Liputan6.com, Aceh Utara: Gempa susulan kembali terjadi di Aceh Utara dan Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, Senin (27/12) sekitar pukul 04.00 WIB. Namun, belum bisa diketahui kekuatan gempa susulan ini. Penduduk sekitar yang trauma dengan gempa sebelumnya segera keluar rumah ketika merasakan getaran [baca: Gempa Mengguncang NAD].
Sementara suasana di Aceh Timur sudah terkendali. Warga dari empat kecamatan yang terkena musibah sudah diungsikan ke masjid, tenda, musala, aula, dan pondok pesantren yang tempatnya jauh dari bencana gempa. Menurut Bupati Aceh Timur Azman Usmanuddin saat dihubungi SCTV, jumlah penduduk yang mengungsi sekitar 21.500 jiwa. Saat ini, makanan dan obat-obatan masih mencukupi. Sedangkan selimut masih sangat diperlukan.
Listrik dan sarana komunikasi juga sudah bisa berjalan di empat kecamatan ini. Kendati demikian, Azman mengaku belum berkoordinasi dengan pemerintah pusat karena sedang berada di kawasan pengungsi, tepatnya di Kecamatan Bireun Bayeum. Di Aceh Timur, korban tewas karena gempa mencapai 32 orang dan delapan lainnya masih dinyatakan hilang.
Di Banda Aceh aliran listrik dan telepon terputus. Bahkan, air bersih sulit dijumpai di sini. Berdasarkan pemantauan SCTV, 78 persen kawasan Banda Aceh dilanda Tsunami. Ratusan jenazah dievakuasi tim gabungan search and rescue, anggota TNI/Polri, serta warga sekitar. Mayat-mayat yang ditemukan belum dimakamkan dan hanya ditumpuk di berbagai lokasi di Banda Aceh. Ahad sekitar pukul 23.00 WIB, evakuasi dihentikan. Warga yang selamat diungsikan ke berbagai tempat di luar Banda Aceh. Bandara Sultan Iskandar Muda juga sudah bisa dioperasikan setelah genangan lumpur di areal tersebut dibersihkan.
Di Jakarta, semalam, Wakil Presiden Yusuf Kalla menggelar rapat kabinet darurat di kediamannya. Rapat dilakukan menyusul gempa bumi dahsyat yang menelan ribuan korban jiwa--seperti dilansir sejumlah kantor berita asing--di Nanggroe Aceh Darussalam.
Rapat darurat hanya berlangsung selama 30 menit dan dihadiri sejumlah menteri dan pejabat negara lainnya. Di antaranya Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Menteri Negara Badan Urusan Milik Negara Sugiharto, serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaludin. Hadir pula Kepala Polri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar dan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Usai rapat, Wapres Jusuf Kalla mengingatkan bencana gempa bumi di Aceh adalah bencana nasional sehingga harus diatasi secara nasional.
Rencananya, pagi ini, Wapres bersama tim dari Departemen Kesehatan dan Departemen Sosial meninjau lokasi serta posko penanggulangan bencana yang dipusatkan di Medan, Sumatra Utara. Kedatangan mereka khusus untuk membantu para korban gempa bumi dahsyat itu dengan membawa obat-obatan dan makanan. Kalla menegaskan akan membantu menyelesaikan pembangunan tenda darurat.
Gempa tektonik disertai gelombang pasang atau Tsunami yang bersumber di Samudera Hindia, sebelah Barat Aceh kemarin bukanlah yang pertama kali terjadi di Indonesia. Menurut Badan Metereologi dan Geofisika, dalam delapan tahun terakhir ini, bencana serupa melanda Flores, Nusatenggara Timur; Banyuwangi, Jawa Timur; dan Biak. Namun, hingga saat ini, peralatan yang dimiliki BMG sudah tak memadai sehingga tidak bisa mendeteksi sebelum gempa terjadi.
