Indonesia Beli Rudal Supersonik BrahMos Buatan India-Rusia, Nilainya Ditaksir Triliunan

Indonesia menandatangani perjanjian dengan India untuk pengadaan sistem rudal BrahMos.

Diterbitkan 13 Maret 2026, 11:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Indonesia sepakati pengadaan rudal BrahMos untuk modernisasi militer.
  • Pembelian ini perkuat pertahanan maritim dan kemampuan pencegahan nasional.
  • BrahMos perusahaan patungan India-Rusia; Filipina pembeli luar negeri pertama.

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menandatangani perjanjian dengan India untuk pengadaan sistem rudal BrahMos. BrahMos merupakan perusahaan yang dimiliki bersama oleh pemerintah India dan Rusia.

Dikutip dari Channelnewsasia, Pihak BrahMos sedang dalam diskusi lanjutan dengan Jakarta mengenai kesepakatan senilai US$200 juta hingga US$350 juta.

"Bagian dari modernisasi perangkat keras militer dan kemampuan pertahanan, khususnya di sektor maritim," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rico Ricardo Sirait seperti dikutip dari Reuters, Jumat (13/3/2026).

Dia menambahkan bahwa pengadaan tersebut semakin memperkuat kemitraan strategis india dan India di bidang pertahanan, lapor outlet berita lokal Jakarta Globe. Sistem baru ini juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pencegahan dalam menjaga kedaulatan nasional.

Rico menolak untuk mengkonfirmasi nilai total perjanjian tersebut, ketika ditanya apakah total harga rudal tersebut tetap sebesar US$450 juta, yang dilaporkan oleh South China Morning post pada bulan Desember tahun lalu.

Filipina Pembeli Pertama BrahMos

Selain itu, BrahMos mencapai kesepakatan luar negeri pertamanya dengan Filipina, tetangga Indonesia di Asia Tenggara pada tahun 2022.

Perusahaan ini merupakan perusahaan patungan India-Rusia yang berkantor pusat di New Delhi. Sistem misilnya hadir dalam versi berbasis darat, udara, berbasis kapal, dan berbasis kapal selam.

Manila telah memesan sistem rudal anti-kapal berbasis pantai BrahMos dengan harga hampir US$375 juta pada tahun 2022, menurut Jakarta Globe. BrahMos dan Kementerian Pertahanan India tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6