Liputan6.com, Jambi: Warga Jalan Srigunting, Kelurahan Lebak Bandung, Kecamatan Jelutung, Jambi, awal Maret silam, tampak sibuk mempersiapkan papan kayu pelengkap kuburan. Sebagian warga berkonsentrasi menggali kubur. Ada juga warga yang masih kaget dengan ditemukannya mayat Gusmarni di Bagan Batu, Riau. Mayat Gusmarni sebelumnya tak dikenali dan warga Bagan Batu menguburnya dua tahun silam.
Belakangan, hasil penyelidikan Polda Jambi menemukan bukti bahwa mayat yang telah dikuburkan itu adalah Gusmarni dan tewas dibunuh. Pembunuhnya adalah Gribaldi, perwira polisi berpangkat inspektur satu yang bertugas di Polda Jambi.
Polisi kemudian membongkar kuburan Gusmarni dan mayatnya diotopsi di Rumah Sakit Raden Mataher. Keadaan mayat yang telah dikubur selama dua tahun menimbulkan bau yang menyengat. Beberapa kali petugas rumah sakit harus menyemprotkan pengharum ruangan untuk mengurangi bau yang timbul.
Anehnya, kendati telah dikubur selama dua tahun, jasad Gusmarni masih dalam keadaan utuh. Dari hasil otopsi ternyata benar, wanita berusia 28 tahun ini menemui ajalnya karena dibunuh. Di bagian kepala ditemukan lubang bekas tembakan senjata api. Saat dibunuh Gusmarni tengah hamil tiga bulan.
Keluarga Gusmarni menghadiri proses otopsi. Pencarian mereka selama dua tahun ternyata berujung di ruang otopsi RS Raden Mataher. Kedua orang tua Gusmarni tampak tabah melihat anak bungsunya telah ditemukan dalam bentuk bangkai. Namun Yulinar, kakak korban, tampak beberapa kali tak dapat menahan emosinya setelah melihat kondisi mayat adiknya yang mengenaskan.
Kasus pembunuhan Gusmarni terkuak saat Kepolisian Kota Besar Jambi mengungkap kasus pembunuhan seorang wanita bernama Listi. Polisi mencurigai Gribaldi karena korban, terakhir kali diketahui saksi bersama tersangka. Selain itu, di rumah tersangka juga polisi menemukan ribuan amunisi. Peluru itu identik dengan proyektil yang ditemukan ditempat kejadian pembunuhan.
Belakangan, tiga keluarga korban pembunuhan lain juga melaporkan Gribaldi. Korban bahkan ada yang tak ketahuan rimbanya sejak 1999 setelah sebelumnya bergaul dengan Gribaldi. Korban lain selain Gusmarni dan Listi adalah Rusdi Sidahuruk, Mamad dan Ngadimin. Jasad para korban ditemukan telah menjadi mayat di Riau dan Sumatra Selatan dengan luka di kepala.
Keluarga Listi di Jalan Sentot Alibasyah, Jambi, hingga kini masih berduka. Perasaan yang sama juga ditunjukkan lewat wajah Rizki Agustina, 9 tahun, putri semata wayang Listi. Menurut Nurhayati, ibunda Listi, anaknya berkenalan dengan Gribaldi Agustus tahun silam. Saat itu Gribaldi mengenalkan dirinya sebagai Heri.
Listi mengenal Gribaldi setelah diperkenalkan temannya, Susi, seusai mengikuti seminar. Sejak perkenalan itu hubungan antara Listi dan Gribaldi menjadi semakin akrab. Apalagi Gribaldi mengaku dapat mencarikan pekerjaan buat Listi. "Ia menjajikan sebagai pegawai negeri sipil," tutur Nurhayati.
Pertemuan antara Listi dan Gribaldi pun semakin sering. Keduanya sering terlibat saling menelepon untuk kemudian berjanji bertemu di suatu tempat. Namun, Gribaldi tak pernah datang untuk bertamu ke rumah Listi.
Listi kembali mendapat telepon dari Gribaldi Desember tahun silam. Dalam pembicaraan di telepon, Gribaldi memerintahkan Listi segera datang untuk melaksanakan pelatihan kerja di sebuah perusahaan yang selama ini dijanjikan Gribaldi. Sebelum pergi, Listi sempat berpamitan ke seluruh anggota keluarga. Listi juga sempat menjanjikan anaknya oleh-oleh.
Lantaran beberapa hari tidak pulang, Nurhayati mulai cemas. Semua teman Listi ditelepon. Namun, tak seorang pun yang mengetahui keberadaan Listi hingga akhirnya pada 1 Januari 2005, Nurhayati mendengar ditemukan mayat dalam keadaan tebakar di Bayu Lincir, Sumatra Selatan. Nurhayati dapat memastikan anaknya telah menjadi korban pembunuhan setelah melihat langsung di RS Raden Mataher.
Seperti halnya keluarga Listi, keluarga Gusmarni juga hingga kini masih dirundung duka. Muchlisah, ibu Gusmarni, masih tidak percaya anaknya akan menemui ajal di tangan seorang perwira polisi.
