Indonesia dan Inggris Perkuat Kerja Sama Konservasi Alam

Indonesia dan Inggris memperkuat kerja sama konservasi alam, keanekaragaman hayati, dan pembiayaan berkelanjutan untuk pengelolaan kawasan lindung.

Diterbitkan 25 Juni 2026, 22:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Indonesia dan Inggris perkuat kerja sama konservasi alam dan pembiayaan berkelanjutan.
  • Kerja sama fokus pada Satgas Konservasi Bentang Alam dan Spesies Ikonik.
  • Indonesia kembangkan pembiayaan inovatif untuk menutup kesenjangan dana konservasi.

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Inggris menindaklanjuti penguatan kerja sama di bidang konservasi alam, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pembiayaan berkelanjutan bagi kawasan lindung.

Penguatan kerja sama tersebut diwujudkan melalui pertemuan bilateral antara Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dan Perwakilan Khusus Inggris untuk Bidang Alam, Ruth Davis, di sela rangkaian London Climate Action Week yang berlangsung di London, Inggris, pada awal pekan ini.

Menurut Raja Juli Antoni, kedua negara meninjau perkembangan inplementasi Satuan Tugas Konservasi Bentang Alam dan Spesies Ikonik yang dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026

"Kedua pihak membahas perkembangan implementasi Satuan Tugas Konservasi Bentang Alam dan Spesies Ikonik yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026," ujar Raja Juli melansir Antara, Kamis (25/6/2026).

Dia menjelaskan, satgas tersebut memiliki mandat untuk memperkuat konservasi, memobilisasi pembiayaan inovatif, mendukung pencapaian target FOLU Net Sink 2030, serta membangun model pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan.

 

 

Apresiasi Dukungan Pemerintah Inggris

Raja Juli juga mengapresiasi dukungan pemerintah Inggris terhadap agenda konservasi Indonesia, termasuk dukungan awal sebesar 2 juta poundsterling yang telah diumumkan pada April lalu.

"Indonesia telah memiliki landasan hukum yang kuat serta dukungan politik pada tingkat tertinggi untuk memperkuat konservasi alam. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan mandat tersebut menjadi reformasi kebijakan, proyek percontohan yang dapat direplikasi, dan hasil konservasi yang terukur bagi masyarakat maupun lingkungan," ucap dia.

Raja Juli menegaskan, pengembangan pembiayaan inovatif untuk konservasi adalah pelengkap pembiayaan pemerintah dan bukan bentuk privatisasi taman nasional.

"Seluruh pendekatan yang dikembangkan akan tetap menjunjung tinggi prinsip transparansi, akuntabilitas, integritas ekologis, serta manfaat yang adil dan inklusif bagi masyarakat sekitar kawasan," papar dia.

 

 

Tukar Pandangan

Dalam kesempatan tersebut, kedua pihak juga bertukar pandangan mengenai pengembangan Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) sebagai salah satu model konservasi bentang alam yang mengintegrasikan perlindungan spesies kunci, penguatan ekonomi masyarakat, serta mobilisasi investasi jangka panjang untuk konservasi.

Raja Juli juga menyampaikan, Indonesia saat ini memiliki 57 taman nasional dengan luas hampir 18 juta hektare yang menjadi rumah bagi berbagai spesies ikonik dunia dan ekosistem penting.

"Pemerintah Indonesia tengah mengembangkan pendekatan pembiayaan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kawasan, termasuk melalui skema blended finance, filantropi, dan pembiayaan publik, guna menutup kesenjangan pendanaan konservasi yang masih cukup besar," kata dia.

Selain itu, Raja Juli mengatakan, pertemuan bilateral ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi tantangan global terkait hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.

"Indonesia dan Inggris sepakat untuk terus memperkuat dialog serta menjajaki berbagai peluang kerja sama konkret guna mendukung pengelolaan kawasan lindung yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan," tandas dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6