Ancaman Kelas Menengah: Saat AI Mendikte 'Harga' Tenaga Kerja

Manusia tidak lagi dibayar mahal untuk 'cara membuat' karena mesin telah menggantikan itu, tapi lebih kepada 'mengapa membuat' atau 'apa yang layak dibuat'.

Diterbitkan 09 November 2026, 06:16 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Artificial Intellegence atau Akal Imitasi atau disingkat AI, bukan lagi cerita fiksi ilmiah. Zaman kecerdasan buatan itu sudah terjadi sekarang dan benar-benar hadir di tengah kita.

Mobil terbang, robot pelayan, hingga konser menghadirkan penyanyi yang sudah lama meninggal dunia, bukan lagi cerita hisapan jempol belaka, tapi sudah menjadi kenyataan hari ini.

AI bahkan telah mengocok ulang cara manusia bekerja. Di satu sisi, hadirnya teknologi membuat pekerjaan menjadi lebih cepat selesai dan praktis. Di sisi lain, menjelma menjadi ancaman nyata bagi banyak profesi.

Kehadiran AI mengubah pekerja biasa menjadi tenaga kerja super yang mampu mengeksekusi ide kreatif, analisis pasar, hingga pemrograman rumit dalam hitungan menit. Namun, di balik optimisme tersebut, bayang-bayang disrupsi massal mengintai para pekerja.

Kerja praktis yang ditawarkan AI membuat banyak posisi konvensional, mulai dari layanan pelanggan, entri data, hingga analis data, menjadi usang karena digantikan oleh algoritma yang bekerja lebih cepat, tanpa lelah, dan dengan biaya operasional yang jauh lebih murah.

Ketidakpastian ini memicu kecemasan, para profesional yang kebanyakan dari kalangan kelas menengah dihantui ketakutan, keterampilan yang mereka pelajari bertahun-tahun dapat kehilangan relevansinya hanya dalam semalam.

Itu yang dialami Ahmad Briyanto (28), seorang desainer grafis sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Kepada tim Journal Kaum Tengah Liputan6.com, Briyanto mengatakan, kehadiran AI sangat berdampak bagi para pekerja seni, khususnya mereka yang berkecimpung dalam seni grafis. Hari ini, hanya dengan satu kalimat perintah (prompt), semua orang bisa membuat poster ciamik hanya dalam hitungan detik.

"Jujur khawatir (dengan perkembangan AI sekarang). Basic skill dan apa yang sudah saya pelajari selama ini tergantikan gitu aja sama yang namanya AI. Kita juga gak bisa menghindari perkembangan AI, bener-bener cepet banget," katanya.

Bayangkan, bertahun-tahun belajar menguasai perangkat lunak desain yang kompleks, memahami teori warna, hingga mengeksekusi detail visual yang rumit, para desainer, ilustrator, dan animator akhirnya terjerembab tersungkur di hadapan generator visual berbasis AI yang mampu memproduksi karya estetis setara profesional dalam hitungan detik.

Keahlian teknis yang dipelajari bertahun-tahun di bangku kuliah kini kehilangan nilai ekonomisnya di mata industri. Bagi para pekerja kreatif kelas menengah, yang hidup dari komersialisasi keterampilan teknis harian mereka, fenomena ini menciptakan krisis eksistensial karena pasar kini menuntut harga yang tentu lebih murah.

Saat ini tak jarang profesional di bidang seni grafis yang akhirnya terkena layoff, setelah kantor-kantor memandang pekerjaan itu sepertinya bisa digantikan mesin. Briyanto tidak menampik banyak desainer grafis yang akhirnya 'termakan AI'.

Namun demikian, menurutnya ada satu titik di mana AI tidak bisa menggantikan kerja seniman grafis: soul, jiwa. Teknologi menang jika yang dibutuhkan kecepatan, namun teknologi tidak bisa menggantikan ‘soul’ sebuah karya grafis yang dibuat pakai hati.

"Kalau kita memandang AI itu ancaman justru salah, AI itu alat buat saya, buat produktivitas saya jadi lebih cepat, tapi sayangnya AI gak bisa nerjemahin permintaan klien, karena jawabannya ada di soul, AI gak punya jiwa," katanya.

Saat ini yang menjadi ancaman paling utama menurut Briyanto bukanlah keberadaan AI, tapi kondisi di mana orang-orang sudah tidak lagi menghargai kerja-kerja seni, termasuk salah satunya seni grafis. Dampak dari pergeseran nilai ini adalah runtuhnya pilar-pilar pekerjaan yang selama ini menyokong kelas menengah kreatif. Kondisi ini memaksa mereka masuk dalam pusaran kompetisi yang timpang.

Proyek-proyek komersial tingkat menengah, seperti pembuatan aset game, ilustrasi editorial, desain kemasan, hingga materi pemasaran digital, yang dulu menjadi sumber penghasilan utama mereka kini tergantikan AI. Sementara kreator elite papan atas mungkin tetap bertahan berkat reputasi personal dan orisinalitas konsep mereka.