Menurut Muchlisah, awal perkenalan Gusmarni dengan Gribaldi terjadi pada 2002. Awalnya, suami Gusmarni, Fahmi, ditabrak mobil milik Gribaldi hingga tewas. Gribaldi berusaha berdamai dengan dengan berjanji akan membantu seluruh kebutuhan Gusmarni dan anak perempuannya, Penny.
Sejak itulah hubungan antara Gribaldi dan Gusmarni menjadi dekat. Apalagi Gribaldi juga menjanjikan akan mencarikan pekerjaan bagi Gusmarni, persis yang dilakukan terhadap Listi. Sampai suatu ketika dengan membawa uang Rp 25 juta sebagai syarat untuk mendapat pekerjaan, Gusmarni berpamitan pergi ke Riau. Ternyata, pamitan itu adalah kepergian untuk selamanya. "Rencananya mencari pekerjaan di Pekanbaru," kata Muchlisah.
Selain Gusmarni dan Listi, yang diduga sebagai korban pembunuhan Gribaldi adalah Ngadimin, warga Lorong Purnama, Kelurahan Sukakarya, Jambi. Dari keterangan istri Ngadimin, Umsinah, diketahui kalau hubungan suaminya dengan Gribaldi berkaitan dengan urusan percaloan bagi orang yang hendak menjadi bintara polisi. Ngadimin yang juga wartawan salah satu tabloid di Jambi bertugas untuk memungut uang dari setiap mangsanya sebesar 50 juta.
Namun, pada 31 Juli 2004, Ngadimin tewas dan jasadnya ditemukan di Desa Babat, Banyuasin, Sumatra Selatan. Padahal, sebelumnya, Ngadimin berpamitan kepada istrinya pergi ke Jakarta untuk sebuah urusan.
Tersangka Iptu Gribaldi yang kini meringkuk di tahanan Polda Riau mengaku, pembunuhan yang dilakukannya tidak dilakukan sendirian. Ia menyebut nama Ali Yusuf, pemimpin redaksi sebuah tabloid di Jambi, sebagai mitranya dalam aksi keji tersebut.
Namun, saat dimintai konfirmasi mengenai keterlibatannya dalam aksi berantai Gribaldi, Ali Yusuf dengan tegas membantahnya. Ali menganggap tuduhan itu sebagai fitnah. "Saya merasa difitnah dan merusak nama baik saya," kata Ali.(YYT/Tim Derap Hukum)
Belakangan, hasil penyelidikan Polda Jambi menemukan bukti bahwa mayat yang telah dikuburkan itu adalah Gusmarni dan tewas dibunuh. Pembunuhnya adalah Gribaldi, perwira polisi berpangkat inspektur satu yang bertugas di Polda Jambi.
Polisi kemudian membongkar kuburan Gusmarni dan mayatnya diotopsi di Rumah Sakit Raden Mataher. Keadaan mayat yang telah dikubur selama dua tahun menimbulkan bau yang menyengat. Beberapa kali petugas rumah sakit harus menyemprotkan pengharum ruangan untuk mengurangi bau yang timbul.
Anehnya, kendati telah dikubur selama dua tahun, jasad Gusmarni masih dalam keadaan utuh. Dari hasil otopsi ternyata benar, wanita berusia 28 tahun ini menemui ajalnya karena dibunuh. Di bagian kepala ditemukan lubang bekas tembakan senjata api. Saat dibunuh Gusmarni tengah hamil tiga bulan.
Keluarga Gusmarni menghadiri proses otopsi. Pencarian mereka selama dua tahun ternyata berujung di ruang otopsi RS Raden Mataher. Kedua orang tua Gusmarni tampak tabah melihat anak bungsunya telah ditemukan dalam bentuk bangkai. Namun Yulinar, kakak korban, tampak beberapa kali tak dapat menahan emosinya setelah melihat kondisi mayat adiknya yang mengenaskan.
Kasus pembunuhan Gusmarni terkuak saat Kepolisian Kota Besar Jambi mengungkap kasus pembunuhan seorang wanita bernama Listi. Polisi mencurigai Gribaldi karena korban, terakhir kali diketahui saksi bersama tersangka. Selain itu, di rumah tersangka juga polisi menemukan ribuan amunisi. Peluru itu identik dengan proyektil yang ditemukan ditempat kejadian pembunuhan.
Belakangan, tiga keluarga korban pembunuhan lain juga melaporkan Gribaldi. Korban bahkan ada yang tak ketahuan rimbanya sejak 1999 setelah sebelumnya bergaul dengan Gribaldi. Korban lain selain Gusmarni dan Listi adalah Rusdi Sidahuruk, Mamad dan Ngadimin. Jasad para korban ditemukan telah menjadi mayat di Riau dan Sumatra Selatan dengan luka di kepala.
Keluarga Listi di Jalan Sentot Alibasyah, Jambi, hingga kini masih berduka. Perasaan yang sama juga ditunjukkan lewat wajah Rizki Agustina, 9 tahun, putri semata wayang Listi. Menurut Nurhayati, ibunda Listi, anaknya berkenalan dengan Gribaldi Agustus tahun silam. Saat itu Gribaldi mengenalkan dirinya sebagai Heri.
