Liputan6.com, Surabaya: Muhammad Syaifuddin Umar alias Abu Fida yang ditangkap polisi 4 Agustus silam karena diduga terlibat aksi terorisme kini dalam kondisi depresi berat. Laki-laki ini ditemukan di Rumah Sakit Umum Daerah dokter Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, sepekan setelah dinyatakan hilang. Keluarga Syaifuddin yang ditemui SCTV di rumah orang tuanya di Jalan Sidotopo, Sekolahan, Gang I Nomor 70, Surabaya, Rabu (18/8) sore, menyatakan akan meminta pertanggungjawaban Polri. Pada hari yang sama, Syaifuddin sempat dikunjungi sejumlah anggota Aliansi Solidaritas Muslim.
Menurut Umar Ibrahim, ayahanda korban, anaknya ditangkap tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Markas Besar Polri karena diduga ikut menyembunyikan Doktor Azhari dan Nurdin Mohammad Thop. Ironisnya, berita penangkapan dari Mabes Polri itu baru diperoleh Umar dan keluarga setelah Syaifuddin ditemukan. Umar mengatakan, pada 11 Agutus sekitar pukul 23.40 WIB, ia ditelepon seseorang yang tak bersedia menyebutkan identitasnya. Penelepon misterius itu memberitahukan bahwa Syaifuddin Umar ditemukan di RSUD dr. Soetomo. Ironisnya, saat ditemui di RS, kondisi Syaifuddin sangat mengenaskan. Ada beberapa luka di tubuhnya dan banyak bercak darah di baju yang dikenakan korban.
Umar yang juga mantan anggota Polri berpangkat mayor menambahkan, saat itu, anak kandungnya tidak mampu berbicara dan tampak depresi berat. Korban kemudian dibawa berobat ke RS Jiwa Menur. Selama dua hari, guru ngaji di Yayasan Baitul Amin, Bareng, Jombang, Jatim itu mendapat perawatan intensif. Pada 13 Agustus silam, Syaifuddin baru diizinkan pulang. Sore tadi, sejumlah anggota dari Aliansi Solidaritas untuk Muslim menjenguk korban di rumahnya. Kondisi kejiwaan Syaifuddin tampak masih belum stabil. Ia sering ketakutan jika didekati orang tak dikenalnya.
Umar melihat ada beberapa kejanggalan dalam kasus penangkapan anaknya, antara lain surat penangkapan yang baru diterima 13 Agustus silam setelah anaknya ditemukan. Di sisi lain, pensiunan mayor polisi ini tetap yakin anaknya tidak terlibat terorisme, seperti yang dituduhkan polisi. Karena itu, Umar melalui Tim Pembela Musim berencana menggugat Polri, terutama karena dugaan penganiayaan terhadap Syaifuddin. "Insya Allah karena bukan pada materi kejahatannya, tapi kondisi fisik anak kami setelah ditangkap," jelas Umar.
Rencana Umar menggugat Polri sangat beralasan. Menurut dokter Darmaji yang memeriksa Syaifuddin di RSJ Menur, kejiwaan Syaifuddin tidak stabil. Selain itu, di tubuh korban memang ditemukan beberapa luka memar dan kebiru-biruan. Namun, Darmaji belum bisa memastikan luka di tubuh Syaifuddin itu bekas penganiayan atau bukan. "Saya nggak berani pastikan. Tapi ada biru-biru di beberapa tempat di kakinya," jelas Darmaji.
Tudingan penganiayaan terhadap Syaifuddin langsung dibantah Kepolisian Daerah Jatim. Kepala Hubungan Masyarakat Polda Jatim Komisaris Besar Polisi Endro Wardoyo mengatakan, Syaifuddin Umar ditangkap karena diduga terlibat terorisme dengan menyembunyikan pelaku Bom Marriott, Doktor Azahari dan Nurdin M. Thop. Setelah diinterogasi, tepatnya 10 Agustus silam, Syaifuddin kemudian dilepas polisi di kawasan Kediri, Jatim, sesuai dengan permintaan yang bersangkutan.
