasi derasnya arus informasi digital, terutama untuk membentengi masyarakat dari ancaman misinformasi, hoaks, dan polarisasi sosial.

 

Transformasi Perpustakaan DPR RI Jadi Jembatan Ilmu

Festival tahun ini sekaligus menjadi momentum refleksi untuk mengoptimalkan modal sosial kebudayaan Indonesia, seperti gotong royong dan musyawarah, dalam mengawal sistem demokrasi yang inklusif. Menurut Suprihartini, fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan yang dijalankan oleh parlemen akan jauh lebih efektif jika mendapat dukungan kontrol dari masyarakat yang melek kebijakan publik.

Oleh karena itu, Setjen DPR RI terus memacu transformasi Perpustakaan DPR RI agar tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan buku konvensional. Fasilitas ini kini dirombak menjadi pusat informasi yang dinamis, ruang inovasi pembelajaran, serta wadah dialog terbuka bagi masyarakat luas.

Melalui rangkaian kegiatan edukatif seperti talkshow, pameran buku, hingga berbagai lokakarya kreatif, festival ini diharapkan mampu memicu gerakan literasi bersama yang berkelanjutan. Langkah penguatan fondasi ilmu pengetahuan dan kematangan berdemokrasi ini diproyeksikan menjadi modal utama bangsa dalam menjemput impian besar menuju Indonesia Emas 2045.