Pemicu Udara Masih Terasa Kering Meski Puncak Kemarau Sudah Lewat

Musim penghujan juga dipastikan mundur.

Diterbitkan 01 Oktober 2026, 21:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Udara kering masih terasa akibat El Nino kuat, meski puncak kemarau telah lewat.
  • BMKG memprediksi musim hujan akan mundur karena kemarau lebih panjang dari biasanya.
  • Pendinginan wilayah Indonesia mengurangi uap air dan pertumbuhan awan.

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyampaikan perkembangan terbaru kondisi cuaca di Indonesia. Direktur Layanan Iklim Terapan BMGK, Marjuki, menjelaskan penyebab udara di sejumlah wilayah masih terasa sangat kering meski puncak kemarau sudah lewat.

Menurutnya, kondisi tersebut karena indikator El Nino saat ini sudah memasuki fase sangat kuat. Meski puncak kemarau telah terjadi di bulan Agustus-September, efek yang terasa membuat kemarau lebih kering dari biasanya.

“Meski puncaknya sudah lewat, kita masih menghadapi fase kemaraunya hingga saat ini, jika berdasarkan prediksi kami itu akan berakhir umumnya pada bulan Oktober dan November,” ujar Marjuki dalam Konferensi Pers di Gedung Kemenko Polkam, Kamis (30/10/2026).

 

Musim Hujan Mundur

Dalam kesempatan yang sana, BMKG memastikan musim penghujan akan mundur dari fase pada umumnya.

“Jadi kalau berdasarkan data prediksi BMKG, kita melihat kemarau lebih panjang dari biasanya ini tentunya akan menggeser awal musim hujan kita menjadi mundur,” kata Marjuki.

Menurut Marjuki, peristiwa ini karena fenomena musim kemarau dan El Nino terjadi bersamaan yang menyebabkan wilayah-wilayah di Indonesia mengalami pendinginan sejak Maret lalu.

“Dikarenakan Indonesia mengalami pendinginan, ini menyebabkan suhu muka laut jadi lebih sedikit sehingga pertumbuhan awan maupun potensi uap air cenderung kurang,” ujar Marjuki.

Marjuki mengungkapkan rata-rata zona musim yang mundur di wilayah Indonesia mencakup sebanyak 529 zona musim dengan 61,08 persen luasan daratan.

“Nah, sisanya yang 26 zona musim itu akan sama dengan normalnya, dan ada juga yang maju ya 11 zona musim,” kata Marjuki.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6