Menurut ahli seismologi BMG Budi Waluyo, International Development Bank (IDB) pernah mengajukan penawaran bantuan kepada pihak BMG untuk mendanai peralatan yang lebih canggih pada 2001. Namun, peralatan itu batal dimiliki karena kendala prosedur pembelian. Bila BMG memiliki peralatan pendeteksi gempa, dimungkinkan lembaga ini dapat mendeteksi gempa hingga sepuluh hari sebelum bencana terjadi. Hal ini dapat meminimalisir jumlah korban akibat gempa.(DNP/Tim Liputan6 SCTV)
Sementara suasana di Aceh Timur sudah terkendali. Warga dari empat kecamatan yang terkena musibah sudah diungsikan ke masjid, tenda, musala, aula, dan pondok pesantren yang tempatnya jauh dari bencana gempa. Menurut Bupati Aceh Timur Azman Usmanuddin saat dihubungi SCTV, jumlah penduduk yang mengungsi sekitar 21.500 jiwa. Saat ini, makanan dan obat-obatan masih mencukupi. Sedangkan selimut masih sangat diperlukan.
Listrik dan sarana komunikasi juga sudah bisa berjalan di empat kecamatan ini. Kendati demikian, Azman mengaku belum berkoordinasi dengan pemerintah pusat karena sedang berada di kawasan pengungsi, tepatnya di Kecamatan Bireun Bayeum. Di Aceh Timur, korban tewas karena gempa mencapai 32 orang dan delapan lainnya masih dinyatakan hilang.
Di Banda Aceh aliran listrik dan telepon terputus. Bahkan, air bersih sulit dijumpai di sini. Berdasarkan pemantauan SCTV, 78 persen kawasan Banda Aceh dilanda Tsunami. Ratusan jenazah dievakuasi tim gabungan search and rescue, anggota TNI/Polri, serta warga sekitar. Mayat-mayat yang ditemukan belum dimakamkan dan hanya ditumpuk di berbagai lokasi di Banda Aceh. Ahad sekitar pukul 23.00 WIB, evakuasi dihentikan. Warga yang selamat diungsikan ke berbagai tempat di luar Banda Aceh. Bandara Sultan Iskandar Muda juga sudah bisa dioperasikan setelah genangan lumpur di areal tersebut dibersihkan.
Di Jakarta, semalam, Wakil Presiden Yusuf Kalla menggelar rapat kabinet darurat di kediamannya. Rapat dilakukan menyusul gempa bumi dahsyat yang menelan ribuan korban jiwa--seperti dilansir sejumlah kantor berita asing--di Nanggroe Aceh Darussalam.
Rapat darurat hanya berlangsung selama 30 menit dan dihadiri sejumlah menteri dan pejabat negara lainnya. Di antaranya Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Menteri Negara Badan Urusan Milik Negara Sugiharto, serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaludin. Hadir pula Kepala Polri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar dan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Usai rapat, Wapres Jusuf Kalla mengingatkan bencana gempa bumi di Aceh adalah bencana nasional sehingga harus diatasi secara nasional.
Rencananya, pagi ini, Wapres bersama tim dari Departemen Kesehatan dan Departemen Sosial meninjau lokasi serta posko penanggulangan bencana yang dipusatkan di Medan, Sumatra Utara. Kedatangan mereka khusus untuk membantu para korban gempa bumi dahsyat itu dengan membawa obat-obatan dan makanan. Kalla menegaskan akan membantu menyelesaikan pembangunan tenda darurat.
Gempa tektonik disertai gelombang pasang atau Tsunami yang bersumber di Samudera Hindia, sebelah Barat Aceh kemarin bukanlah yang pertama kali terjadi di Indonesia. Menurut Badan Metereologi dan Geofisika, dalam delapan tahun terakhir ini, bencana serupa melanda Flores, Nusatenggara Timur; Banyuwangi, Jawa Timur; dan Biak. Namun, hingga saat ini, peralatan yang dimiliki BMG sudah tak memadai sehingga tidak bisa mendeteksi sebelum gempa terjadi.
Menurut ahli seismologi BMG Budi Waluyo, International Development Bank (IDB) pernah mengajukan penawaran bantuan kepada pihak BMG untuk mendanai peralatan yang lebih canggih pada 2001. Namun, peralatan itu batal dimiliki karena kendala prosedur pembelian. Bila BMG memiliki peralatan pendeteksi gempa, dimungkinkan lembaga ini dapat mendeteksi gempa hingga sepuluh hari sebelum bencana terjadi. Hal ini dapat meminimalisir jumlah korban akibat gempa.(DNP/Tim Liputan6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332312/original/026531200_1787650496-cek_fakta_Abdul_muti_-_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5333221/original/001778100_1756612376-petani_milenial_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332053/original/033451400_1787629160-petani_milenial_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/429411/original/271204aAcehGempa2.jpg)