Endro memastikan, selama pemeriksaan, tim penyidik tidak menganiaya atau menyiksa Syaifuddin. Saat dibebaskan, kondisi Syaifuddin dalam keadaan sehat. Endro berani memastikan hal itu karena pihaknya mempunyai bukti berupa foto sebelum tersangka dilepas. "Jadi sampai tanggal 10 [Agustus] tidak ada yang namanya luka penganiayaan atau penyiksaan," jelas Endro.
Endro menambahkan, sebetulnya Syaifuddin berjanji akan menemui tim penyidik Polri tiga hari setelah dilepas. Pihaknya masih sempat berkomunikasi dengan tersangka pada malam harinya atau beberapa saat setelah dibebaskan. Namun, sejak saat itu, komunikasi dengan Syaifuddin terputus. Dan yang bersangkutan tak datang pada hari yang dijanjikan. "Ternyata di lapangan, tanggal 11 [Agustus] malam, dia ada di rumah sakit," kata Endro.
Kasus orang hilang yang diberitakan ditangkap polisi karena terkait aktivitas terorisme bukanlah berita baru. Pada 12 Agustus silam, Agus Purwanto, warga Brengosan, Purwosari, Lawean, Surakarta mendatangi Mabes Polri untuk menanyakan keberadaan anaknya, Air Setyawan. Saat itu, Agus juga datang bersama Hasyim Murtadho, warga Laosan, Magetan, Jatim untuk mempertanyakan keberadaan adiknya bernama Luthfi [baca: Keluarga Korban Penculikan Melapor ke Mabes Polri]. Menurut Agus dan Hasyim, Air Setyawan serta Luthfi ditangkap polisi sejak 25 Juli. Hingga kini, nasib keduanya tidak diketahui.
Kasus penangkapan orang-orang oleh polisi karena diduga terkait kegiatan terorisme memang masih sering terdengar. Di satu sisi, penangkapan itu memang sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menyatakan perang terhadap terorisme [baca: Indonesia Menegaskan Komitmen Memberantas Terorisme]. Namun di sisi lain, aksi yang berlebihan dari polisi terkadang menimbulkan ekses penindasan pada nilai-nilai kemanusiaan, seperti yang dialami Syaifuddin.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Umar Ibrahim, ayahanda korban, anaknya ditangkap tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Markas Besar Polri karena diduga ikut menyembunyikan Doktor Azhari dan Nurdin Mohammad Thop. Ironisnya, berita penangkapan dari Mabes Polri itu baru diperoleh Umar dan keluarga setelah Syaifuddin ditemukan. Umar mengatakan, pada 11 Agutus sekitar pukul 23.40 WIB, ia ditelepon seseorang yang tak bersedia menyebutkan identitasnya. Penelepon misterius itu memberitahukan bahwa Syaifuddin Umar ditemukan di RSUD dr. Soetomo. Ironisnya, saat ditemui di RS, kondisi Syaifuddin sangat mengenaskan. Ada beberapa luka di tubuhnya dan banyak bercak darah di baju yang dikenakan korban.
Umar yang juga mantan anggota Polri berpangkat mayor menambahkan, saat itu, anak kandungnya tidak mampu berbicara dan tampak depresi berat. Korban kemudian dibawa berobat ke RS Jiwa Menur. Selama dua hari, guru ngaji di Yayasan Baitul Amin, Bareng, Jombang, Jatim itu mendapat perawatan intensif. Pada 13 Agustus silam, Syaifuddin baru diizinkan pulang. Sore tadi, sejumlah anggota dari Aliansi Solidaritas untuk Muslim menjenguk korban di rumahnya. Kondisi kejiwaan Syaifuddin tampak masih belum stabil. Ia sering ketakutan jika didekati orang tak dikenalnya.