Jutaan pekerja grafis kelas menengah kini terjebak di persimpangan yang mencemaskan. Mereka menghadapi kenyataan pahit di mana jam kerja keras dan dedikasi mengasah keterampilan tangan tidak lagi dihargai sebagai keahlian langka, melainkan sekadar tugas mekanis yang bisa digantikan dengan algoritma berbiaya rendah.

Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Briyanto, untuk tidak berhenti mengembangkan diri, dan berusaha menjadikan AI sebagai teman kerja, yang bisa membuat kerja-kerja seni menjadi lebih baik dari sebelum tidak ada AI.

"Ya gimana cara kita menghadapinya aja," kata Briyanto.

Berbeda dengan Briyanto, Dita (39) seorang ASN di sebuah instansi sekaligus mahasiswa S2, menilai perkembangan AI saat ini sangat membantu kariernya di bidang kehumasan. Sebagai milenial yang hidup di zaman analog, dia merasakan betul betapa sulitnya membuat presentasi manual halaman per halaman dengan power point (ppt). Atau betapa repotnya dulu saat dia diberi tugas kuliah menggunakan proyektor.

"Sekarang enggak sampe 10 menit jadi, bahkan kita bisa milih mau ngebungkusnya seperti apa. Buat saya itu (AI) memudahkan banget,” katanya.

Agar tetap relevan di zaman kini, bagi Dita yang diperlukan saat ini adalah tidak melulu menggantungkan setiap pekerjaan dengan AI. Artinya, setiap pekerjaan boleh saja dibantu menggunakan AI, namun perlu dikroscek ulang, diperiksa lagi, dan yang paling penting tidak menjadi ketergantungan dengan AI.

"Buat saya AI cuma tools, yang memudahkan kerja kita, bukan yang menggantikan kerja kita, kuncinya di situ sih," ungkapnya.

Di tengah gelombang 'undervalue' bagi para pekerja teknis akibat adanya otomasi mesin, satu-satunya cara bagi pekerja kreatif kelas menengah untuk dihargai mahal di era AI adalah dengan menggeser fokus dari peran sebagai eksekutor mekanis menjadi seorang arsitek konseptual, kurator nilai, dan pemilik empati manusiawi.

Saat algoritma mampu meniru apa-apa yang dihasilkan dari pekerjaan teknis, nilai premium suatu pekerjaan itu kini berpindah ke area yang tidak dimiliki kecerdasan buatan: kemampuan memahami psikologi manusia, membaca teks budaya yang rumit, atau misalnya merumuskan strategi visual yang mampu menyentuh emosi audiens secara spesifik.

Kelas menengah yang dihargai mahal saat ini adalah mereka yang mampu memposisikan diri sebagai konsultan kreatif. Alih-alih mengganti pekerjaan pakai AI, mereka justru 'memperalat' AI untuk mengeskplorasi ratusan ide, tentu dengan kendali atas rasa estetika, orisinalitas, dan pengambilan keputusan etis tetap berada di tangan mereka.

Manusia tidak lagi dibayar mahal untuk 'cara membuat' (how to make) karena mesin telah menggantikan itu, tapi lebih kepada 'mengapa membuat' (why to make) dan 'apa yang layak dibuat' (what matters). Hal-hal seperti itu yang menjadikan kelas pekerja masih bisa tetap relevan di tengah gempuran kecerdasan buatan.

 

AI Sebuah Keniscayaan

Praktisi Ketenagakerjaan Timboel Siregar dalam satu wawancara bersama tim Journal Kaum Tengah Liputan6.com mengatakan, kemajuan teknologi digitalisasi dan AI adalah sebuah keniscayaan. Artinya kemajuan zaman dan kehadiran AI adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Teknologi inilah dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, walaupun sebenarnya Perusahaan juga membutuhkan investasi untuk menghadirkannya.

“Konsekuensinya ada pengurangan karyawan. Tetapi apakah dengan AI semua lapangan kerja akan tertutup? Tidak,” katanya.

Ada peluang dan tantangan baru yang justru bisa menghadirkan lapangan kerja baru dengan hadirnya AI. Menurut Timboel, di situlah justru letak tantangan zaman yang harus dijawab generasi saat ini. Bagaimana kita, khususnya anak-anak muda melihatnya. Karena kemajuan teknologi tentu akan mengubah wajah hubungan kerja kita di masa depan.

“Walaupun mungkin belum dalam tiga tahun, kecenderungannya sekarang investasi yang masuk ke Indonesia adalah investasi padat modal dan padat teknologi. Dunia usaha sekarang banyak yang memakai robot humanoid. Arahnya ke sana. Konsekuensinya, investasi yang masuk akan merekrut sedikit pekerja, dan padat karya semakin tidak ada lagi,” ungkapnya.

