Liputan6.com, Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum memperkirakan, jaringan distribusi air bersih di Nangroe Aceh Darussalam baru mulai berfungsi satu bulan mendatang. Saat ini, pengirimam air bersih baru dapat dilakukan melalui mobil-mobil tangki. Demikian dikemukakan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto di Jakarta, Selasa (4/1).
Menurut Djoko jalur distribusi melalui jaringan pipa untuk masyarakat Aceh baru akan berfungsi satu bulan mendatang. Sementara perbaikan distribusi air bersih di Banda Aceh saat ini masih belum dapat dilakukan karena masih dalam tahap pembersihan kota dari puing-puing reruntuhan. Khusus untuk Meulaboh, diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama karena sulitnya akses masuk ke daerah pesisir tersebut.
Departemen Pekerjaan Umum memperkirakan, dana untuk memulihkan infrastruktur yang rusak karena gempa dan Tsunami senilai Rp 6,15 triliun. Dana itu untuk penanganan kondisi darurat saat ini serta berbagai perbaikan sarana, antara lain irigasi, sanitasi, jalan dan jembatan, serta prasarana permukiman.
Bantuan alat berat ke Aceh terus mengalir. Dua unit hidraulic excavator atau alat pengangkat dikirim dari Jakarta ke Aceh melalui jalan darat. Kedua alat ini merupakan sumbangan dari sebuah perusahaan swasta.
Alat pengangkat dibutuhkan di Aceh untuk mempercepat perbaikan sarana telekomunikasi dan air bersih serta pembersihan jalan dari puing-puing. Kecepatan perbaikan infrastruktur akan berpengaruh terhadap pemulihan perekonomian masyarakat Aceh.
Selain alat pengangkat senilai lebih dari Rp 1 miliar ini, disumbangkan pula satu truk pengangkut sembako dan kebutuhan pokok. Truk diharapkan dapat mempermudah distribusi bantuan di Aceh yang kini menumpuk di posko. Truk dan alat pengangkat diperkirakan tiba di Lhokseumawe 9 Januari mendatang.
Sementara itu, untuk memulihkan sektor perhubungan dan telekomunikasi di Aceh Departemen Perhubungan mengajukan permintaan anggaran lebih dari Rp 800 miliar rupiah. Hampir separuh dari anggaran tersebut diperlukan untuk perbaikan sarana perhubungan darat.
Kisaran hitungan perbaikan sarana perhubungan dan telekomunikasi di Aceh didasarkan pada
hasil inventarisasi yang dilakukan Tim Dephub. Menurut Menhub Hatta Rajasa, dana tersebut kemungkinan membengkak. Alasannya, jangkauan kerusakan pada sektor perhubungan dan telekomunikasi di seluruh daerah yang terkena bencana di Aceh sangat parah.
Pembangunan kembali sektor perhubungan dan telekomunikasi di Aceh akan dilakukan tiga tahap, yakni kedaruratan, rekonstruksi dan rehabilitasi. Dana kedaruratan untuk sektor perhubungan laut menyerap anggaran terbesar mencapai Rp 45 miliar. Sedangkan untuk tahap rehabilitasi pelabuhan dan prasarana perhubungan laut mencapai Rp 89 miliar. Selain itu tahap rekonstruksi perhubungan darat mendapat porsi hampir Rp 300 miliar.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Djoko jalur distribusi melalui jaringan pipa untuk masyarakat Aceh baru akan berfungsi satu bulan mendatang. Sementara perbaikan distribusi air bersih di Banda Aceh saat ini masih belum dapat dilakukan karena masih dalam tahap pembersihan kota dari puing-puing reruntuhan. Khusus untuk Meulaboh, diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama karena sulitnya akses masuk ke daerah pesisir tersebut.
Departemen Pekerjaan Umum memperkirakan, dana untuk memulihkan infrastruktur yang rusak karena gempa dan Tsunami senilai Rp 6,15 triliun. Dana itu untuk penanganan kondisi darurat saat ini serta berbagai perbaikan sarana, antara lain irigasi, sanitasi, jalan dan jembatan, serta prasarana permukiman.
Bantuan alat berat ke Aceh terus mengalir. Dua unit hidraulic excavator atau alat pengangkat dikirim dari Jakarta ke Aceh melalui jalan darat. Kedua alat ini merupakan sumbangan dari sebuah perusahaan swasta.
Alat pengangkat dibutuhkan di Aceh untuk mempercepat perbaikan sarana telekomunikasi dan air bersih serta pembersihan jalan dari puing-puing. Kecepatan perbaikan infrastruktur akan berpengaruh terhadap pemulihan perekonomian masyarakat Aceh.
Selain alat pengangkat senilai lebih dari Rp 1 miliar ini, disumbangkan pula satu truk pengangkut sembako dan kebutuhan pokok. Truk diharapkan dapat mempermudah distribusi bantuan di Aceh yang kini menumpuk di posko. Truk dan alat pengangkat diperkirakan tiba di Lhokseumawe 9 Januari mendatang.
Sementara itu, untuk memulihkan sektor perhubungan dan telekomunikasi di Aceh Departemen Perhubungan mengajukan permintaan anggaran lebih dari Rp 800 miliar rupiah. Hampir separuh dari anggaran tersebut diperlukan untuk perbaikan sarana perhubungan darat.
Kisaran hitungan perbaikan sarana perhubungan dan telekomunikasi di Aceh didasarkan pada
hasil inventarisasi yang dilakukan Tim Dephub. Menurut Menhub Hatta Rajasa, dana tersebut kemungkinan membengkak. Alasannya, jangkauan kerusakan pada sektor perhubungan dan telekomunikasi di seluruh daerah yang terkena bencana di Aceh sangat parah.
Pembangunan kembali sektor perhubungan dan telekomunikasi di Aceh akan dilakukan tiga tahap, yakni kedaruratan, rekonstruksi dan rehabilitasi. Dana kedaruratan untuk sektor perhubungan laut menyerap anggaran terbesar mencapai Rp 45 miliar. Sedangkan untuk tahap rehabilitasi pelabuhan dan prasarana perhubungan laut mencapai Rp 89 miliar. Selain itu tahap rekonstruksi perhubungan darat mendapat porsi hampir Rp 300 miliar.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5566966/original/026954400_1777262107-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-27T105347.703.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4012159/original/035865800_1651313935-20220430-_Gerbang_Tol_Cikampek-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/429839/original/050105aAirBersih.jpg)