Cuaca Hari Ini Rabu 22 April 2026: Cerah Berawan Pagi, Jabodetabek Malam Diguyur Hujan

Cuaca hari ini pada Rabu (22/4/2026), Jabodetabek cerah berawan hingga berawan pada pagi hingga siang hari, lalu berpotensi hujan ringan merata pada malam hari.

Diterbitkan 22 April 2026, 06:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wilayah Jakarta dan sekitarnya diperkirakan akan mengalami cuaca cerah berawan hingga berawan pada pagi hingga siang hari, dengan potensi hujan ringan pada malam hari pada Rabu (22/4/2026). Demikian prakiraan cuaca hari ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, pada pagi hari sebagian besar wilayah Jakarta seperti Jakarta Barat, Pusat, Timur, dan Utara diprediksi cerah berawan, sementara Jakarta Selatan berawan. Memasuki siang hari, kondisi cuaca umumnya berawan hingga cerah berawan.

Pada malam hari, hujan ringan diperkirakan turun merata di seluruh wilayah Jakarta, mulai dari Jakarta Barat, Pusat, Selatan, Timur, hingga Jakarta Utara.

Untuk wilayah Kepulauan Seribu, cuaca diprakirakan berawan tebal pada pagi hari, kemudian cerah berawan pada siang hari, dan kembali berawan tebal pada malam hari.

Sementara itu, wilayah penyangga Jakarta seperti Bekasi dan Depok diprediksi cerah berawan pada pagi hari, lalu berawan tebal pada siang hari, dan hujan ringan pada malam hari. Di Kota Bogor, cuaca cerah berawan pada pagi hari, kemudian hujan ringan pada siang hingga malam hari.

Adapun di Tangerang, Banten, cuaca diperkirakan cerah berawan pada pagi hari, lalu berawan pada siang hari, dan hujan ringan pada malam hari.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan ringan pada malam hari yang dapat memengaruhi aktivitas luar ruangan, wserta menyesuaikan aktivitas harian dengan kondisi cuaca yang berlaku.

Berikut informasi cuaca Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) selengkapnya dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG www.bmkg.co.id:

 Kota  Pagi  Siang   Malam 
 Jakarta Barat  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Hujan Ringan
 Jakarta Pusat   Cerah Berawan  Berawan   Hujan Ringan 
 Jakarta Selatan  Berawan  Berawan   Hujan Ringan 
 Jakarta Timur   Cerah Berawan   Berawan  Hujan Ringan 
 Jakarta Utara   Cerah Berawan  Berawan  Hujan Ringan 
 Kepulauan Seribu   Berawan Tebal  Cerah Berawan   Berawan Tebal 
 Bekasi   Cerah  Berawan  Berawan Tebal  Hujan Ringan 
 Depok   Cerah Berawan   Berawan Tebal  Hujan Ringan 
 Kota Bogor   Cerah Berawan  Hujan Ringan  Hujan Ringan 
 Tangerang  Cerah Berawan   Berawan   Hujan Ringan 

El Nino Godzilla, Apa Virus Campak Bisa Bertahan di Cuaca Panas?

Sebelumnya, fenomena El Nino yang diperkirakan melanda Indonesia pada April hingga Oktober 2026. El Nino pada tahun ini disebut-sebut menyebabkan musim kemarau lebih panas, kering, dan ekstrem sehingga disebut El Nino Godzilla.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan: apakah kondisi cuaca panas ekstrem bisa memengaruhi daya hidup virus penyebab campak?

Terkait hal ini, dokter spesialis anak, Elsye Souvriyanti, menjelaskan bahwa virus penyebab campak masuk dalam kelompok Paramyxovirus yang tidak memiliki daya tahan tinggi.

"Organisme ini tidak memiliki daya tahan yang tinggi sebetulnya, jadi kalau di luar tubuh di suhu kamar dia tiga sampai lima hari itu daya infektivitasnya, daya untuk membuat infeksinya akan turun menjadi 60 persen," kata Elsye kepada Health Liputan6.com dalam diskusi daring bersama Rumah Sakit YARSI, Senin 20 April 2026.

Virus penyebab campak memiliki karakter mudah dihancurkan oleh sinar ultraviolet karena tidak tahan terhadap panas.

"Makanya perlu kalau ada pengidap campak di rumah, ditempatkan di kamar isolasi yang sinar mataharinya bisa masuk ke dalam kamar, supaya virus-virus yang keluar itu bisa mati," tambahnya.

Campak Turun tapi Potensi Dengue Meningkat

Sebaliknya, dalam kondisi dingin, virus ini bisa bertahan dalam waktu lama.

Kemampuan virus campak untuk menginfeksi turun di cuaca panas ekstrem, tapi muncul potensi penyakit lain. Kehadiran El Nino Godzilla membuat Indonesia mengalami peningkatan suhu 1,5 hingga 2 derajat Celsius.

Kondisi ini menyebabkan berkurangnya proses rain washing, sehingga polutan udara tidak tersapu hujan dan cenderung terakumulasi akibat udara stagnan, lapisan inversi, serta angin lemah, bahkan diperparah risiko kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap seperti disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman.

Lalu, peningkatan suhu dan perubahan lingkungan juga dapat memicu penyakit tular vektor seperti dengue dan malaria akibat genangan air sebagai tempat berkembang biak nyamuk.

"Serta memperburuk kualitas air dan sanitasi yang berpotensi meningkatkan kasus diare, tifoid, kolera, dan leptospirosis," kata Aji dalam pesan tertulis beberapa waktu lalu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6