Yang harus didorong saat ini, menurut Timboel adalah bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan dunia usaha dan industri yang berorientasi AI. Dirinya membongkar data, angkatan kerja di Indonesia menurut BPS, sebanyak 53% lulusan SMP ke bawah. Kalau persoalan padat modal dan padat teknologi makin banyak di Indonesia, mereka akan tersisih.

“Ini ancaman sekaligus peluang, dan kita harus bisa menyediakan SDM-nya dengan pelatihan dan anggaran yang mumpuni,” kata Timboel.

Menurutnya saat ini adalah tinggal bagaimana upaya pemerintah mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, agar tetap relevan dan bisa bersaing di era kini.

“Investor yang sudah menjanjikan akan masuk ke Indonesia. Pemerintah kita di luar negeri, misalnya KBRI, juga harus mengetatkan supaya investasi itu terealisasi. Selain mendorong mereka merealisasikan modalnya, tanyakan juga SDM apa yang mereka butuhkan, lalu kabari pihak yang berwenang, dari sisi anggaran dan pemberdayaan harus bisa mengantisipasi. Arah investasi kita ke sini, jadi kita harus menciptakan SDM ke sini,” ungkapnya.

 

Jangan Sampai Tidak Siap

Timboel mengingatkan, jangan sampai saat investor datang, SDM kita tidak siap, sehingga mereka memakai tenaga kerja dari negaranya sendiri. Sehingga orang-orang kita hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Mengingat Undang-Undang Ketenagakerjaan memang berorientasi pada penggunaan tenaga kerja Indonesia, tetapi kalau memang tidak bisa atau SDM-nya tidak tersedia, boleh memakai tenaga kerja asing.

“Karena itu, menurut saya ini keniscayaan dan menjadi tantangan sekaligus peluang kita ke depan,” kata Timboel.

Pada titik inilah dibutuhkan peran aktif pemerintah dalam memetakan Angkatan kerja di tanah air. Pemerintah harus jorjoran di sisi pelatihan, dengan melihat arah investasi dan SDM seperti apa yang akan dipakai ke depan. Kalau yang dipakai robot humanoid, apa yang harus di-skill up? Apa yang harus di-reskilling? Apa yang harus diciptakan baru? Sementara di saat yang bersamaan, sebanyak 53% SDM Indonesia cuma lulusan SMP.

“Kita harus jauh memikirkan itu sekarang. Bagaimana dengan kurikulum perguruan tinggi? Katanya sekarang ada satu juta sarjana yang menganggur, artinya link and match-nya kurang. Sepertinya kita tidak bisa menyelesaikan ini, padahal menurut saya Vietnam bisa, dan negara lain bisa. Akibatnya investor lebih banyak mengarah ke sana karena SDM-nya sudah tersedia,” katanya.

Keadaan saat ini, menurut Timboel jauh berbeda dengan tahun 80-an, 90-an, dan 2000-an, ketika investor datang dan biasanya membuat pelatihan terlebih dulu kepada calon tenaga kerja. Sekarang karakteristik investor sudah berubah, mereka datang membawa dana dan ingin langsung running. Mereka tidak mau membuat pelatihan-pelatihan lagi.

“Karena itu pemerintah, harus memastikan SDM kita tersedia. Yang dibutuhkan adalah keseriusan mengalokasikan anggaran dan benar-benar mengetahui kebutuhan SDM tahun depan, 5 sampai 10 tahun ke depan. Jangan sampai kita tidak punya informasi. Kalau tidak punya informasi, kita melatih A padahal yang dibutuhkan B, dan itu fatal,” ungkapnya.

Menurut Timboel, AI tidak bisa dilawan dengan terus mengatakan ‘kita harus padat karya’. Arahnya harus jelas, pemerintah harus merancang kebutuhan ke depan seperti apa, dari masukan internasional dan dari investor yang masuk, perlu dirancang apa yang dibutuhkan di Indonesia dalam tahun-tahun depan, lima tahun lagi, dan sepuluh tahun lagi.

Pemerintah harus menyediakannya. Termasuk menyambungkannya dengan kurikulum SMA, atau paling tidak perguruan tinggi.

Saat ditanya apakah pemerintah saat ini sudah on the track mempersiapkan SDM Indonesia untuk menjawab tantangan zaman, Timboel menjawab belum. Menurutnya, pemerintah seharusnya menciptakan SDM unggul yang memenuhi kebutuhan dunia usaha dan industri.

Jangan hanya melakukan pelatihan-pelatihan biasa, menyebar anggaran yang penting data orang yang dilatih meningkat. Pertumbuhan ekonomi dari konsumsi masyarakat harus berasal dari pendapatan riil, yaitu upah sebagai pekerja formal, bukan pendapatan dari berdagang, misalnya. Jangan sampai masyarakat yang sudah susah ini dipaksa terus-terusan mencari jalan keluarnya sendiri.

 

 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6