Kualitas Makan Bergizi Gratis Dimulai dari Tata Kelola Rantai Pangan Terintegrasi

Menjaga kualitas gizi, serta mewujudkan sistem pangan yang resilien menjadi kunci.

Diterbitkan 01 Mei 2026, 11:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Program MBG sukses butuh logistik tangguh, higienis, dan berkelanjutan, bukan hanya penyajian.
  • Cold chain logistics dan gudang pangan krusial untuk kualitas gizi dan kurangi food loss.
  • MBG Command Center dan infrastruktur fisik dukung logistik transparan, berdayakan ekonomi lokal.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), Abdul Rivai Ras, menyatakan keberhasilan program MBG tidak cukup hanya pada penyajian makanannya saja, melainkan dibangun di atas fondasi logistik yang tangguh, higienis, dan berbasis prinsip keberlanjutan.

“Kita tidak boleh hanya mengandalkan pendekatan konvensional. Kita perlu menerapkan konsep food supply chain management yang terintegrasi, di mana cold chain logistics menjadi elemen krusial untuk meminimalkan food loss,” kata Abdul, Jumat (1/5/2027).

Abdul menyebut, menjaga kualitas gizi, serta mewujudkan sistem pangan yang resilien menjadi kunci. Menurut dia, penguatan infrastruktur ini sejalan dengan pemikiran teoritis ketahanan pangan modern menekankan keamanan pangan (food security) bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga aksesibilitas, stabilitas pasokan, dan pemanfaatan nutrisi yang optimal.

“Kami memprioritaskan pembangunan gudang pangan dan cold storage di wilayah-wilayah sentra produksi bahan pangan utama, seperti sentra perikanan, hortikultura, dan pertanian. Tujuannya adalah menjaga kesegaran bahan baku, terutama produk mudah rusak seperti ikan segar, sayuran, dan buah — sebelum diolah di ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG,” ungkap Abdul.

Abdul meyakini, fasilitas cold storage ini akan menerapkan cold chain logistics yang terkontrol suhu, sehinggadapat memperpanjang masa simpan bahan pangan, mengurangi post-harvest loss yang di Indonesia masih cukup tinggi, serta menjamin standar keamanan pangan dan mutu gizi yang konsisten dari hulu hingga hilir (farm-to-table atau ocean-to-table).

 

MBG Command and Control Center

Selain infrastruktur fisik, Abdul mengatakan, APPMBGI juga mengembangkan MBG Command and Control Center. Dia memastikan, pusat kendali ini akan berfungsi sebagai sistem monitoring real-time yang mengintegrasikan data stok gudang, distribusi bahan baku, kualitas, serta supervisi operasional dapur di seluruh Indonesia.

“Dengan pendekatan ini, APPMBGI ingin membangun sistem logistik yang transparan, responsif, dan berbasis data, yang merupakan elemen penting dalam manajemen rantai pasokpangan berkelanjutan di era industri 4.0,” jelas dia.

Abdul percaya, dengan infrastruktur yang kuat, Indonesia dapat memaksimalkan penyerapan produk lokal, memberdayakan petani dan nelayan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahanpangan tertentu.

“Ini adalah wujud nyata bagaimana program MBG dapat menjadi mesinpenggerak pertumbuhan ekonomi inklusif sekaligus instrumen ketahanan pangan nasional,” Abdul menandasi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6