Umar melihat ada beberapa kejanggalan dalam kasus penangkapan anaknya, antara lain surat penangkapan yang baru diterima 13 Agustus silam setelah anaknya ditemukan. Di sisi lain, pensiunan mayor polisi ini tetap yakin anaknya tidak terlibat terorisme, seperti yang dituduhkan polisi. Karena itu, Umar melalui Tim Pembela Musim berencana menggugat Polri, terutama karena dugaan penganiayaan terhadap Syaifuddin. "Insya Allah karena bukan pada materi kejahatannya, tapi kondisi fisik anak kami setelah ditangkap," jelas Umar.
Rencana Umar menggugat Polri sangat beralasan. Menurut dokter Darmaji yang memeriksa Syaifuddin di RSJ Menur, kejiwaan Syaifuddin tidak stabil. Selain itu, di tubuh korban memang ditemukan beberapa luka memar dan kebiru-biruan. Namun, Darmaji belum bisa memastikan luka di tubuh Syaifuddin itu bekas penganiayan atau bukan. "Saya nggak berani pastikan. Tapi ada biru-biru di beberapa tempat di kakinya," jelas Darmaji.
Tudingan penganiayaan terhadap Syaifuddin langsung dibantah Kepolisian Daerah Jatim. Kepala Hubungan Masyarakat Polda Jatim Komisaris Besar Polisi Endro Wardoyo mengatakan, Syaifuddin Umar ditangkap karena diduga terlibat terorisme dengan menyembunyikan pelaku Bom Marriott, Doktor Azahari dan Nurdin M. Thop. Setelah diinterogasi, tepatnya 10 Agustus silam, Syaifuddin kemudian dilepas polisi di kawasan Kediri, Jatim, sesuai dengan permintaan yang bersangkutan.
Endro memastikan, selama pemeriksaan, tim penyidik tidak menganiaya atau menyiksa Syaifuddin. Saat dibebaskan, kondisi Syaifuddin dalam keadaan sehat. Endro berani memastikan hal itu karena pihaknya mempunyai bukti berupa foto sebelum tersangka dilepas. "Jadi sampai tanggal 10 [Agustus] tidak ada yang namanya luka penganiayaan atau penyiksaan," jelas Endro.
Endro menambahkan, sebetulnya Syaifuddin berjanji akan menemui tim penyidik Polri tiga hari setelah dilepas. Pihaknya masih sempat berkomunikasi dengan tersangka pada malam harinya atau beberapa saat setelah dibebaskan. Namun, sejak saat itu, komunikasi dengan Syaifuddin terputus. Dan yang bersangkutan tak datang pada hari yang dijanjikan. "Ternyata di lapangan, tanggal 11 [Agustus] malam, dia ada di rumah sakit," kata Endro.
Kasus orang hilang yang diberitakan ditangkap polisi karena terkait aktivitas terorisme bukanlah berita baru. Pada 12 Agustus silam, Agus Purwanto, warga Brengosan, Purwosari, Lawean, Surakarta mendatangi Mabes Polri untuk menanyakan keberadaan anaknya, Air Setyawan. Saat itu, Agus juga datang bersama Hasyim Murtadho, warga Laosan, Magetan, Jatim untuk mempertanyakan keberadaan adiknya bernama Luthfi [baca: Keluarga Korban Penculikan Melapor ke Mabes Polri]. Menurut Agus dan Hasyim, Air Setyawan serta Luthfi ditangkap polisi sejak 25 Juli. Hingga kini, nasib keduanya tidak diketahui.
Kasus penangkapan orang-orang oleh polisi karena diduga terkait kegiatan terorisme memang masih sering terdengar. Di satu sisi, penangkapan itu memang sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menyatakan perang terhadap terorisme [baca: Indonesia Menegaskan Komitmen Memberantas Terorisme]. Namun di sisi lain, aksi yang berlebihan dari polisi terkadang menimbulkan ekses penindasan pada nilai-nilai kemanusiaan, seperti yang dialami Syaifuddin.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463536/original/058765400_1767636182-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331557/original/037451000_1787549916-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-24T123722.755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337309/original/008779100_1788240212-cek_fakta_-_pinjol_ojk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7961905/original/013698500_1780798434-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-07T090929.694.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/421186/original/190804aUstadz_Umar.jpg)