Alutsista CAESAR Jadi Topik Pembicaraan saat Pertemuan 4 Mata Presiden Prabowo- Macron di Paris

Pertemuan Prabowo dan Macron di Paris memperkuat kerja sama strategis, terutama pengadaan alutsista dan transfer teknologi pertahanan.

Diterbitkan 25 April 2026, 00:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pertemuan bilateral antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, Selasa (14/4/2026), memperkuat arah kerja sama strategis kedua negara, terutama di sektor pertahanan.

Pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu menjadi kelanjutan komunikasi intensif kedua pemimpin dalam membangun kemitraan jangka panjang, termasuk penguatan industri pertahanan.

Presiden Prabowo menegaskan ruang lingkup kerja sama yang dibahas mencakup berbagai sektor strategis.

"Termasuk pengadaan alutsista dan penguatan industri pertahanan, transisi energi dan pengembangan energi baru terbarukan, infrastruktur dan transportasi hingga pendidikan dan ekonomi kreatif," tulis Prabowo melalui akun media sosial resminya.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut hubungan personal kedua pemimpin menjadi fondasi penting dalam mempercepat realisasi kerja sama bilateral.

"Hubungan kedua pemimpin telah terjalin erat sejak Presiden Prabowo masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan hingga saat ini," ujar Teddy.

Kerja sama Indonesia–Prancis di sektor pertahanan sebelumnya telah dimulai melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) saat kunjungan Presiden Macron ke Jakarta pada Mei 2025.

Dari tiga matra kerja sama, sektor pertahanan darat kini menjadi fokus lanjutan karena belum seluruhnya terealisasi dalam bentuk kontrak.

Salah satu yang mencuat adalah rencana pengadaan sistem artileri CAESAR buatan perusahaan Prancis KNDS, yang dinilai siap secara teknis, industri, dan pembiayaan.

Media Prancis, La Tribune, menyebut kedua pemimpin turut membahas kelanjutan kemitraan tersebut dalam pertemuan di Paris, termasuk dalam konteks dinamika geopolitik global.

 

 

Transfer Teknologi Jadi Kunci

Pemerintah menekankan bahwa pengadaan alutsista tidak hanya berbasis pembelian, tetapi juga pembangunan kapasitas industri dalam negeri.

Langkah ini diperkuat melalui kerja sama antara PT Pindad dan KNDS yang mencakup transfer teknologi, manufaktur, hingga pengembangan amunisi kaliber besar.

Dalam kunjungan teknis pada Februari 2026, pihak Prancis meninjau kesiapan fasilitas produksi Pindad untuk mendukung produksi sistem artileri dan amunisi di dalam negeri.

"Dalam perspektif yang lebih luas dan jangka panjang, Prancis mendukung Indonesia menjadi pusat industri pertahanan regional di Asia Tenggara," kata Qutsson dalam kunjungan tersebut.

Chief Representative KNDS Indonesia, Gerard, menegaskan komitmen transfer teknologi sebagai bagian dari kerja sama.

"Komitmen kami adalah untuk melakukan transfer perakitan, manufaktur, dan teknologi terhadap Indonesia dalam rangka memberikan kontribusi pada roadmap pemerintah Indonesia untuk kemandirian industri pertahanan nasional," ujarnya.

Jika terealisasi, skema kerja sama ini tidak hanya memperkuat modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga memperluas kapasitas produksi dalam negeri, terutama untuk amunisi kaliber besar yang selama ini masih bergantung pada impor.

Saat ini, Indonesia tercatat sebagai salah satu operator sistem CAESAR terbesar di Asia Tenggara dengan puluhan unit yang telah digunakan oleh TNI AD. Kelanjutan kerja sama ini diperkirakan akan dibahas lebih lanjut dalam kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis dalam waktu dekat.

Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan agenda lanjutan tersebut akan difokuskan pada penyelesaian kerja sama yang masih dalam tahap pembahasan, termasuk implementasi LoI sektor pertahanan darat.

"Dan seperti kita ketahui bersama bahwa hubungan pribadi antar kedua Presiden merupakan sesuatu yang sangat dekat, yang akan merupakan sebuah modal besar dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Prancis," ujar Sugiono.