Listi mengenal Gribaldi setelah diperkenalkan temannya, Susi, seusai mengikuti seminar. Sejak perkenalan itu hubungan antara Listi dan Gribaldi menjadi semakin akrab. Apalagi Gribaldi mengaku dapat mencarikan pekerjaan buat Listi. "Ia menjajikan sebagai pegawai negeri sipil," tutur Nurhayati.
Pertemuan antara Listi dan Gribaldi pun semakin sering. Keduanya sering terlibat saling menelepon untuk kemudian berjanji bertemu di suatu tempat. Namun, Gribaldi tak pernah datang untuk bertamu ke rumah Listi.
Listi kembali mendapat telepon dari Gribaldi Desember tahun silam. Dalam pembicaraan di telepon, Gribaldi memerintahkan Listi segera datang untuk melaksanakan pelatihan kerja di sebuah perusahaan yang selama ini dijanjikan Gribaldi. Sebelum pergi, Listi sempat berpamitan ke seluruh anggota keluarga. Listi juga sempat menjanjikan anaknya oleh-oleh.
Lantaran beberapa hari tidak pulang, Nurhayati mulai cemas. Semua teman Listi ditelepon. Namun, tak seorang pun yang mengetahui keberadaan Listi hingga akhirnya pada 1 Januari 2005, Nurhayati mendengar ditemukan mayat dalam keadaan tebakar di Bayu Lincir, Sumatra Selatan. Nurhayati dapat memastikan anaknya telah menjadi korban pembunuhan setelah melihat langsung di RS Raden Mataher.
Seperti halnya keluarga Listi, keluarga Gusmarni juga hingga kini masih dirundung duka. Muchlisah, ibu Gusmarni, masih tidak percaya anaknya akan menemui ajal di tangan seorang perwira polisi.
Menurut Muchlisah, awal perkenalan Gusmarni dengan Gribaldi terjadi pada 2002. Awalnya, suami Gusmarni, Fahmi, ditabrak mobil milik Gribaldi hingga tewas. Gribaldi berusaha berdamai dengan dengan berjanji akan membantu seluruh kebutuhan Gusmarni dan anak perempuannya, Penny.
Sejak itulah hubungan antara Gribaldi dan Gusmarni menjadi dekat. Apalagi Gribaldi juga menjanjikan akan mencarikan pekerjaan bagi Gusmarni, persis yang dilakukan terhadap Listi. Sampai suatu ketika dengan membawa uang Rp 25 juta sebagai syarat untuk mendapat pekerjaan, Gusmarni berpamitan pergi ke Riau. Ternyata, pamitan itu adalah kepergian untuk selamanya. "Rencananya mencari pekerjaan di Pekanbaru," kata Muchlisah.
Selain Gusmarni dan Listi, yang diduga sebagai korban pembunuhan Gribaldi adalah Ngadimin, warga Lorong Purnama, Kelurahan Sukakarya, Jambi. Dari keterangan istri Ngadimin, Umsinah, diketahui kalau hubungan suaminya dengan Gribaldi berkaitan dengan urusan percaloan bagi orang yang hendak menjadi bintara polisi. Ngadimin yang juga wartawan salah satu tabloid di Jambi bertugas untuk memungut uang dari setiap mangsanya sebesar 50 juta.
Namun, pada 31 Juli 2004, Ngadimin tewas dan jasadnya ditemukan di Desa Babat, Banyuasin, Sumatra Selatan. Padahal, sebelumnya, Ngadimin berpamitan kepada istrinya pergi ke Jakarta untuk sebuah urusan.
Tersangka Iptu Gribaldi yang kini meringkuk di tahanan Polda Riau mengaku, pembunuhan yang dilakukannya tidak dilakukan sendirian. Ia menyebut nama Ali Yusuf, pemimpin redaksi sebuah tabloid di Jambi, sebagai mitranya dalam aksi keji tersebut.
Namun, saat dimintai konfirmasi mengenai keterlibatannya dalam aksi berantai Gribaldi, Ali Yusuf dengan tegas membantahnya. Ali menganggap tuduhan itu sebagai fitnah. "Saya merasa difitnah dan merusak nama baik saya," kata Ali.(YYT/Tim Derap Hukum)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3835760/original/050425800_1640739830-IMG-20211228-WA0174.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5344257/original/055252700_1757482470-WhatsApp_Image_2025-09-10_at_11.23.02.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287484/original/056615100_1783229292-bansos_pkh_bpnt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287416/original/074940600_1783225116-cek_fakta_sandiaga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/434184/original/140305cDH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287245/original/018106300_1783200103-ma8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287948/original/075704800_1783254081-AP26185782516118.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287278/original/006462200_1783206952-pra7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257144/original/052940400_1781226984-javier-aguirre.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5245839/original/084355000_1749414399-lamine_yamal_bernardo_silva_portugal_spanyol_UNL_090625_ap_michael_probst.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264240/original/068596200_1782101163-tunisia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287279/original/022281700_1783206952-pra8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261544/original/016069100_1781743382-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257143/original/047056400_1781226984-mexico-city-stadium.jpg)