Mereka Tak Pernah Sampai ke Rumah

Sebuah bus sarat penumpang bertabrakan dengan truk kontainer di kawasan Banyu Blugur, Situbondo, Jatim. Puluhan penumpang tewas. Sopir dan kernet truk kontainer dijadikan tersangka.

Diterbitkan 13 Oktober 2003, 21:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Situbondo: Situbondo, Rabu malam, 8 Oktober 2003. Tiga bus AO Transport beriringan. Melaju cepat menembus kegelapan malam. Di sebuah tikungan di Jalan Raya Surabaya-Banyuwangi, tepatnya di kawasan Banyu Blugur, Situbondo, Jawa Timur, tiba-tiba sebuah truk kontainer memotong jalur dari arah berlawanan. Dua bus lolos. Satu bus lainnya apes. Bus pengangkut 54 siswa dan seorang guru pendamping itu dihajar truk trailer. Sejurus kemudian, giliran truk tronton menghantam bus dari belakang.

Buum! Bagian depan bus mulai terbakar. Puluhan penumpang panik. Di tengah kepulan asap mereka berlarian ke belakang bus seraya menjerit minta tolong. Sial, pintu belakang tak bisa dibuka. Padahal api terus berkobar. Sekejap, bus hangus terbakar. Seluruh penumpang pun terpanggang, meregang nyawa. Bus nahas itu membawa 54 siswa kelas dua Sekolah Menengah Kejuruan Yayasan Pembina Generasi Muda (Yapemda) I Sleman, Yogyakarta. Mereka tengah dalam perjalanan pulang sehabis studi banding dan wisata di Bali [baca: Kecelakaan Bus, Puluhan Pelajar SMU Tewas].

Berita tewasnya puluhan siswa dan seorang guru pendamping ini tentu saja mengejutkan keluarga korban. Tak terkecuali keluarga Sapto Pamungkas, salah seorang korban. Sulikah, ibunda Sapto, tak pernah membayangkan anak tercintanya mati mengenaskan. Sebelum berangkat ke Bali, Sulikah menuturkan, Sapto sempat berpamitan. Dia sudah berfirasat buruk. Kerena itu perempuan ini sempat melarang anaknya pergi. Tapi Sapto tetap ngotot pergi. "Dia [Sapto] bilang, ibu tak usah khawatir, Kamis aku sudah kembali kok," kenang Sulikah.

Sulikah mulai resah saat Sapto tak bisa dihubungi lewat telepon selularnya pada malam kejadian, sekitar pukul 08.00 WIB. Keresahan berakhir ketika Sulikah menyaksikan berita kecelakaan lalu-lintas di televisi. Nama anaknya tertera di urutan ke-31 dalam daftar korban tewas.

Nasib serupa dialami Sariyem. Ia pun tak menyangka bakal kehilangan seorang dari empat anaknya, Riyani, secepat ini. Bahkan dia sempat tak sadarkan diri ketika mendengar kabar duka tersebut. Sarijo, suami Sariyem bahkan tak mampu berkata-kata. Hanya diam. Untungnya Riyanti, saudara kembar Riyani, selamat dalam musibah itu karena berada dalam bus yang berbeda. Menurut Riyanti, sejak berangkat mereka selalu satu bus. Namun, entah kenapa saat pulang, Riyani memohon Riyanti naik bus lain.

Kehilangan juga dirasakan teman-teman korban, baik yang ikut maupun tidak dalam kegiatan tahunan itu. Mereka sedih. Tak percaya musibah menimpa rekan-rekan mereka dari kelas dua jurusan akuntansi dan penjualan. Murid kelas itu kini tinggal sembilan orang [baca: Duka Masih Bergelayut di SMK I Yapemda].

Palupi dan Venda, siswa yang naik bus pertama sama sekali tak membayangkan seluruh penumpang bus dua kembali ke Sleman, tanpa nyawa. Keduanya baru mengetahui rekan-rekannya tewas setelah tiba di Sleman. "Pas datang, kok banyak reporter. Aku nggak sadar kalau ada kecelakaan," kata Palupi.

Lain kata Endang. Siswa yang juga selamat ini menuturkan, sebenarnya bus ketigalah yang bermasalah. Sering apes. Kaca bus yang pecahlah. Tersangkut kabel listriklah. Pokoknya ada saja, kata Endang. Bahkan, setelah menyeberangi Selat Bali, kaca bus pecah untuk kedua kalinya.

Duka juga menggelayuti Sri Hayati, istri Zubaidi--guru pendamping yang menjadi korban. Pada malam kejadian, Sri baru saja hendak tidur saat sorang kerabatnya datang dan memberitahu adanya kecelakaan dari tayangan sebuah televisi swasta. Sri kemudian menyuruh anak keduanya Abid mencari tahu lebih jauh kecelakaan yang terjadi di Situbondo. Kecemasan Sri pun berubah tangis saat Abid membawa berita bahwa Zubaidi termasuk dalam daftar korban tewas.

Hingga kini, polisi terus mengembangkan penyidikan. Diduga kebakaran berasal dari tangki bahan bakar truk trailer bernomor polisi L 8493 F yang pecah dan terperciki api sekring listrik bus. Sedangkan penumpang bus tak bisa keluar karena pintu belakang bus tidak memiliki pegangan baik dari luar maupun dalam.

Sopir bus Arwan selamat setelah melompat dari bus. Pun demikian dengan kernet Budi Santoso, meski sekujur tubuhnya terbakar. Kondisinya kini masih kritis. Begitu pula sopir truk trailer Kozin dan kernetnya Imam Syafii. Kini keduanya dijadikan tersangka peristiwa memilukan tersebut. Mereka diancam Pasal 359 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang Kelalaian yang Menyebabkan Orang Lain Meninggal Dunia.

Kepada polisi, Kozin mengaku tertidur saat kejadian. Sedangkan truk dikemudikan Imam. Karena itu, Kozin mengaku tak tahu menahu asal kejadian itu. Imam awalnya mengamini keterangan Kozin. Bahkan, dia mengaku baru pertama kali mengemudikan truk di jalan raya [baca: Sopir-Kernet Truk Penabrak Bus Transport Menyerahkan Diri]. Namun belakangan Imam membantah keterangannya sendiri.

Polisi juga menetapkan Arwan sebagai tersangka karena dinilai tidak maksimal menolong penumpang. Selain faktor kesalahan manusia, daerah Banyu Blugur memang dikenal sebagai kawasan rawan kecelakaan. Jalan di kawasan ini berbelok-belok dan naik turun. Sedangkan penerangan lampu di kawasan ini minim.(ZAQ/Hendy Bernadi dan Irfan Effendi)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6